Minggu Raya ‘Tercemar’ Ulah Pelaku Usaha Yang Nakal

 Daerah, Umum

image

Suaraborneo.com, BANJARBARU – Minggu Raya, tentulah sangat familiar dengan kawasan wisata kuliner di Banjarbaru, dengan keberadaannya sejak tahun 1980 yang bisa di bilang Icon-nya Banjarbaru. Lokasi ini terus berkembang dari tahun ke tahun dengan sarana prasarana yang makin menggiliat. Hingga jadi sasaran wisatawan yang berkunjung ke seputaran Lapangan Murjani, taman Van der Pijl dan sekitarnya. Paling asik ngopi atau mau menikmati aneka jajanan ringan pun tersedia, ragam menu ada.

Namun keindahan dan populernya Minggu Raya, ada saja ulah pedagang “nakal” yang seenaknya menaikkan harga. Aji mumpung hingga ada istilah kalkolator rusak memanfaatkan wisatawan ketika mampir dan makan minum. Ulah “nakal” pedagang itu tentu saja bagi bagi masyarakat khususnya msyararakat Banjarbaru enggan berbelanja disana. Namun bagi wisatawan luar daerah tentu sangat terkejut bila berbelanja makan minum disana sebagaimana laporan masuk ke Pemko Banjarbaru.

Memang tidak semua hanya beberapa, tapi hal itu bisa menurunkan citra dan kenyamanan salah satu destinasi wisata ikon di Banjarbaru. Harga sepotong roti harga Rp 3 ribu saja bisa dijual jadi Rp 10 ribu. Kopi bisa juga Rp 20 ribu. “inikan tidak masuk akal”, kata stap Kadisporburdpar Pemko Banjaru mengutif laporan yang masuk dari warga luar daerah seperti Banjarmasin dan Hulu sungai.

Hidayaturahman saat ditanya mengenai istilah dari warung nakal itu. Iyalah warung-warung di Minggu Raya itu yang sesukanya mengambil kesempatan dengan menaikan harga yang tidak semestinya beberapa kali lipat dari harga pasaran, imbuhnya.

Situasi yang mencoreng Minggu Raya itu, Pemko Banjarbaru langsung mengadakan pertemuan dengan pengelola warung-warung milik Pemko Banjarbaru itu, dipimpin langsung oleh Sekda Banjarbaru, Sa’id Abdullah.

Hasil pertemuan pun mengeluarkan suatu kesepakatan bersama. Yang tentunya memberikan pelayanan yang baik sebagai masyarakat pelaku usaha yang berkarakter.   Namun tidak diperoleh keterangan jika ada pelaku usaha di Icon di pusat kota Banjarbaru itu tetap membandel, masih nakal. Apa sangsinya?. (aha-bjb)

Related Posts