Resiko Bahaya, Saat Liputan Seorang Wartawan

 Opini, Umum

SuaraBorneo.com – Kekerasan terhadap jurnalis masih menjadi ancaman besar bagi wartawan dalam menjalankan profesinya. Kekerasan itu dipicu oleh berbagai hal dan alasan, juga bisa dipicu ketika wartawan yang meliput berada di lokasi pelanggaran hukum. Tak jarang wartawan menjadi sasaran kemarahan oleh pihak yang kepentingannya terusik dan merasa dirugikan, apalagi di tempat tinggal kita sendiri kadang ngak enak hati, bila terjadi penangkapan atau penggerabekan oleh aparat kepolisian, dikira kita sendiri sebagai spionnya aparat kepolisian, padahal cuma meliput untuk pemberitaan., disaat unjuk rasa atau demo apabila ada yang memprovakasi kerusuhan diwaktu peliputan.

Tercatat dalam kurun 10 tahun terakhir sebanyak 602 kasus kekerasan terjadi di Indonesia. Pada 2016 lalu sebanyak 38 kasus dan meningkat menjadi 54 kasus hingga Mei 2017. Kasus kekerasan terhadap wartawan banyak terjadi di Jakarta, Jawa Timur, Surabaya, Gorontalo, dan wilayah lainnya di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan kota-kota lainnya di Indonesia.

Seperti yang terjadi di Timika Papua, seorang wartawan diculik dan dipukuli sejumlah anggota Kepolisian, dipicu kritiknya atas cara polisi mengamankan keributan yang terjadi di arena pasar malam di daerah tersebut, di Subang mengintimidasi wartawan media online, di picu pemberitaan oknum pemborong nakal dalam merehabilitas pembangunan ruang kelas Sekolah Dasar.

Kekerasan terhadap jurnalis juga bisa dipicu karena kapasitas wartawan yang tidak menjalankan kode etik jurnalistik. Pemberitaan yang ditulis sarat dengan fitnah, berita bohong, atau tidak berimbang. Advokasi harus ada dan sangat penting agar ada kepastian hukum untuk memberikan perlindungan terhadap korban. (M.Ad/Mo)

Related Posts

Tinggalkan Balasan