Banjir Di Kabupaten Banjar Meluas, Petani Terpaksa Jual Gabah Ke Pengepul

MARTAPURA, SuaraBorneo.com – Bencana banjir mengepung sejumlah wilayah di provinsi Kalimantan Selatan tak terkecuali di Kabupaten Banjar tepatnya di Desa Sungai Batang RT 3 kecamatan Martapura Barat, para petani serentak menjual gabah kering hasil panennya ke pengepul, Selasa (12/2/2021).

Menurut pengakuan salah seorang petani setempat H. Jumrani, harga gabah kering yang dijual ke pengepul dihargai 60.000/belik atau naik 5.000 rupiah dari sebelumnya yang dihargai 55.000/belik. Gabah kering jenis padi unggul memang lebih murah ketimbang padi tahunan jenis Siam.

“Kami disini serentak menjual gabah kering ke pengepul hingga yang tersisa hanya untuk kebutuhan makan saja. Gabah dihargai 60.000/belik atau lebih mahal 5.000 rupiah dari sebelumnya yang hanya 55.000/belik. Terpaksa gabah dijual habis hingga kami tak punya gabah untuk dijadikan bibit lagi,” ujar H. Jumrani saat diwawancarai

Mewakili petani lainnya, H. Jumrani berharap kepada pemerintah agar kiranya musim tanam kedepan pemerintah memberikan bantuan berupa bibit padi gratis keseluruh petani disini.

Sementara itu, ketua DPW Serikat Petani Indonesia (SPI) Dwi Putra Kurniawan mengatakan, kerugian finansial petani akibat bencana alam banjir kembali terjadi, ini harus dicarikan solusi bersama antara pemerintah untuk menjaga kehidupan petani, karena beban petani kita dimasa pandemi saja dilupakan seperti bantuan stimulus ekonomi yang diterima kawan-kawan UMKM dan buruh. Petani kita juga butuh perhatian pemerintah, sebab mereka saat ini bukan saja bertarung dalam masa pandemi, tapi juga bertarung dengan hama, perubahan iklim, tengkulak, bencana alam banjir ini bahkan kadang harus menerima kebijakan negara yang tidak berkeadilan ini.

Direktur Eksekutif WALHI Kal-Sel Kisworo Dwi Cahyono yang diwawancarai dilokasi banjir di Desa Sungai Batang menyampaikan bahwa bencana banjir terulang terus padahal sudah sering Saya/Walhi Kalsel ingatkan bahwa Kalsel dalam kondisi darurat ruang dan darurat bencana ekologis. Selain carut marut tata kelola lingkungan dan SDA, banjir kali ini juga sudah bisa diprediksi terkait cuaca oleh BMKG. Dan pemerintah lagi-lagi tidak siap. Akhirnya rakyat yang menanggung akibatnya.

“Saya mendesak agar Pemerintah terutama Gubernur, Bupati dan Walikota segera turun tangan untuk segera bertindak terutama sebelum banjir, pada saat banjir dan pasca banjir,” pungkas pria yang akrab disapa Cak Kis tersebut. (rf)

Check Also

Bantu Korban Banjir, Bank Kalsel Gelontorkan Dana Melalui CSR dan UPZ

BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Tingginya curah hujan yang mengguyur sejak beberapa hari terakhir mengakibatkan banjir hampir …