Tidak lama lagi, populasi orangutan di Kehje Sewen akan bertambah. Pada tanggal 14 April 2013 mendatang, tiga orangutan rehabilitan dari Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari akan segera dilepasliarkan ke hutan Kehje Sewen. Mereka bertiga adalah Juminten, Leo dan Titin. Berikut profil mereka.
Juminten
Diselamatkan dari hutan industri milik PT Surya Hutani Jaya (SHJ) di Sebulu, sekitar perbatasan Taman Nasional Kutai, Juminten ketika itu baru berusia 6-7 tahun. Di usianya itu, orangutan liar yang hidup alam bebas sejak lahir bisa dianggap sudah remaja karena mereka sudah lepas dari ibu mereka. Juminten, orangutan betina remaja tersebut ditemukan dalam blok tanaman industri akasia dan dibawa ke pusat rehabilitasi Yayasan BOS di Samboja Lestari pada 12 April 1998. Berdasarkan pemeriksaan kesehatan awal, saat itu Juminten memerlukan perawatan medis.
Pada 2010 Juminten kemudian dipindahkan ke pulau pra-pelepasliaran di mana dia bertemu Leo. Sudah beberapa waktu ini, keduanya menjalin hubungan. Sebuah catatan menarik tentang Juminten, dia sering terlihat merawat bayi orangutan betina lain dengan penuh kasih ketika ibunya sedang sakit. Juminten yang cantik kini berusia 21 tahun dan semakin berperilaku liar sebagaimana dia seharusnya. Dan tibalah waktunya untuk kembali ke rumahnya di hutan!
Leo
Leo adalah orangutan jantan yang diselamatkan saat masih berumur 4-5 tahun dari Sebulu, salah satu kawasan di Kalimantan Timur yang telah musnah oleh kebakaran hutan pada tahun 1997/1998. Dia dibawa ke Wanariset-Samboja (kini Samboja Lestari) pada 26 September 1997. Leo menunjukkan tingkah laku yang sangat liar, memperlihatkan bahwa dia tidak pernah atau jarang berhubungan dengan manusia. Setelah beberapa lama ditempatkan dalam kandang sosialisasi, Leo akhirnya dipindahkan ke sebuah pulau pra-pelepasliaran, Pulau 3, pada tahun 2009. Leo sangat senang tinggal di pulau. Dia menyesuaikan diri dengan cepat, memanjat pohon, membuat sarang, dan menunjukkan usahanya mencari makanan hutan secara aktif.
Pada 2010, kami mengenalkan Leo kepada beberapa orangutan betina – Eliza, Mona dan Juminten. Sekali lagi, dia menunjukkan perilaku ingin tahu, begitu lembut dan senang bermain dalam pendekatannya kepada mereka. Leo jelas tertarik kepada Juminten, tetapi terhadap Mona dan Eliza dia lebih berperan sebagai kakak. Kemajuan Leo telah meyakinkan kami bahwa dia telah siap untuk hidup di dalam hutan yang sebenarnya. Kini di usia 20 tahun, pejantan tampan dengan bantalan pipi besar ini tidak lama lagi akan pulang!
Titin
Titin adalah orangutan betina yang tiba di Samboja Lestari pada tanggal 9 Maret 1994. Dia diselamatkan di ibukota Kalimantan Timur, Samarinda, pada usia 4-5 tahun. Pada tahun 2000, Titin melahirkan bayi laki-laki, Titon, yang tinggal bersama ibunya sampai usia 7 tahun. Setelah Titon dipindahkan untuk bersama orangutan lain seusianya, pada 2008, Titin melahirkan bayi kedua – kali ini bayi perempuan – yang dinamai Tina-Toon. Pada akhir 2010, Titin dan putrinya Tina-Toon dipindahkan ke sebuah pulau pra-pelepasliaran, bergabung dengan Leo dan Juminten.
Sekarang setelah Tina-Toon meninggalkan ibunya untuk menjalani Sekolah Hutan, Titin terlihat banyak kemajuan, terutama keterampilan hutannya yang berkembang jauh lebih cepat. Meskipun ia tidak begitu dominan seperti Juminten, Titin adalah orangutan nomor dua yang disegani di pulau. Meski demikian, Titin tidak menunjukkan perilaku represif terhadap orangutan muda di pulau. Pada umumnya, dia adalah tipe orangutan yang ramah dan juga memiliki ketertarikan kepada Leo, pacar Juminten. Namun Juminten kelihatannya tidak keberatan sama sekali. Kehidupannya di pulau begitu indah dan berharga. Dan kini di usianya yang ke-23 tahun, Titin akan segera memulai perjalanan pulang ke rumahnya.