Bali : Pertahankan Jati Diri Budaya Di Pusaran Arus Modernisasi

 

Oleh : Ahmad Suhaili

Seiring tuntutan zaman, masyarakat Bali harus hidup dalam arus modernisasi.

Tapi kondisi itu tak serta merta lalu membuat masyarakat Bali menghilangkan warisan leluhur yakni budaya dan adat istiadatnya.

Bali memang harus modern, namun tetap berlandaskan budaya dan istiadat karena itu satu-satunya warisan leluhur.

Modernisasi boleh saja mengubah paradigma berfikir dan perilaku masyarakat di tengah modernisasi dan tantangan globalisasi.

Jati diri Bali sebagai kekayaan dan warisan luhur masyarakat Bali harus dipertahankan.
Jati diri Bali hanya bisa berdiri tegak jika diperkuat dengan tradisi budaya masyarakatnya.

Sepanjang masyarakat bisa menjaga tradisinya, maka sepanjang itu pula Bali akan tetap dikenal dan disegani oleh bangsa dan pihak manapun.

Semua agama boleh tumbuh dan hidup di sini, namun budaya sebagai akar masyarakat Bali tidak boleh hilang.

Dalam perspektif sejarah, bagaimana Pulau Bali sejatinya mewarisi agama Hindu Dravida 2.500 tahun sebelum masehi dan sampai kini jejak tuhan itu tetap ada di Pulau Dewata.

Bahkan saat Kerajaan Majapahit runtuh, atas kehendak yang kuasa, Bali tetap berdiri tegak hingga kini, karena masyarakatnya tetap melestarikan budaya yang luhur.

Pendidikan dan pergaulan dunia menuntut masyarakat Bali harus berubah, bisa menghormati keragaman dan pluralisme.

“Kami masyarakat Bali terus kedepankan menjaga melestarikan budaya, kearifan lokal dengan baik.

Itulah sumber daya yang kami miliki sebagai destinasi pariwisata Nusantara (Indonesia) dan manca negara meski penuh dinamika dan tantangan,”terang Ketua PWI Bali, Dwikora ketika melakukan pertemuan dengan pengurus dan anggota PWI Kabupaten Kapuas, Kalteng di Aula PWI Bali Senin (24/2/2020)*******

Check Also

Dampak Covid-19, Anggaran Peningkatan Jalan Status Provinsi di Sanggau Terpangkas

SANGGAU, SB – Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalbar yang dipimpin H Subhan Nur menemui …