Lama Tidak Terdengar, Diam-Diam Sugianor Lakukan Pengawasan Dana Desa di Tiga Kabupaten

image

SuaraBorneo.com, BANJARMASIN – Lama tak terdengar, sepak terjang H Sugianor alias Abah guru kini kembali menjadi perhatian publik terutama para aparat desa di wilayah Kalimantan Selatan.

Lelaki yang kesohor karena menerima mandat langsung dari Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor untuk mengawasi dana desa di Bumi Antasari tersebut dalam dua pekan terakhir kembali “bergerilya” memantau penggunaan dana desa apakah sudah benar atau ada penyimpangan yang dilakukan oknum Kades dan aparaturnya.

Desa-desa yang ada di tiga Kabupaten di bagian tenggara provinsi Kalimantan Selatan kaliĀ  ini dijadikan “incarannya”. Tiga kabupaten itu adalah Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru.

Tidak banyak yang tahu ketika guru Sugiannor melakukan pemantauan. Ibarat zaman gerombolan, Sugianor melakukan “perang gerilya alias operasi senyap.

“Saya sengaja melakukan operasi pengawasan secara sembunyi-sembunyi agar bisa maksimal, saya duduk duduk di warung sambil minum kopi sambil bertanya pada masyarakat bagaimana pengelolaan dana desa disitu, maka masyarakat bercerita apa adanya,” ujar Sugianor kepada Suara Borneo, akhir pekan tadi.

Menurut Sugianor, cara tersebut lebih pas ketimbang langsung menanyakan kepada Kades atau aparatnya karena kebanyakan menutup-nutupi.

Sugianor bertutur, selama pemantauan di tiga kabupaten yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya terutama tambang tersebut, suka duka dialaminya. Ketika yang pertama memasuki wilayah Kabupaten Tanah Laut, Sugianor kurang mendapat respon positif dari aparat pemerintahan. “Kebetulan Tala sekarang mau memasuki Pilkada jadi Bupati dan wakilnya yang bertarung maka sementara dipimpin penjabat bupati saja,” tuturnya.

Di Kabupaten yang berjulukan bumi Tuntung pandang tersebut, Sugianor memasuki beberapa desa yang dianggapnya rawan dan termasuk “zona merah”. Sambutan dari pembakal dan aparatnya ada yang baik ada pula yang kurang sopan. Namun menurut ayah 9 anak ini tidak masalah. “Ini adalah bagian resiko yang harus saya terima dengan lapang dada dan ikhlas,” ujarnya.

Sehabis di kabupaten Tanah laut, Sugianor kembali melanjutkan “muhibahnya” ke ujung tenggara Kalimantan Selatan. Kali ini dia menyisir Kabupaten Tanah Bumbu.Ternyata di Bumi bersujud ini antusias dan sambutan para kepala desa dan aparatur desa begitu hangat dan “bersahabat”. Sugianor mengaku terkesan dan bangga karena sebagian besar desa di tanah bumbu dalam mengelola dana desa sudah benar dan amanah. “Di Tanah Bumbu ternyata pengelolaan dana desa cukup baik. Tentu saja ini tidak lepas dari pembinaan yang dilakukan pendamping desa yang bertugas. Hal ini juga berkat bimbingan para Camat dan tentunya sang Bupati,” ujar Sugianor sambil menyedot rokok kesukaannya.

Kepada aparat desa, camat dan Bupati Sugianor mengucapkan ribuan terima kasih karena sudah disambut dengan begitu hangat dan penuh kekeluargaan. “Saya angkat jempol dengan mereka karena begitu baik dalam mengelola dana desa,” pujinya.

Perjalanan “menda’wahi” pembakal dan aparatnya berlanjut ke Kabupaten Kotabaru. Serupa dengan di Tanah Bumbu, di bumi Bamega ini Sugiannor juga disambut dengan hangat dan penuh keakraban. “Dalam memberikan peringatan dan nasehat kepada aparatur desa di Kotabaru saya diantar langsung Sekda Kabupaten Kotabaru. Tentu ini suatu penghargaan yang luar biasa dari pemerintah. Hal inilah yang saya harapkan juga bisa ditiru oleh kabupaten lainnya,” ujarnya.

Disisi lainĀ  Sugianor berujar, dari beberapa Kabupaten yang dia sambangi, ternyata dirinya pernah menerima perlakuan kurang etis dari aparatur pemerintahan.

“Saya sebutkan saja, ketika saya memasuki Kabupaten Banjar saya dicueki oleh kepala Kesbangpol disana. Tapi saya tidak masalah tetap maju memberikan nasehat pada aparat desa di serambi Mekkah itu,” ujarnya.

Menurut Sugianor, seharusnya mereka tidak perlu alergi dan memandang sebelah mata atas kehadiran dirinya dalam memberikan nasehat agar dana desa digunakan dengan sebaik-baiknya.

“Padahal mereka pada pintar semua tidak ada yang bodoh alias buta huruf. Saya ini mendapat mandat langsung dari gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor untuk mengawasi penggunaan dana desa di Kilimantan Selatan,” sindirnya.

Menurut Sugianor, dalam melakukan pengawasan dana desa memang ada dijumpai berbagai temuan namun dirinya sengaja tidak melaporkan kepihak kepolisian kalau tidak terlalu parah. “Saya memilih tidak melakukan laporan kepihak kepolisian kalau masih bisa diselesaikan ditingkat desa. Misalnya Kades ada melakukan penyelewengan maka saya suruh secepatnya mengganti. Alhamdulillah bisa diselesaikan dengan baik,” paparnya.

Dalam waktu dekat Sugianor kembali akan “memapas” daerah Banua Anam. Sasaran utamanya adalah Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Tabalong.

“Jadi siap siap saja para Pambakal dan aparat desa di dua kabupaten tersebut bila tibatiba s-aya muncul tidak terduga,” tandasnya. (adw/ans)

358 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Check Also

Walikota Banjarmasin Kunjungi Lokasi TMMD ke-105 Kodim 1007/Bjm

BANJARMASIN, SuaraBorneo – Walikota Banjarmasin H Ibnu Sina melakukan kunjungan kerja ke lokasi TMMD ke …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.