Sungai Aset Budaya-Pusaka Perlu Dirawat, Dijaga dan Dilestarikan

image

SuaraBorneo.com, BANJARMASIN – Bagi masyarakat Kalsel, eksistensi sungai tidak hanya sebatas pemanfaatan sumber daya air, tetapi juga menjadi bagian dari perkembangan historis, budaya dan karakter masyarakat Banjar. “Jadi tidak berlebihan bila saya katakan sungai adalah aset budaya dan pusaka yang perlu dirawat, dijaga dan dilestarikan keberadaannya,” ujar Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor dalam sambutannya yang dibacakan Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Provinsi Kalsel Gusti Rifai, dalam pembukaan Festival Kolaborasi Nyawa Sungai tahun 2018, di kawasan Siring Menara Pandang, Kota Banjarmasin, Sabtu (12/05).


Tak hanya itu, ia juga menyebutkan, sungai di Kota Banjarmasin juga telah memberikan kontribusi dalam perkembangan kota berjuluk seribu sungai, bukan saja saat ini, tetapi sejak zaman kerajaan Banjar. “Karena sungai, maka Kota Banjarmasin tumbuh menjadi kota pelabuhan, perdagangan dan pelayaran, dan kini sungai telah menjadi destinasi unggulan,” katanya.


Untuk itu, orang nomor satu di Bumi Lambung Mangkurat ini mengingatkan seluruh lapisan masyarakat untuk selalu menjaga sungai, memelihar sungai agar tidak tercemar. “Kita cintai, kita pelihara, dan kita letakan kepedulian untuk sungai di Kota Banjarmasin, sehingga gambaran surga tetap bisa kita nikmati,” harapnya.


Dalam kegiatan yang dihadiri para komunitas pencinta sungai itu, H Sahbirin Noor kembali berharap, dengan adanya kegiatan tersebut, hendaknya semua pihak menyadari pentingnya sungai bagi kehidupan. “Jangan membuang sampah ke sungai, semua pihak hendaknya sadar untuk membersihkan sungai di sekitar tepat mereka agar tidak tercemar,” pungkasnya.


Sementara itu, Plh Sekda Kota Banjarmasin H A Hamdi mengatakan, keberadaan sungai di Kota Banjarmasin sangat lah penting. Hal ini, lanjutnya, mengingat kehidupan masyarakat di kota ini, tidak bisa dilepas dari keberadaan sungai. “Sungai adalah urat nadi bagi warga kota ini. Dari catatan, saat ini ada sekira 102 sungai, jadi betapa pentingnya sungai bagi kehidupan warga,” jelasnya, saat membacakan sambutan Walikota Banjarmasin H Ibnu Sina.


Dikatakannya lagi, mengingat sungai di kawasan kota ini posisinya di kawasan hilir, maka untuk menjaga kebersihan dan kelestariannya perlu ada kolaborasi dari pihak hulu daan pemerintah pusat. “Dengan adanya festival ini mari kita gali pengetahuan tentang sungai untuk eksplor. Saya Harapkan kegiatan ini dapat menghasilkan gagasan untuk menjadi acuan bagi pemerintah dan warga agar sungai kita dapat lebih bersih.” tandasnya.


Sementara itu, Kepala Subdirektorat Pengelolaan Sampah , Dirjen PSIL D3 KLHK, Yulia Restia yang juga hadir dalam kegiata tersebut menyatakan, sangat mengapresiasi festival yang digagas oleh kaki kota itu.


Menurutnya, masalah sampah adalah masalah krusial dan menjadi tugas pokok, tidak hanya pemerintah tapi juga seluruh elemen swasta. “Penanganan masalah sampah agar lebih efektif, harus mengajak peran serta seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama dengan bergerak secara masif dengan melakukan kebersihan dibeberapa lingkungan baik, wilayah publik layanan ataupun wilayah lain,” tuturnya.


Dengan festival ini, diharapkan dapat mengerakan perubahan perilaku mayarakat untuk mengurangi sampah. “Sampah bisa menjadi baik asal dikelola dengan tepat. Artinya sampah bisa bawa berkah bila dikelola dengan benar. Dengan gerakan ini mudah-mudahan akan menjadi titik tolak bagi komunitas lain, untuk bersama sama untuk ciptakan kebersihan lingkungan,” harapnya. (adw/humpro-bjm)

Check Also

Partai Golkar Banjarbaru, Focus Pada Alat Praga Kampanye

SUARABORNEO.COM – Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan Daftar Calon Tetap (DCT), Kamis (20/9). H.Anang Sirajudin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.