Ketua DPW JOIN Kalsel: Berita Hoax sudah Merajalela

Ket Foto: Ketua dan Sekjen DPW JOIN Kalsel, Anas Aliando dan M. Hatim Darmawi

BANJARMASIN, Suara Borneo.com –¬† Ketua Jurnalis¬† Online Indonesia (JOIN) Kalsel, Anas Aliando meminta Dewan Pers terus melakukan verifikasi perusahaan pers.

Menurut dia, hal ini sangat penting karena berita hoax sudah merajalela. Anas tak ingin lagi melihat generasi muda terhasut pemberitaan yang ditulis atau disebarluaskan oleh media abal-abal. Ia ingat betul salah satu kasus yang menghebohkan pemilihan presiden 2014 lalu.

Ketika sebuah media bodong bernama Obor Rakyat mempropagandakan kampanye hitam kepada salah satu pasangan presiden dan wakil presiden yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.

Jurnalis senior Kalsel Pos itu berkeyakinan, tidak ada pers yang menyebarkan berita hoax. Pers itu di seluruh dunia diakui sebagai institusi yang kredibel dan jurnalis merupakan profesi paling bermartabat.

“Jadi, jurnalis juga harus tahu aturan. Kalau Anda melanggar, maka ada sanksinya. Bahkan, bisa dilarang menjadi wartawan lagi, tergantung kesalahannya,” ujar Anas kepada Suara Borneo.com Minggu (4/11).

Setelah ada verifikasi dari Dewan Pers, jurnalis yang suka melakukan liputan investigasi tersebut juga menyarankan agar ada sosialisasi kepada publik tentang perusahaan media mana saja yang layak dipercaya beritanya.

Selain itu, ia mengusulkan agar segera didirikan lembaga yang independen sebagai pusat informasi anti hoax. Dalam hal ini, Anas mengapresiasi langkah yang diambil mantan anggota Dewan Pers, Agus Sudibyo yang mendirikan Jaringan Wartawan Antihoax (Jawarah).

“Usul lain, saya minta ada pusat informasi anti hoax. Mereka haruslah lembaga yang independen karena kalau pemerintah yang sediakan, nanti dikira hanya jadi corong sepihak pemerintah,” tegasnya.

Di sisi lain, Anas berpesan agar para wartawan juga meningkatkan pemahamannya soal berita hoax. Pasalnya, tanpa mengerti lebih dulu soal berita palsu, mustahil jurnalis bisa memeranginya.

“Bagaimanapun, jurnalis adalah garda terdepan penyebaran informasi. Sebab, jurnalis bukan cuma bisa jadi korban dari beredarnya berita hoax. Kalau tidak paham isu dan Kode Etik Jurnalistik, maka para wartawan juga bisa menjadi pelaku yang lebih dahsyat dari citizen reporter alias warga sipil pewarta di media sosial,” tandasnya. (ans/ad-sb)

Check Also

Lapor! Paman Dapat Penghargaan dari Kemenpan RB RI

JAKARTA, SuaraBorneo – Lapor Paman branding yang selama ini digunakan untuk SP4N LAPOR! Prov. Kal …

error: Off