Hukuman Mati Bagi Koruptor di China, Indonesia Aman Saja

 Internasional

Untitled-3

SuaraBorneo.com – Pekan ini, muncul laporan dilansir Kantor Berita Xinhua bahwa terdapat peningkatan tren tersangka kasus korupsi di China memilih bunuh diri. Tindakan nekat itu dilakukan, setelah nama mereka muncul di media massa. Maling uang negara tersebut ketakutan bila sampai dicokok polisi dan mati di hadapan regu tembak. Motifnya selain malu, adalah melindungi keluarga mereka supaya tidak ikut dihukum kalau sampai kasusnya dibuka lebar.

Bagaimana dengan di Indonesia, kasus korupsi selalu alot dalam persidangan, berlanjut ke praperadilan memakan waktu yang lama, bagaimana bisa jera para pejabat, sebagai wakil rakyat, kian waktu bertambah terus, dari korupsi sampai OTT, dengan mudahnya memakan uang rakyatnya sendiri.

Pada 2013, total tercatat 23 kematian tidak lazim dialami pejabat China baik di pusat maupun daerah. Semuanya adalah pejabat eselon tinggi maupun pegawai rendahan yang terjerat korupsi. Sedangkan sejak awal tahun hingga Juli lalu, sudah ada enam pejabat China lainnya bunuh diri.

Sejak kepemimpinan Presiden Deng Xiaoping pada akhir 1980-an, Negeri Tirai Bambu berbenah. Akuntabilitas penggunaan uang negara diperketat, kendati korupsi masih menggila.

Pencurian uang negara benar-benar mewabah saat negara itu membuka diri pada ekonomi pasar memasuki abad 21. Banyak investasi asing masuk, ekonomi konstan tumbuh 9 persen, sehingga muncul orang kaya baru (OKB) baik dari swasta maupun pejabat berlatar anggota Partai Komunis China.

Wujudnya mulai dari proyek fiktif, sogok menyogok, sampai alih nama aset negara jadi aset pribadi. Komplet korupnya, dari Ibu Kota Beijing sampai pedesaan di Sichuan. Mau tahu seberapa parah korupsi di Negeri berpenduduk terbanyak dunia itu?

Laporan Badan Pemeriksa Keuangan China pada 2006 menunjukkan di tahun anggaran sebelumnya, ada 114 kasus penggunaan dana tidak jelas. Praktik lancung tersebut menjerat 26 kementerian, dengan perkiraan kerugian negara sebesal USD 510 juta (setara Rp 6,18 triliun). Itu baru yang diungkap ke publik.

Sejak dilantik pada 14 Maret 2013, Presiden China Xi Jinping mengobarkan perang melawan korupsi. Dia bersumpah membenahi birokrasi supaya tidak ada lagi kebocoran anggaran akibat dicuri abdi negara bermoral bejat.

Sebelum Jinping berkuasa, pemberantasan korupsi marak tapi kurang mengerikan buat koruptor kakap. Dulu, pejabat yang juga anggota Partai Komunis China bisa memanfaatkan koneksi politik untuk menghindari bui.

Tapi Presiden ke-7 China itu punya strategi lebih canggih dibanding para pendahulunya dalam memberantas korupsi. Tahu hukuman mati tak akan efektif bila hanya menimpa pelaku rendahan, dia menargetkan pejabat tinggi dulu yang kena vonis paling berat. Khususnya menteri dan pejabat tinggi sekelas direktur jenderal.

Sang presiden punya ungkapan terkenal soal strateginya dalam pemberantasan korupsi. “Saya mengincar macan, baru berikutnya lalat.”

Tak sampai 12 bulan, hasilnya kelihatan dengan maraknya kasus bunuh diri tersangka korupsi. Di era pemerintahan baru ini, petinggi partai pun tak bisa mengelak dari tiang gantungan. Alhasil pejabat menengah dan pegawai kroco yang korup resah. (Ad/Sd)

Related Posts

Tinggalkan Balasan