KAMMI: Paman Birin Mana Suaramu? Aksi Mahasiswa ‘Save Meratus’

image

Suaraborneo.com, BANJARBARU – Puluhan mahasiswa tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), melakukan demo sebagai kepedulian kepada masyarakat HST dampak dari eksplotasi batubara yang sangat merugikan masyarakat sekitar, Senin (15/1), dimulai dari lapangan Murdjani, Balai Kota dan kantor Pemprov Kalsel jalan Trikora Banjarbaru.

M Alfiansyah sebagai korlap menyampaikan maklumat kepada Pemerintah Provinsi Kalsel, tanpa ditemui Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor panggilan akrab Paman Birin, mereka tetap melakukan orasi, mengenai, pemukiman 51,60 hektare, sawah 147,40 hektare, sungai 63,12 hektare dari total luas izin tambang PKP2B, bersama PT Antang Gunung Meratus di Kabupaten HST.

Kabupaten HST merupakan satu diantara sekian banyaknya daerah di Kalimantan Selatan yang memiliki segala macam potensi sumber daya alam yang begitu melimpah dan masih sangat terjaga keutuhan serta keaslian alamnya. Sehingga eksploitasi sumber daya alam dapat mengancam kelangsungan lingkungan hidup yang baik.

Melakukan eksploitasi terhadap sumber daya alam tentu merupakan hal yang sah dalam peraturan perundang-undangan kita saat ini hanya saja, asalkan tidak menimbulkan permasalahan yang merugikan masyarakat.

Pekerjaan masyarakat yang bersentuhan dengan alam membuat masyarakat sangat tergantung kepada pencaharian yang berinteraksi langsung dengan alam seperti bertani, berkebun, perikanan dan sebagainya.

Selain itu dampak yang akan ditimbulkan terhadap pertambangan adalah banjir yang lebih parah karena daerah resapan air akan berkurang, dan tidak menutup kemungkinan akan membuat daerah yang lebih rendah tenggelam.

Sungguh ironis dibalik ini semua, padahal Pemda HST juga telah berkomitmen untuk menolak adanya pertambangan di daerah ini. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya Surat dari Bupati HST No. 800/288/DLHP/2017 tentang penolakan pertambangan di HST.

1) Menuntut Menteri ESDM mencabut keputusan No. 44.K/30/DJB/2017 tentang Penyesuaian Tahap Kegiatan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) PT MCM menjadi tahap kegiatan operasi dan produksi yang dikeluarkan pada 4 Desember 2017.

2) Mendukung Pemerintah Daerah Kabupaten HST tetap konsisten untuk Menolak Pertambangan di daerahnya sesuai Surat dari Bupati HST No. 800/288/DLHP/2017

3) Menuntut Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk mengusulkan dan mendesak pencabutan Keputusan Menteri ESDM No. 441.K.30/DJB/2017 tentang Penyesuaian Tahap Kegiatan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) PT MCM menjadi tahap kegiatan operasi dan produksi yang dikeluarkan pada 4 Desember 2017.

Orasi yang disampaikan oleh para mahasiswa, “Panjang umur pergerakan panjang umur perjuangan, hidup mahasiswa,” tegasnya. (Ad/Aha/KAMMI)

Check Also

Kronologi Terbongkarnya Tempat Pembuat Ekstasi Jenis Baru

SuaraBorneo.com – Terbongkarnya tempat pembuat pil ekstasi di sebuah rumah di Perumahan Sentra Pondok Rajeg …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.