Polda Kalsel Gelar Perkara Tangkapan Pengedar Pil Ekstasi dan Sabu

image

Suaraborneo.com, BANJARMASIN – Bersama barang bukti di halaman Mapolda Kalsel, Rabu (28/3). Ditresnarkoba Kapolda Kalimantan Selatan dan Bea Cukai Banjarmasin, gelar perkara tangkapan tersangka pengedar pil ineks dan sabu-sabu dengan barang bukti, terdiri dari ekstasi 2.798.5 butir, dua paket ekstasi serbuk masing masing 1.342.5 gram dan 16.5 gram, bersama tersangka Doni warga Kertak Hanyar kabupaten Banjar.

Gelar perkara hasil dari penangkapan tersangka Doni itu berawal adanya laporan kepada petugas Bea dan Cukai bahwa seseorang akan memasukkan narkoba golongan satu ke Banjarmasin. Petugas Ditresnarkoba Polda Kalsel langsung melakukan penyergapan di teras kantor pos Liang Anggang kilometer 22 dini hari Sabtu (24/3) terhadap pelaku Doni saat itu mengambil paket kiriman, dengan beserta barang bukti ditangan sebanyak 2.798 butir ekstasi yang ternyata asal Perancis itu, berhasil digagalkan peredarannya di Kalimantan Selatan

Paket yang berisi tempat cuci kaki ternyata penuh dengan ineks. Tak hanya bentuk pil, petugas juga menemukan dua paket serbuk dengan berat 16,5 gram.

“Paket ini memang menyertakan nama dan alamat tujuan fiktif,” Donny, mengaku tidak kenal dengan pemilik narkoba. Alasannya, paket akan diambil seseorang setelah ada di tangan.

“Saya menunggu telpon dari seseorang yang akan mengambil. Nantinya kami bertemu di tempat yang sudah ditentukannya,” kata Donny yang mengaku paket ini merupakan yang kedua yang diambilnya di kantor pos itu.

Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Bea Cukai Kalimantan Bagian Selatan, Hary Budi Wicaksono, mengatakan, paket sudah dicurigai sejak masuk Kantor Pos Pusat di Jakarta.

Menurut Hary, petugasnya memang ada yang mematau barang kiriman di kantor pos. “Paket ini memang dikirim dari Perancis. Tapi tidak langsung ke Banjarmasin karena melalui transit di Kantor Pos Pusat di Jakarta. Saat itulah paket sudah dicurigai. Tapi supaya bisa mengungkap kasusnya, paket tetap dikirim ke Banjarmasin,” jelasnya.

Atas perbuatannya ini, pelaku dijerat Pasal 114 UU No 35 tahun 2009, tentang pemberantasan narkoba dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.

Seusai acara gelar perkara, terjadi keributan, antara wartawan yang kerap meliput dengan Herry fotografi Kapolda. Menurut seorang wartawan, keributan bermula saat Harry bersenggolan dengan wartawan Duta TV bernama Wardi secara tidak sengaja.  Herry spontan mengumpat, “Eh kamu kutampar, ya. Goblok!”

wartawan lain mendengar ngumpatan Herry itu terpancing emosi meluapkan amarah ke Herry seraya menanyakan maksud umpatan itu. Bruntung keributan itu dapat dilerai Propam.

Kapolda Kalimantan Selatan Brigadir Jenderal Rachmat Mulyana turun langsung memanggil 30-an wartawan ke ruang kerjanya. Brigjen Rachmat Maulana meminta persoalan ini tidak perlu melebar ke mana-mana. Ia akan meminta Harry untuk mengubah sikapnya, dan bila mengulangi, “akan saya pecat,” janjinya. (adw/aha)

342 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Check Also

Pembangunan Daerah Hulu Perlu Perhatian Pemerintah

KUALA KAPUAS, SuaraBorneo – Pembangunan daerah hulu Kabupaten Kapuas perlu perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kapuas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.