Budaya Pernikahan Dini di Kalsel, Bangga Anaknya Dapat Jodoh

Suaraborneo.com, BANJARMASIN – Problem pernikahan anak di Banua tak kunjung tuntas. Alih-alih menunjukkan tren penurunan, Kalimantan Selatan malah berada pada peringkat ketiga dalam urusan pernikahan dini di Indonesia. Kemarin (28/2), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) mencoba mengurai pokok persoalan ini dengan menggelar seminar nasional. Temanya, Pernikahan Anak di Kalsel.

Ketua LPPM UIN Antasari, Yahya Mof menjelaskan bahwa fakta pernikahan anak di bawah umur masih tinggi jika diukur dengan data. Kondisi ini mendorong pihaknya untuk mengurai permasalahan dan membahasnya secara komprehensif.

“Di Kalsel, urusan pernikahan dini wilayah hulu paling tinggi. Tepatnya Hulu Sungai Utara dan Tapin,” kata Yahya, kemarin.

Idealnya, seorang anak bisa dinikahkan saat usianya sudah menginjak 20 tahun. Kenyataannya, banyak sekali anak yang sudah terikat dengan rumah tangga.

Siti Ruhaini Dzuhayatin, peneliti dari The Asia Foundation yang hadir sebagai pembicara seminar mengungkapkan bahwa tren pernikahan dini terjadi karena perubahan perspektif kebudayaan.

“Saya sangsi kalau misalnya pernikahan dini terjadi karena faktor kemiskinan. Contohnya saja, Kalsel yang daerahnya tak miskin,” ujarnya.

Lebih spesifik, penyebaran konten-konten pornografi melalui internet menjadi biang masalah. Diakui Siti, konten seksualitas memang banyak dikonsumsi oleh anak-anak pria. Namun, hal tersebut akan berpengaruh pada anak perempuan jika dikaitkan dengan hubungan asmara.

Sementara itu, Fatrawati Kumari berbicara dari perspektif lain. Ia merupakan Ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Antasari. Fatra menjelaskan adanya tren pernikahan dini tak terlepas dari etika masyarakat Banjar. Ada empat nilai yang dipaparkan olehnya. Nilai perjuangan, nilai individualistis, nilai kompetitif, nilai religius dan nilai kesejahteraan.

Menurut Fatra, masyarakat Banjar sangat memegang teguh nilai perjuangan. “Dengan semangat waja sampai kaputing, misalnya. Mereka sangat mengajarkan anak-anak untuk berjuang,” jelasnya.

Dengan menikahkan anaknya sesegera mungkin, Fatra menyimpulkan masyarakat Banjar sudah mengajarkan anak-anaknya untuk berjuang sendiri atau mandiri. Begitu pula dengan nilai kompetitif. Masyarakat Banjar punya rasa persaingan kuat. “Contoh, ada orang tua yang bangga bahwa anaknya sudah payu atau laku mendapatkan jodoh,” terangnya.

Sangat kental dengan nilai agama, masyarakat Banjar juga tak ingin anak-anaknya dekat dengan perbuatan tak senonoh atau zina. Selain itu, ada juga anggapan bahwa menikah merupakan sarana menuju kesejahteraan. (adw/fb-sg)

Check Also

Panik Saat Kepergok Sedang Beraksi, RD Tewas Terkena Serangan Jantung

SAMARINDA – Selasa, 23/10/2018. Nasib naas menimpa pemuda asal Samarinda ini,  pasalnya, ia ditemukan tak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.