Pelaku Seludupkan PMI Non Prosedural ke Malaysia Digagalkan Polsek Entikong

ENTIKONG, SuaraBorneo – Tidak bisa di pungkiri lagi wilayah perbatasan Indonesia Malaysia Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau merupakan daerah yang sangat rawan kegiatan penyeludupan barang maupun orang secara ilegal.

Saat ini, Polsek Entikong Polres Sanggau berhasil mengagalkan kasus penyeludupan tujuh orang Warga Negara Indonesia yang diduga kuat akan menjadi Pekerja Migran Indonesia secara ilegal atau non prosedural ke negara tetangga Malaysia.

dari tujuh korban calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke malaysia hanya memiliki dokumen perjananan keimigrasian seperti paspor dan tidak memiliki permit atau vissa kerja.

“Sebagaimana kita ketahui bahwa wilayah perbatasan Indonsia Malaysia adalah daerah yang sangat rawan untuk kegiatan penyeludupan barang maupun secara ilegal,” ungkap Iptu Sukiswandi Panit Reskrim Polsek Entikong. Senin,(17/2/2020).

 

“Ada dua kasus tindak pidana perlindungan Pekerja Migran Indonesia yang kita tangani dengan hari yang berbeda yakni hari senin dan kamis lalu,” jelas Iptu Sukiswandi panit Reskrim polsek Entikong.

“Jumlah korban ada tujuh orang satu di antaranya anak anak dan pelaku dua orang warga kabupaten Kota Pontianak berinisial HR dan HT,” ungkapnya.

Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban penyeludupan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal atau non prosedural tersebut mengaku dirinya di iming iming oleh kawannya yang sudah berada di Malaysia dengan gaji cukup besar. “Saya ke Malaysia itu rencananya mau nyusul kawan di sana,” ungkap Misahwan calon PMI non prosedural.

“Gaji kalau disana katanya dua ribu lebih ringgit malaysia,” ujarnya.

Sedangkan salah satu pelaku yang berinisial HR menjelaskan bahwa dirinya sebagai jasa tukang angkut para calon PMI tersebut. “Saya cuma sebagai jasa tukang angkut mereka saja antar sampai ke kuching,” jelas HR pelaku asal kabupaten kota pontianak.

“Kalau antar sampai kuching itu di kasi lima ratus ribu rupiah perorang,”ujarnya.

ketujuh korban calon Pekerja Migran Indonesia tersebut selanjutnya akan di serahkan kepada pos pelayanan penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonsia (P4TKI) Entikong yang nantinya akan di serahkan kepada Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Barat untuk memfasilitasi proses pemulangan ke kampung halaman mereka masing masing.

Sedangkan atas perbuatan kedua pelaku berinisial HT dan HR tersebut akan dijerat undang undang nomor 18 tahun 2017 tentang perlindungan pekerja migran indonesia pasal 81 orang perseorangan yang melaksanakan penempatan pekerja migran indonesia sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 69 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda lima belas miliyar rupiah. (BRY)

Check Also

Wakil Ketua II DPRD Pimpin Sidang Jawaban Pemerintah Atas Pandangan Umum Fraksi Terhadap RDTR Sungai Ringin

SINTANG, suaraborneo.com – Wakil Ketua II DPRD Sintang, Heri Jambri, SH,.M.Si memimpin rapat paripurna ke …