Kids Zaman Now, Miris Dua Anak Kabur dari Rumah di Banjarmasin

image

Suaraborneo.com, BANJARMASIN – Kasus anak yang lari dari rumah belakangan ini marak terjadi. Apa yang melatarbelakangi mereka berani mengambil risiko memutuskan untuk tidak seatap dengan orangtua, Kamis (14/12).

Dua orang anak di Banjarmasin dalam beberapa hari ini, kabur dari rumah, anak pertama setelah menulis pesan kepada orang tuanya, “Meminta maaf kepada orang tuanya, memberitahukan kendaraan di bawa, mencari ketenangan, sambil mandiri, mohon do’anya semoga sukses’” katanya, sambil  membawa kendaraan roda dua jenis metic Honda Scopi hitam DA 6403 BAU arah ke dalam kota, terakhir di lihat kakaknya sendiri menggunakan baju hitam, atas nama M. Sapuan (15) beralamat di jalan A. Yani Km 7.300 Kertak Hanyar gang Sari Rezeki RT/RW. 02/01 Banjarmasin. Pihak keluarga meminta kiranya apa bila bertemu harap minta berhentikan atau tahan dan menghubungi pihak keluarganya.  Berhubung yang membawa kabur masih anak-anak dan pihak keluarga meminta agar di perlukan sebagaimana mestinya, dengan bujuk rayu, sembari pihak keluarga nanti menjemput anak tersebut ke nomor Yuni: 085294939517.

Anak kedua bernama Jaya (14), mulai tanggal 12 Desember 2017 pada pukul 13.00 Wita kemarin, pihak keluarga mencari ke sekolahan tidak ada, informasi yang di dapat kabur bersama teman sekelasnya, di tanya sama temannya biasa main di jalan Kuin Banjarmasin  tidak mengetahui, anak tersebut juga meninggalkan sepucuk surat, di taruh dalam tas adiknya sendiri, mengatakan, “bahwa mau bekerja di Kalteng”, katanya, pihak keluarga juga memohon apabila mengetahui keberadaan anak tersebut, bisa menghubungi ke nomor  085350508899 Yayan.

Aktivis Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Seto Mulyadi, mengatakan bahwa anak lari dari rumah adalah kesalahan orang tua. Menurutnya jika memarahi anak terlalu sering akan menyebabkan anak lari dari rumah.

“Di sini tiap bulan ada satu atau dua orang anak kabur ke sini karena tak kuat sering di marahi orang tuanya, harus sabar jangan terlalu terbawa emosi” ujar Seto.

Psikolog Reza Indragiri Amriel mengungkapkan, ada empat faktor yang bisa menyebabkan kemungkinan anak lari dari rumah.

Kondisi rumah tangga, jelas Reza, menjadi pemicu utama anak merasa tidak betah di rumah. “Pertama, kondisi rumah tangga sangat ‘dingin’ sehingga anak-anak keluar dan mencari sendiri ‘kehangatan.”

Kedua, sambung Reza, rumah tangga yang selalu di warnai konflik juga menjadi penyebab anak selalu berusaha mengurangi waktunya di rumah.

“Ketiga, anak menginginkan fantasi atau imajinasi kebahagian yang bisa didapat di luar rumah. Padahal di luar, kehidupan yang dialami tidak mudah.”

Terakhir, anak kabur dari rumah karena alasan ekonomi.

Menurut Reza, orangtua cenderung menutup mata dengan permasalahan yang dihadapi anak dan baru menyadari setelah sang anak hilang rimbanya.

Karena itu untuk mengantisipasi, orangtua harus melakukan pendekatan dari hati ke hati. “Perlu interaksi orangtua dan anak ditingkatkan. Butuh keterampilan untuk mengatasi stres terhadap anak. Kehangatan keluarga perlu ditingkatkan. Selain itu perlu pendekatan agama atau memberikan pemahaman agama dan sabar menghadapinya tanpa kekerasan,” bebernya. (Ad-Bjm/IEB/A-FB)

 

Check Also

Kejari Pangkep Sulsel, KPPN dan KBB Sulteng Apresiasi Aksi Relawan Kalimantan Peduli Bertugas di Sulteng

PALU, SuaraBorneo.com – Kejari Pangkep Sulawesi Selatan M Firmansyah Subhan SH.,MH apresiasi relawan Kalimantan Peduli …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.