PDAM Bandarmasih Masih Mandiri Tanpa Penyertaan Modal dari Pemko dan Pemprov Kalsel

BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Sebagai target kinerja dan keterjangkauan pelayanan masyarakat Kota Banjarmasin, PDAM Bandarmasih dikoordinator Forum Masyarakat Kota (Formak) Kalimantan Selatan kembali gelar sosialisasi, untuk menampung segala permasalah dan keluhan dari para pelanggan, Rabu (17/7/2019) di Kantor Kelurahan Basirih, Jalan Intan Sari, Kecamatan Banjarmasin Barat, Kota Banjarmasin.

Dari sosialisasi permasalahan dan keluhan dari masyarakat, berupa kenaikan tarif, pemakaian dikenaikan minimum 5 sampai 10 kubik perbulan, kemacetan (air kurang lancar) serta air keruh (kotor).

Dijelaskan mengenai tarif biaya klasifikasi / golongan tariff untuk rumah tangga A1-1 dan A1-2 dikenakan pemakaian minimum 5, dan klasifikasi rumah tangga A2-1 dan A2-2 pemakaian minimum 10 kubik, semua itu dikarena mengikuti aturan dari Permendagri Nomor 7 Tahun 2016 (terdaftar pada lembaran pemberitahuan) dibagikan kepada warga yang telah mengikuti sosialisasi, serta untuk kemacetan dan air keruh, akan dicek kembali ke lokasi apakah terjadi kebocoran pada pipa.

Pada kesempatan Direktur Operasional PDAM Bandarmasih, Supian, menyampaikan, “Untuk kondisi kemarau khusus peralatan yang bermasalah itu sebagai cadangan, seperti pompa, untuk distribusi ada 6 kita gunakan 3, yang 3 untuk cadangan, masalah sedikit kita perbaiki kembali ready on dan bisa tercover, dimusim kemarau permasalahannya dari air baku, terkonsumsi air asin, ini yang riskan sekali di Sungai Bilu khususnya pelayanan Instalasi Pengolahan Air (IPA) 1, tapi walau demikian di unit ada pengolahan IPA 1 dan IPA 2, jangka waktu asin diatas ambang 250 mililiter/liter apabila melebihi tidak bisa diproduksi, akan di suplai dari IPA 2 melalui boster kilometer 6, terkonsumsi 500-600 tidak ada pergiliran untuk pemadaman aliran karena masih tertutupi,” katanya.

Lanjut Supian, “Dikhawatirkan kemarau panjang mencapai sampai 2 bulan keatas, maka akan mencapai 2000 militer/liter kemasukan air asin, terpaksa pengurangan debet air mencapai 30%, untuk sekarang masih ambang aman baru 10 militer/liter untuk di Sungai Bilu, di Bromo BPR harus tetap dilayani karena masyarakat pinggiran sudah tidak bisa lagi menggunakan air sungai karena kemasukan air asin,” ungkapnya.

“Untuk sementara tidak ada penyertaan modal dari Pemko maupun Pemprov Kalsel, memang sebelum ada masalah mungkin ada keragu-raguan, tapi sebaiknya tetap dilanjutkan karena tanpa ada bantuan pusat, tingkat 1 dan 2 PDAM akan kesulitan investasi khususnya dijaringan perpipaan, menunggu kemampuan PDAM sendiri, situasi sangat mendesak untuk pergantian pipa dari A. Yani menuju S. Parman, apabila ada goncangan dan tekanan berlebihan apalagi di masa kemarau tanah kering, riskan terjadi kebocoran, sementara PDAM masih mandiri sesuai kemampuan dari laba kita sisihkan dan terbatas, dana untuk investasi pergantian pipa sangat besar mencapai Rp 100 miliar, sementara kemampuan dari laba sekitar Rp 4 miliar perbulan cuma cukup pergantian system pengelohan pergantian pompa dan assesoris yang diperlukan belum menyentuh perbaikan yang besar,” beber Supian.

Diakhir kegiatan, selaku koordinator sosialisasi PDAM, Ketua Forum Masyarakat Kota (Formak) M Hatim Darmawi, turut menyampaikan, “Hari ini kembali sosialisasi di Kelurahan Basirih, Alhamdulilla semua pertanyaan dijawab nara sumber, dengan adanya sosalisasi segala keluhan, saran dan kritikan dari pelanggan, PDAM akan segera menindaklanjuti,” sarannya. (ad-sb)

Check Also

Mahasiswa PPL dan PPG PAI Mulai Praktek

PALANGKA RAYA, SuaraBorneo – Sebanyak enam dari 49 mahasiswa (guru) peserta dari Praktek Pengalaman Lapangan …