‘Persaudaraan Banjar Dan Dayak’ Bagian Sejarah Budaya Kalsel

 Umum, Wisata & Budaya

Suaraborneo.com, BANJARMASIN – Siapakah orang Banjar, maka Banjar adalah secara genetis perpaduan gen Dayak dan para pendatang tetapi secara budaya lebih dominan berbudayakan Melayu. Suku Banjar bukanlah suku pada awalnya, suku banjar tercipta semenjak adanya Kesultanan Banjar, jadi suku Banjar terbentuk karena sekelompok orang yg menjadi rakyat kesultanan Banjar yg berbudaya MELAYU dan beragama ISLAM yg berdiam disebuah bangsa.

Maka suku ini tercipta karena adanya bangsa. Maka Banjar adalah Banjar bukan Dayak, Banjar adalah satu entitas tersendiri tetapi asal usulnya tidak dapat dilepaskan dari orang-orang Dayak. Ibarat saudara sepupuan (masih saudara). Maka tepatlah istilah Banjar & Dayak adalah “BADINGSANAK”. Hubungan antara suku Banjar dan kaum Dayak selalunya dalam keadaan baik. Beberapa kaum Dayak masuk Islam dan berasimilasi dengan budaya suku Banjar yg notabene berbudaya Melayu ,serta memanggil diri mereka orang Banjar.

Kaum Dayak menganggap suku Banjar sebagai saudara. Ini diperkuatkan lagi dengan banyaknya perkawinan antara suku Banjar dan kaum Dayak termasuk pada peringkat raja. Contohnya, Biang Lawai, isteri kepada Raja Banjar adalah dari etnik Dayak Ngaju. Dan banyak lagi Sultan Banjar yg mengambil istri dari suku Dayak.

Terlebih lagi adanya cabang Kesultanan Banjar di pemukiman dayak yaitu Kesultanan Kotawaringin (Kesultanan Kutaringin) yg diperintah oleh salah satu Pangeran Kesultanan Banjar yaitu Pangeran Anta Kasoema dan para masyarakat Dayak disana menerima kedatangan utusan kesultanan Banjar untuk mendirikan Kesultanan baru /cabang dari Kesultanan Banjar dan menyebarkan Islam disana.

Hubungan ini menjadi kuat apabila mereka berhadapan dengan penjajahan. Mereka bersama-sama berperang dan beberapa pejuang yang terlibat dalam Perang Banjar adalah dari etnik Dayak.

Contohnya, Panglima Batur, dari etnik Dayak Siang Murung, Panglima Wangkang, ayahnya Dayak Bakumpai dan ibunya Banjar. Panglima Batu Balot (Tumenggung Marha Lahew), pahlawan wanita yang menyerang Kubu Muara Teweh pada tahun 1864-1865.

Banyak lagi pejuang Banjar dan Dayak berperang dan berjuang bersama. Tidak pernah ada pergesekan antara Banjar dan Dayak dan keharmonisan ini akan selalu terjaga. Aamiin yaa Rabbalalamiin …

“Di Mana  Tanah Di Jajak Di Situ Jua Langit Di Junjung,” Baginda Sultan Haji Khairul Saleh Al-Moo’tasheem Billah juga berpesan agar masyarakat Banjar di manapun berada tetap menjunjung Marwah Banjar sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan dan persaudaraan. (Ad/Bny/Budaya-Bjm)

Related Posts

Tinggalkan Balasan