Refleksi Akhir Tahub 2019, Belenggu Masalah Serukan Solusi Sistem Islam

BANJARMASIN, SuaraBorneo – 2019 segera berakhir, banyak catatan dari berbagai bidang, terhadap sorotan pembangunan Indonesia sepanjang tahun, yang ternyata makin memburuk, akibat tidak diterapkannya aturan Allah SWT secara menyeluruh.

Pandangan ini tergambar, saat diskusi refleksi akhir tahun, bersama para pakar, di Waroeng Bamboe, Sabtu (28/12/19).

Contohnya di bidang ekonomi, bersama Ketua Umum Asosiasi Konsultan Ekonomi dan Bisnis Syariah, Fauzan Al-Banjari.

Ia ragu akan ada perbaikan ekonomi di 2020, karena masih ngototnya pemerintah, dalam menerapkan Sistem Neo Liberal Kapitalis.

Akibatnya kemiskinan diperkirakan tetap ‘terpelihara’, karena hitungan kesejahteraan berdasarkan rata-rata, bukan orang per orang.

Di bidang Hukum, menurut Dosen Ilmu Hukum Universitas Lambung Mangkurat, Deden Koswara, 2019 jadi catatan kelam bagi umat Islam, lantaran banyaknya kasus penghinaan ajaran Islam, yang ‘menghilang’ sebelum diproses pengadilan.

Ia bahkan memprediksi, penegakan hukum akan semakin represif di 2020, seiring terkonsolidasinya para elite, dalam mengamankan kepentingan. Termasuk perkiraan terjadinya kriminalisasi, terhadap hak kebebasan berekspresi, dan hak berserikat serta berkumpul.

Di bidang kesehatan, oleh Sekretaris Jendral Healthcare Professional for Sharia (Help-S), Fauzan Muttaqien, ada pengamatan munculnya bom waktu musibah baru, bernama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Lembaga tersebut memperkeruh permasalahan negeri, dengan banyaknya kekisruhan yang ditimbulkan.

Seperti kesulitannya operasional rumah sakit, akibat besarnya tunggakan hutang BPJS.

Menurunnya kualitas pelayanan, akibat tekanan biaya dari BPJS, hingga membengkaknya iuran, yang semakin melilit masyarakat berpenghasilan rendah.

Semuanya saling berkaitan dengan bidang penunjang, seperti ekonomi, sehingga memerlukan penyelesaian bersama aspek lainnya, agar kesehatan rakyat bisa dijamin penuh Pemerintah, tanpa memungut biaya warga negaranya.

Untuk bidang Dunia Islam, dipaparkan oleh Mubalig terkenal asal Martapura, Muhammad Taufik NT.

Sorotan utamanya, adalah terkoyaknya ukhuwah Umat Islam sedunia, akibat nasionalisme. Sehingga dengan alasan tersebut, Pemerintah Indonesia tidak bisa berbuat banyak terhadap kaum muslimin yang tertindas di berbagai negara, seperti tragedi Muslim Uighur yang kembali menyita perhatian publik.

Namun optimisme membuncah di paparan bidang politik, bersama seorang pengamat asal Kalimantan Selatan, Sutarto.

Ia mengaku cukup senang dengan kondisi perpolitikan 2019. Meski terjadi banyak masalah, ternyata dibalik semua itu, mulai muncul adanya ide politik Islam, dengan tawarannya berupa persatuan, dan solusi permasalahan agama lewat syariat Islam.

Namun sayangnya, usulan-usulan tersebut suka diberangus rezim, sebelum merebak lebih luas ke permukaan publik, dengan alasan radikal.

Isu tersebut pula yang menjadi kambing hitam pemerintah, atas banyaknya kegagalan peran pembangunan.

Namun di tengah cengkeraman masalah yang membelenggu umat, Ustadz Hidayatul Akbar selaku pengurus Forum Intelektual Muslim Banua menyampaikan optimisme kebangkitan Islam. Bahwa Rasulullah SAW memberikan kabar akan tegaknya Khilafah setelah masa pemerintahan diktator.

“Amerika memprediksi Khilafah akan berdiri tahun 2020, dan Rusia memprediksi tahun 2025” demikian pernyataan Ustadz Hidayatul Akbar dalam wawancara dengan sejumlah awak media yang hadir.

Menurutnya telah muncul semangat persatuan dan kesadaran politik umat di Indonesia yang ditandai dengan adanya gerakan Aksi Bela Islam 212.

Diskusi ini dihadiri para tokoh masyarakat, tokoh agama, dan para Insan media. (*/ad)

Check Also

Tingkatkan Kolaborasi dan Sinergitas, Kalsel Putuskan Mata Rantai Covid-19

BANJARMASIN, SB – Bertempat di Rupatama Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) berlangsung Penandatanganan kesepakatan …