Aksi Unjuk Rasa Warga di Perkebunan Perusahaan PT. PSA Ricuh

BENGKAYANG, SuaraBorneo.com – Puluhan Masyarakat melakukan aksi unjuk rasa di perusahaan kelapa sawit PT. Perintis Sawit Andalan (PSA) di kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang. Aksi unjuk rasa dari masyarakat tersebut meminta agar pimpinan perusahaan turun dari jabatannya, Selasa pagi (2/6).

Aksi tersebut sempat rusuh dan terjadi aksi dorong-dorongan dengan salah satu penjaga yang berpihak dengan perusahaan.

Masyarakat mendatangi portal penjagaan di perusahaan sawit. Aksi yang sempat rusuh dan terjadi kejar-kejaran antara peserta demo dengan oknum masyarakat dapat diredakan.

Pendemo menggunakan ikat kepala kain warna merah yang mengatas namakan warga desa Belimbing, Kecamatan Lumar. Poin dari demo ini adalah meminta agar pimpinan perusahaan turun dari jabatannya. Pasalnya selama ini, masyarakat kesal keberadaan PT. PSA yang beroperasi di desa Belimbing tidak memberdayakan sebagian masyarakat setempat, dan tidak peduli CSR.

Dalam spanduk yang dibentangkan masyarakat pun meminta agar Gubernur Kalbar mencabut ijin perusahaan tanpa HGU. Sebagian masyarakat menyesalkan tidak ada kehadiran dari pimpinan perusahaan untuk memberikan tanggapan. Sementara yang hadir dalam orasi ada aparat TNI-POLRI bersenjata lengkap, dan sekuriti perusahaan.

Ketua DAD Desa Belimbing, Nordi menyatakan, pimpinan perusahaan yang berinisial S tidak memperdulikan warga desa Belimbing. Namun yang lebih dipedulikan oleh S adalah pihak kepolisian dan TNI.

“Kami demo, karena kami merasa dirugikan bapak S (Oknum Perusahaan), bapak-bapak perlu tahu. Dengan Perangkat Desa Pak S tidak dipercaya, tidak dihargai. Dari RT, Dusun, Kepala Adat, dan masyarakat Desa Belimbing tidak dipedulikan Pak S,” ungkap Nordi.

Nordi dalam orasinya menyebutkan, pihak perusahaan terutama pimpinan lebih pro dan peduli terhadap pihak kepolisian.

“Yang dipedulikan pak S hanya orang Polsek, Polres, Polda bahkan Polri serta TNI. Kita ltunya duit, ini kata pak S,” ucapnya meniru.

Nordi juga menyatakan, bahwa pimpinan S mengadu domba antara masyarakat Belimbing dengan aparat.

“Kami mengambil kesimpulan bahwa pak S mengadu domba masyarakat Belimbing dengan aparat. Ini yang kami tidak suka, pernah juga pak S menyatakan tidak takut Mandau Dayak,” pungkas Nordi.

Sementara itu, menanggapi polemik yang terjadi, Ketua DAD kabupaten Bengkayang, Martinus Kajot langsung turun memastikan, agar tidak terjadi hal-hal negatif. Ia meminta agar sumber daya yang ada di wilayah tersebut dapat dimanfaatkan, dan diperdayakan.

“Saya hadir di sini sudah lapor dengan Kapolres, oleh karena itu sampaikan apa yang kita inginkan, mengapa perusahaan mempergunakan orang lain, warga setempat tidak diperhatikan. Kita menghadirkan perusahaan di sini agar mensejahterakan masyarakat, saya lihat bakat-bakat orang di sini bawa alat berat banyak, kerja juga bisa, apalagi mau mupuk sabwt juga bisa,” sebut Ketua DAD Bengkayang ini.

Kajot meminta kepada warga yang hadir aksi demontrasi hari ini agar menyampikan aspirasi tidak melanggar hukum, sampaikan dengan kondusif.
“Aparat Kepolisiandan TNI juga tidak mau masyarakatnya ribut,” pinta Kajot.

Sementara itu, Suara borneo coba menghubungi pihak humas perusahaan, dan sampai berita ini naik belum ada tanggapan. (Sr).

Check Also

Tingkatkan Kolaborasi dan Sinergitas, Kalsel Putuskan Mata Rantai Covid-19

BANJARMASIN, SB – Bertempat di Rupatama Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) berlangsung Penandatanganan kesepakatan …