Dilarang Liput Pelantikan Anggota DPRD Sintang 2019, Ketua DPD PWRI Kalbar Angkat Bicara

SINTANG, suaraborneo.com – Insiden terkait larangan bagi Wartawan untuk meliput langsung kegitan pelantikan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sintang terpilih tahun 2019-2024,  ketua DPD PWRI (Persatuan Wartawan Republik Indonesia) Kalimantan Barat, Rita Dihales, SH angkat bicara terkait pelarangan media untuk meliput pemberitaan, Selasa (10/09/2019).

Saat di hubunggi via WA Ketua DPD PWRI sangat menyayangkan kalau memang kejadian seperti yang beredar di Medsos saat ini benar adanya tentu sudah sangat merugikan para rekan rekan wartawan, di mana kerja Wartawan sudah di atur oleh undang undang Pers.

Kebebasan Pers di Indonesia lahir setelah Orde Baru tumbang pada 1998  dan munculnya pasal 28 F UUD 1945, melalui amandemen kedua, yang berbunyi, ”Setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan mengungkapkan segala jenis saluran  yang tersedia.”

Kebebasan pers ini kemudian ditegaskan lagi lewat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

UU No. 40 /1999 menggantikan Undang-Undang No. 11 Tahun 1966 mengenai Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers, yang ditambah dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1967, dan kemudian diubah dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982. UU No. 40/1999 menegaskan tidak ada sensor dan pembredelan terhadap pers.

Pasal-pasal yang menegaskan kemerdekaan,  fungsi dan pentingnya pers dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 adalah Pasal 2 yang berbunyi demikian: Kemerdekaan Pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum.

Pasal 3 ayat (1): Pers  nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.

Pasal 6 :  Pers nasional melaksanakan peranannya memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinnekaan mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar.

Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, dan memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Ada pun Kemerdekaan pers diatur dalam:

Pasal 4  ayat (1) :  Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara,

Pasal 4 ayat (2) :  Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran

Pasal 4 ayat (3) :  Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

Undang-Undang tentang Pers  memberi sanksi kepada mereka yang menghalang-halangi kerja wartawan. Pasal 18 Undang-Undang tentang Pers menyatakan, “Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berkaitan menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta,” ujar Bapak Rita Dihales S.H.

Penulis : Christian Bostang Hutagaol
Editor : Adi Wiryawan
Sumber : suaraborneo.com

Check Also

Bupati Barut Hadiri Pernikahan Ketua Muhammadiyah Kalteng

PALANGKA RAYA, SuaraBorneo – Bupati Kabupaten Barito Utara (Barut) H Nadalsyah Sabtu (14/12/2029) menghadiri pernikahan …

error: Off