Bartman Barabai: Kami Menolak Tambang Batubara di HST

 Daerah, Umum

image

Suaraborneo.com, BARABAI – Terbitnya izin operasional produksi PT MCM oleh Menteri ESDM 4 Desember 2017 lalu, warga HST masih khawatir, sebelum izin tersebut dicabut, meski pemerintah kabupaten dan provinsi menyatakan tak akan mengeluarkan izin analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal). Penolakan atas rencana penambangan batu bara di Kabupaten Hulu Sungai Tengah terus disuarakan berbagai kalangan masyarakat, organisasi dan komunitas.

Salah satu komunitas yang ikut menyuarakan penolakan tersebut adalah komunitas pencinta sepak bola, yang tergabung dalam Bartman Barabai. Mereka tidak turun ke jalan, melainkan dengan ngetrip ke Pegunungan Meratus, dan membentangkan spanduk di air terjun Mantawila, Desa Arangani, Kecamatan Hantakan.

“Ini sebagai bentuk kepedulian kami terhadap hutan Meratus. Kami menyuarakan penolakan atau antitambang batu bara di salah satu keindahan Meratus, di air terjun Matawila. Sekaligus bentuk kekhawatiran kami, jika dirambah pertambangan keindahan ini akan hilang berganti dengan kerusakan alam,” kata Koordinator Bartman Barabai, Iroy, Rabu (24/1/2018), dikutip dari bpost online.

Selain di air terjun, spanduk juga dibentangkan di titik tanjakan Maruntip, jalan menuju desa tersebut, dengan latarbelakang pegunungan Meratus yang masih hijau dan sejuk.

Untuk mencapai air terjun mantawila, dari Kecamatan Hantakan ke Desa Arangani ditempuh dengan kendaraan roda dua melewati jalan pegunungan.

“Dari Arangani tempat titik parkir, berjalan kaki sekitar 1,5 jam baru bisa melihat keindahan air terjun Mantawila,”tutur Iroy.

Pegunungan Meratus di HST yang meliputi Kecamatan Hantakan, Batangalai Timur dan Batangalai Selatan punya banyak air terjun. Namun, rata-rata hanya bisa diakses dengan berjalan kaki, mendaki dan menuruni perbukitan.

Bartman Barabai pun menyarankan kepada Pemkab HST, agar ada hari antitambang batu bara dan perkebunan sawit oleh warga. Tujuannya, sebagai perjanjian politik yang tak tertulis bagi kepala daerah.

“Jadi siapapun yang memimpin HST wajib menolak penambangan batu bara dan perkebunan sawit, demi kepentingan masyarakat HST, khususnya kelestarian alam di Meratus.”

Iroy dan kawan-kawanpun mengusulkan, tiap kali memperingati hari anti tambang batu bara dan perkebunan sawit tersebut, masyarakat HST bisa merayakannya dengan karnaval budaya. “Budaya Banjar dan Budaya Dayak Meratus,”pungkasnya. (Ad/Bny/Bp-Bjm)

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts