Warga Komplek Grand Purnama 2 Gelar Bubur Asyura Pada 10 Muharam

HANDIL BAKTI, SuaraBorneo.com – Perayaan 10 Muharram selalu identik dengan beberapa aktivitas keagaaman, salah satunya Bubur Asyura.

Warga bergotong royong membuat bubur asyura yang terbuat dari beras dan campuran sayuran, kacang-kacangan, telor dan ayam dan setelah matang langsung dibagikan kepada warga.

Biasanya bubur asyura tersebut akan disajikan sebagai hidangan berbuka puasa sunah Hari Asyura.

Seperti yang dilaksanakan warga Komplek Grand Purnama 2 Jalur H yang pertama kali memasak bubur asyura untuk dibagikan kepada warga sekitar jalur F dan H.

Mama Kenzo salah satu warga menuturkan, semoga tradisi ini menjadi kebiasaan kita dimana setiap 10 Muharram selalu membikin bubur asyura.

Seluruh bahan yang diolah merupakan hasil sumbangan warga.”Ada yang nyumbang barang seperti beras ,sayuran dan bahan lainnya ada pula yang menyumbang berupa uang,” katanya.

Hasil sumbangan dari warga itulah yang digunakan untuk pelaksanaan membuat bubur asyura.

“Alhamdulillah hasil sumbangan kami dapat membuat bubur asyura sampai 3 kawah,” bebernya.

Setelah masak, mereka akan mengundang bapak-bapak atau kaum pria untuk makan bersama. Namun sebelum sesi makan berlangsung, kaum pria biasanya akan membaca doa terlebih dahulu. Perlu diingat pula bahwa bubur Asyura tidak mudah dijumpai karena hanya disajikan saat perayaan 10 Muharram saja.

Berawal dari perang Badar

Tentang asal usul Bubur Asyura. Konon, bubur ini berawal dari perjuangan Nabi Muhammad SAW saat berjuang dalam perang Badar. Kala itu, disebutkan bahwa seorang sahabat Nabi sedang mengolah hidangan untuk para prajurit Islam.

Hidangan tersebut ternyata olahan bubur. Namun, ia tidak menyangka bahwa jumlah prajurit pada saat itu sangat banyak, sementara porsi yang sedang dimasak sedikit. Nabi Muhammad SAW kemudian memerintah salah seorang sahabat untuk mengumpulkan semua bahan makanan yang mereka temukan, lalu dicampurkan ke dalam olahan bubur yang sedang dimasak.

Tujuannya adalah untuk menambah jumlah porsi makanan, sehingga cukup untuk memberi makan seluruh prajurit. Meski belum diketahui kebenarannya, kisah ini cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan telah dijadikan tradisi khusus untuk menyambut perayaan Muharram.

Jadi tradisi di Kalimantan Selatan

Jelang perayaan 10 Muharram, masyarakat di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, turut meramaikan momen spesial ini dengan memasak dan menyantap Bubur Asyura bersama. Mereka kerap menyuguhkan bubur ini untuk para anak yatim piatu dan kaum dhuafa.

Kegiatan tersebut sudah menjadi tradisi dan kegiatan tahunan. Biasanya, ibu-ibu rumah tangga akan bergotong royong membuat Bubur Asyura menggunakan berbagai bahan baku, termasuk beberapa jenis bumbu rempah-rempah. Menariknya, seluruh bahan baku tersebut dibeli dari hasil patungan antar sesama tetangga kompleks. (ad-sb)

Check Also

Wabup HSS Jadi Narasumber di STAI Darul Ulum Kandangan

KANDANGAN, SuaraBorneo.com – Bertempat di Aula STAI Darul Ulum Kandangan Wakil Bupati Hulu Sungai Selatan …