Insan Pers Wajib Cek dan Ricek Kebenaran Informasi Medsos

PALANGKA RAYA, SuaraBorneo – Sekitar 60 persen berita-berita yang dilansir media massa mainstream saat ini bersumber dari medsos.

Namun, hal ini tak jarang menimbulkan permasalahan mengingat informasi di media online lemah dari segi faktualitas.

“Dari hasil riset ini, kita mendorong rekan-rekan pers agar melakukan cek dan ricek terhadap informasi di media sosial sebelum mengolahnya sebagai berita,”pesan Ketua Bidang Pendidikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, saat memberikan paparan pada Workshop Media Siber di Meeting Room Luwansa Hotel, Palangka Raya, Sabtu (15/6/2019).

Berbicara di hadapan sekitar 40 peserta pelatihan yang berlatar wartawan berbagai media massa, perwakilan kehumasan pemerintah media dan kepolisian, Nurjaman menyebut, sudah cukup banyak perkara hukum yang muncul dari pemberitaan media massa mainstream karena melansir informasi yang ada di media sosial.

Akibatnya, si wartawan maupun awak redaksi media bersangkutan mendapat tuntutan hukum dari pihak-pihak yang merasa dirugikan akibat pemberitaan tersebut, termasuk dengan tuduhan pelanggaran UU Informasi Dan Transaksi Elektronik (ITE).

Ke depan, terang, wartawan senior yang pernah mengabdikan diri di SCTV, TVOne, Liputan6.com dan sejumlah media lain itu berharap perkara hukum demikian dapat diminimalisir.

Caranya, dimulai dari wartawan, yakni selektif dalam mengolah informasi yang bersumber dari media sosial, melakukan cek dan ricek serta mengkonfirmasi sumber-sumber terkait infomasi tersebut.

Selain, mengingatkan kembali rambu-rambu pemberitaan pers secara umum, Nurjaman juga berbagi pengalaman dan wawasannya terkait seluk beluk dunia Media Siber.

Paparan yang terbagi dalam tiga sesi penyampaian itu antara lain, model baru bisnis media massa, trik membesarkan kota, dan aturan pers media siber.

Pelatihan sehari tentang media siber ini sendiri dibuka resmi Ketua PWI Kalimantan Tengah (Kalteng) H Sutransyah.

Dikatakannya, kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja kepengurusan PWI Kalteng periode 2014-2019, melalui bidang pendidikan.

Worskhop diharapkan, menjadi pembekal insan pers lokal, khususnya wartawan media online tentang tata laksana, teknik penulisan, dan aturan hukum Media Siber.

Paradigma media massa telah beralih dari konvensional ke online, diikuti SDM wartawan sebagai pelakunya.

Hanya saja, peralihan wartawan ini tak dibekali pemahaman yang mumpuni sebelum terjun ke Media Siber.

“Pelatihan ini merupakan upaya PWI Kalteng menjawab permasalahan tersebut, sekaligus dalam rangka meningkatkan profesionalitas insan pers secara umum.

Terutama menghindari penyebaran berita Hoaks yang sangat merugikan kita bersama,”terang Sutransyah. (ujang/ery-SB)

Check Also

Satu Buah Rumdin Komplek Eks RS Lama Dilalap Api

KUALA KAPUAS, SuaraBorneo – Warga Kapuas dibuat geger menyusul terjadinya kebakaran sekitar pukul 13.50 Wib …