Ketika Makam Massal Jadi Saksi Bisu Tragedi Konflik Etnis Madura dan Dayak 2001 Silam

SAMPIT, SuaraBorneo.com – Ketika itu sesama anak bangsa saling bunuh tidak ada belas kasian dan rasa kemanusiaan hanya darah berceceran disertai rasa dendam.

Pandangan mata nampak di jalan, kamar jenazah rumah sakit, sungai mayat bergelimpangan dalam kondisi tidak utuh tanpa kepala dibiarkan membusuk.

Aparat penegak hukum pun tidak bisa berbuat banyak. Kenyataan saat itu hanya hukum rimba yang berlaku.

Pembersihan terhadap etnis Madura menyusul meletusnya kerusuhan Sampit 2001 secara masif terus meluas di wilayah Kalimantan Tengah.

Tidak hanya harta benda, nyawa pun melayang sia-sia sehingga memaksa ribuan etnis Madura mengungsi meninggalkan Kalteng.

Ada beragam versi soal tragedi konflik etnis Madura dan Dayak, berdasar data Komnas HAM konflik dipicu sentimen politik, kesenjangan sosial, ekonomi yang bertahun-tahun dirasakan masyarakat Dayak.

Membutuhkan proses panjang memulihkan kondisi tersebut apalagi di tengah situasi dan eskalasi konflik yang tinggi.

Negara pun hadir dengan pendekatan dialogis bersama tokoh lokal, nasional meski melalui masa pendinginan dan rekonsiliasi pasca konflik.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya secara berangsur-angsur pengungsi Madura kembali ke Kalteng.

Namun, tidak semudah dibayangkan, karena mereka harus mentaati aturan menyesuaikan diri merubah perilaku, menghargai adat istiadat, memahami budaya serta kearifan lokal masyarakat Dayak.

Adalah bentuk penegasan hasil kesepakatan para tokoh, etnis Madura yang kembali ke Kalteng tidak diperbolehkan mendirikan organisasi komunitas Ikama.

Seiring perjalanan waktu, kini sudah 18 tahun tragedi memilukan itu berlalu, tetapi trauma mendalam masih dirasakan masyarakat.

Menjadi bagian catatan sejarah panjang bagi generasi saat ini. Ibarat luka belum sembuh benar dan dianggap bahaya laten. Sedikit saja gesekan muncul akan memicu konflik.

“Tentu kita tidak menginginkannya terulang kembali,”terang Gubernur Kalteng dua periode Agustin Teras Narang yang hadir di Wisuda mahasiswa STIH Kapuas beberapa waktu lalu sekaligus memberikan pandangan terkait Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.

Biarlah makam massal ini menjadi saksi bisu dan sejarah atas tragedi itu. Seperti pepatah lama dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Dimanapun kita hidup harus menyesuaikan dengan adat istiadat setempat,” ujar Fridol Suan didampingi Roby Fadillah ketika berkunjung ke makam massal korban tragedi 18 Februari 2001 Jalan Sampit-Pangkalan Bun medio Oktober 2018 lalu. (ujang/ery-SB)

Check Also

Dinsos Kapuas Akan Programkan Pemberdayaan KAT di 2 Desa

KUALA KAPUAS, SuaraBorneo – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kapuas akan programkan pemberdayaan sosial Komunitas Adat …