Pemakaian Minimum 5-10 Meter Kubik Air, Ini Penjelasan Direktur Umum PDAM Bandarmasih

BANJARMASIN, SuaraBorneo – Mengkaji setelah beberapa kali PDAM Bandarmasih menggelar sosialisasi selalu dipertanyakan permasalahan pemakaian minium 5 kubik dan 10 kubik serta biaya denda tanpa ada Perda cuma Surat Keputusan (KP) dari Direksi, dikemanakan dan digunakan untuk apa? uang denda dari para pelanggan. Media online SuaraBorneo.com serta BanjarTV yang selalu mengikuti sosialisasi melakukan konfirmasi ke Direksi PDAM Bandarmasih, Selasa (10/9/2019) di Kantor Pusat PDAM Bandarmasih, Jalan A. Yani Kota Banjarmasin.

Pada kesempatan Direktur Umum PDAM Bandarmasih, Hj Ida Arianti, menyampaikan, “Kita dapat pertanyaan pelanggan saat Humas PDAM Bandarmasih melakukan sosialisasi, pertama permasalah denda rekening air minum yang dibayar pelanggan apabila terjadi tunggakan, denda tersebut secara otomatis masuk ke kas PDAM, penggunaannya untuk penutupan meter, boring dibayarkan kepada pihak ketiga, dari pihak ketiga tidak jauh dengan denda yang kita terima, malah kadang-kadang kita nombok, bayar ke pihak ketiga lebih besar dari tagihan kepada pelanggan, diperkirakan pertahun dari dana denda para pelanggan sekitar miliaran tetapi pengeluaran kadang lebih besar disaat penutupan meter dan boring, jadi biaya denda dari pelanggan tetap kami pertanggungjawabkan demi kemaslahatan pelanggan sendiri,” ungkap Ida.

Mengenai pemakai minium 10 kubik, H Ida Arianti, mengatakan, “10 Kubik kita terapkan, berdasarkan Permendagri nomor 71 tahun 2016, menyebutkan bahwa PDAM diminta menerapkan pemakaian minimum 10 kubik, penetapan kubikasinya diserahkan kepada Direksi PDAM, mengapa PDAM menetapkan ada yang 5 kubik untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) kemudian 10 kubik diluar MBR, fungsinya kita dalam rangka memberlakukan Permendagri nomor 71 tahun 2016 kemudian dalam rangka PDAM melayani keberlangsungan, berkesinambungan keberadaan PDAM tidak rugi dan berhenti pelayanannya, pelanggan sewaktu pemasangan merupakan investasi, tetapi apabila pelanggan memakai dibawah 10 kubik tidak balik modal, supaya balik modal maka diberlakukan 5 – 10 meter kubik, PDAM terus berlanjut melayani pelanggan, air menjadi lancar mengalir tetap eksis apabila sendat-sendat malah menjadi mahal, disamping itu merupakan peraturan secara nasional, dari pemakaian minium 10 meter kubik sudah mendapatkan subsidi, untuk MBR A1-1 dan A2-2 diberlakukan minimum 5 kubik tarif harga dipelanggan 1 kubik Rp 2 ribu klo 5 kubik menjadi Rp 10 ribu, harga sebenarnya 1 kubik Rp 7.800 klo memakai 2 kubik sudah Rp 15.600, pelanggan dikenakan 2 menjadi 5 kubik tetap bayar Rp 10 ribu sudah ada biaya subsidi, seharusnya dengan harga pokok biaya produksi 1 kubik Rp 14 ribu, jadi dikenakan biaya pemakaian minimum 5-10 kubik pelanggan sudah mendapatkan subsidi,” bebernya.

“Masyarakat kota Banjarmasin yang dipinggiran sungai banyak, seharusnya masyarakat tidak lagi menggunakan air sungai, didorong masyarakat menggunakan air PDAM karena air sungai tidak sehat lagi walaupun digunakan untuk MCK, kena penyakit kulit dan segala macam, diharapkan menggunakan 10 kubik atau 5 kubik bagi MBR agar lebih sehat,” ujar Ida Arianti menambahkan.

Kesimpulan dari pertanyaan pelanggan seputar penerapan pemakaian minimum ada 3 (tiga) jawaban yang disampaikan ke pelanggan, antara lain :

1. Dasar Penerapan Pemakaian minimum

Dasar Penerapan SK Direksi tersebut dari Permendagri No.71 Tahun 2016 tentang. Perhitungan dan Penerapan Tarif Air Minum. Pada Pasal 20 dijelaskan bahwa pendapatan air terdiri dari tarif air, beban tetap, pemeliharaan meter air dan pendapatan air lainnya selain perpipaan.
Yang dimaksud dengan :
a. Tarif air minum selanjutnya disebut tarif adalah kebijakan biaya jasa layanan Air Minum yang ditetapkan Kepala Daerah untuk pemakaian setiap meter kubik (m3) atau satuan volume lainnya yang diberikan oleh BUMD Air Minum yang wajib dibayar oleh pelanggan

b. Beban tetap adalah biaya yang muncul ketika pemakaian air pelanggan tidak mencapai pemakaian minimum. Besaran beban tetap dihitung dari volume pemakaian air minimum sebagaimana
dimaksud ayat (2) dikali tarif yang berlaku untuk pelanggan bersangkutan (pasal 21 ayat 3 permendagri No. 71 Tahun 2016).

c. Biaya pemelinaraan meter air adalah biaya yang dipergunakan untuk melakukan pemeliharaan seperti penggantian meter, tera, upah tukang.

2. Mengapa harus bayar pemakaian minimum

Untuk pengembangan pelayanan air minum dilakukan dengan membangun sistem pengolahan air mulai dari air baku, produksi, distribusi sampai ke pelanggan memerlukan biaya yang sangat tinggi sehingga untuk menutupi biaya tersebut, PDAM menerapkan
pemakaian minimum. Biaya saat pembangunan tersebut sudah diperhitungkan dengan pemakaian pelanggan sebesar 10 M3/ bulan. Jika tidak ada atau kurang dari 10 M3 maka
periode pengembalian biaya pembangunan menjadi lebih lama, padahal setiap tahunnya PDAM selalu mengembangkan dan memelihara infrastuktur perpipaan dengan sistem
pengolahan yang menyesuaikan dengan pertumbuhan jumlah pelanggan. (Pemulihan biaya operasional)

3. Pelanggan MBR kenapa juga diterapkan pemakaian minimum?

Baik pelanggan MBR maupun pelanggan lainnya biaya yang dikeluarkan untuk
pengembangan dan pemeliharaan sampai dengan pemakaian 10 M3 adalah sama, sehingga pelanggan MBR tetap dikenakan tarif minimum. Akan tetapi tarif air yang dikenakan kepada pelanggan MBR adalah tarif subsidi (dibawah harga pokok Produksi / harga modal).

4. Sesuai Permendagri No. 71 Tahun 2016 Tersebut, “Standar kebutuhan pokok air minum adalah kebutuhan air sebanyak 10 m kubik/ Kepala Keluarga/bulan atau 60 liter/orang/hari, atau sebesar satuan volume lainnya. Pemakaian air standar yang sehat untuk satu keluarga adalah 10 M3, baik untuk konsumsi maupun MCK. Jadi diharapkan masyarakat
tidak lagi menggunakan air sungai yang tidak sehat. (ad-sb)

Check Also

Walikota Berbincang Santai Bersama Cinta Laura, Nikmati Sensasi Rumah Hantu

BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Aktris Cinta Laura dan aktor Herjunot Ali, Sabtu (19/10) malam, hadir di …