“TATO” DAN KEHIDUPAN “SIKALABAI” DI MENTAWAI | www.suaraborneo.com

“TATO” DAN KEHIDUPAN “SIKALABAI” DI MENTAWAI

Oleh Artini.

Perempuan di mana pun agaknya sama saja, tak bisa lepas dari asesoris, untuk melengkapi kecantikan mereka.
“Sikalabai” – perempuan—di Kepulauan Mentawai, 100 kilometer sebelah barat Pulau Sumatera, gugusan daerah terpencil yang hanya bisa dijangkau 10 – 15 jam dengan kapal ferry pada malam hari, juga lekat dengan berbagai perhiasan, bahkan kalau bisa dibawa mati.
Perhiasan itu berupa tato di pergelangan tangan, jari dan bahu, serta lehernya, bahkan di betis, yang menggambarkan berbagai asesoris. “Semuanya itu bukan sekadar untuk gaya, tapi juga lambang kesetiaan,” kata Maria, ibu tiga anak dari suku Sagaelok, Kecamatan Siberut Selatan, Mentawai.
Di pergelangan tangannya terlihat “gelang-gelang” berupa lukisan garis hitam yang dibuatnya semasa gadis dengan cara menusuk kulitnya dengan jarum halus yang lebih dulu diberi warna hitam yang diambil dari gumpalan asap lampu minyak yang dipadatkan. Di betis dan bahunya terlihat lukisan bunga, sementara di lehernya pun ada “untaian kalung” berupa garis lengkungan hitam.
Begitu juga dengan Agustina dari suku Sakaliau di kecamatan yang sama, selain mengenakan sekitar 15 kalung manik-manik yang diuntainya sendiri, juga mengenakan asesoris abadi yang dibuat seperti Maria. Ibu lima anak yang usianya sekitar 40-an ini mengaku, dengan tato terasa lengkaplah kecantikannya.
Berbeda dengan Maria, lukisan yang melekat di tubuh Agustina lebih berani dan kreatif. Garisnya tidak hanya satu lengkungan, tapi berderet-deret mirip gelang keroncong yang dikenakan anak gadis zaman sekarang. Kalung tato Agustina di leher pun lebih dari lima baris.
Sambil tersenyum, Agustina mengatakan, bahwa jumlah garis lengkungan tato juga menunjukkan kerajinan sikalabai. Makin banyak berarti makin rajin dan dari lukisan itu terlihat pula nilai seni sikalabai. “Hanya tato ini yang bisa dibawa mati, kalau kalung manik-manik ini pasti ditinggal,” kata Agustina yang saat itu mengenakan T-shirt. Sementara asap rokok tak henti-hentinya keluar dari lubang hidung dan mulutnya.
Sikalabai itu mengatakan, sampai mati pun ingin tetap cantik dan hanya tato lah yang bisa membuatnya seperti itu. Untuk melengkapi kecantikannya, sikalabai juga menjaga kehalusan kulit wajahnya dengan mengenakan “kasai” atau bedak dingin yang dibuat dari tepung beras dan ramuan daun-daunan yang diambil di belakang rumahnya. Kasai itu dipakai hampir sepanjang hari untuk menjaga kemulusan kulitnya.
Kini sudah tak banyak lagi wanita Mentawai seperti Maria dan Agustina yang melukis tubuhnya. Anak-anak gadisnya walau pun masih kelihatan sederhana, hampir tak ada yang bertato atau memotong giginya agar rata. Banyak anak gadis Mentawai kini mulai melangkah keluar, bersekolah, ikut suami –orang Padang—atau menjadi pembantu rumah tangga.
Dengan semakin banyak orang Minang yang bertransmigrasi ke Mentawai, maka kehidupan sikalabai pun ikut berubah. Wanita-wanita Minang ini terjun langsung ke kampung-kampung melakukan perdagangan dengan penduduk asli. Mereka juga membeli hasil kebun wanita Mentawai, misalnya kelapa yang harganya hanya Rp100, lalu ditukar dengan sehelai kain. Dengan demikian, wanita Mentawai secara tidak langsung belajar banyak dari wanita Minang.
Sebenarnya tak banyak wanita Mentawai yang menikah dengan laki-laki Padang, mungkin karena agama, bahasa atau adat istiadat yang berbeda. Apalagi sejak menempati rumah-rumah sederhana yang disiapkan Pemerintah di Perkampungan Kesejahteraan Masyarakat Terasing (PKMT) di beberapa kecamatan di Mentawai, mereka lalu menjadi komunitas terpencil sendiri pula. Khusus di Kecamatan Siberut Selatan, menurut Camat Hasril BA, baru ada delapan PKMT, sehingga belum semua suku asli di Mentawai ini tertampung.

Masih sederhana

Sekalipun sudah banyak perubahan lewat hubungan dengan berbagai suku yang datang ke Mentawai, di samping peraturan pemerintah, sentuhan agama, namun kehidupan wanita Mentawai terlihat masih sangat sederhana. Rumah-rumah di Puro 1 PKMT, Kecamatan Muara Siberut, misalnya, terlihat kusam gelap, apalagi pada siang hari karena semua wanita keluar rumah mencari makan di tepi-tepi sungai atau di ladang-ladang.
Para sikalabai yang rata-rata berbadan kurus ini memang harus kerja keras, mulai dari terbitnya sang fajar sampai senja hari. Maria, misalnya, pagi-pagi buta sudah harus ke sungai untuk menangkap ikan, hanya dengan sebuah galah dan sampan sederhana. Kemudian ia istirahat sejenak, lalu terus ke ladang mencari kayu api. Begitulah rutinitasnya setiap hari.
“Kalau hanya duduk-duduk saja, tentu tak bisa makan,” kata Maria, yang suaminya juga seorang nelayan. Di dapurnya, hanya terlihat perabot masak yang semuanya sudah berwarna hitam legam serta beberapa lading. Tak ada lemari, kursi, apalagi TV, di rumah yang terbuat dari kayu itu.
Menngaku sudah 16 tahun tinggal di Puro 1 PKMT Muara Siberut, Maria mengungkapkan kebahagiaannya karena sudah punya tempat tinggal tetap. “Tidak seperti dulu lagi,” katanya sambil tertawa lebar, sehingga terlihat deretan giginya yang hitam akibat tembakau dan rokok.
Kalau ingin mencari aktualitasasi peran ganda wanita Indonesia, maka potret sikalabai Mentawai ini agaknya merupakan sebuah contoh nyata. Mereka benar-benar membagi dirinya untuk anak-anak dan adat nenek moryangnya, sehingga beban para suami jauh lebih ringan dibanding istri. Saat istri sudah mengayuhkan galahnya untuk menangkap ikan, sang suami masih “ngorok” di rumah.
Persoalan wanita Mentawai kelihatannya sederhana saja, namun tak disangka perlu perjuangan keras untuk mengangkat harkat kehidupan mereka. “Mereka itu rata-rata keras kepala, sulit untuk memasukkan suatu perubahan,” kata Reno Anggraini, penyuluh KB di Kecamatan Muara Siberut. Wanita Minang beranak satu ini pernah dihadang dengan lading ketika akan melakukan penyuluhan KB. Padahal, untuk menemui mereka saja perlu perjuangan maut, karena pemukimannya benar-benar berbatasan antara hutan dengan ombak yang ganas.
Ternyata, tradisi tua yang telah membudaya termasuk berbagai tabu yang justru merugikan kehidupan kaum wanita, sangat susah dihapus begitu saja. Misalnya saja, ibu yang baru saja melahirkan anak, akan segera membawa bayinya ke sungai dan tinggal seharian di sana, dan hanya pulang untuk makan. Ini dilakukan selama tiga bulan, bahkan kalau bisa sampai bayi bisa jalan. Yang mengerikan ialah, kalau ibu yang melahirkan itu ternyata meninggal, maka bayinya pun harus ikut mati.
Antropolog Stefani Coronnese dalam buku “Kebudayaan Suku Mentawai” mengungkapkan, bahwa “arat sabulungan” atau tradisi adat di Mentawai merupakan tradisi nenek moyang yang mutlak harus diterima tanpa gugatan, yang mendarah daging dan merupakan warisan suci yang harus dipelihara.
Menurut dia, arat sampai sekarang sulit dikikis habis di lubuk hati orang Mentawai karena pada hakikatnya merupakan agama, sehingga mereka masih melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Hasil penelitian juga menyebutkan, bahwa agama yang baru dipeluk pun sama sekali belum merasuk ke hati, sehingga tradisi tua yang membudaya itu sangat susah dihapus.
Kepercayaan terhadap obat “sikarai” atau dukun lebih ampuh dan manjur ketimbang obat-obatan Puskesmas, masih kuat. “Payah sekali mencari metode untuk mengubahnya,” kata Reno Anggraini.
Maria dan Agustina serta banyak wanita lainnya yang sampai sekarang hanya bisa berbahasa asli Mentawai, memilih tinggal di rumah setelah tugas-tugasnya di suingai atau di ladang sudah selesai, daripada mendengarkan ceramah KB.
Namun, sama dengan wanita lainnya di mana saja, Maria dan Agustina ternyata juga masih menyimpan cita-cita punya gelang emas dan rumah bagus, (T/SP01/SP03)
sumber photo 1 : protomalayans.blogspot.com
sumber photo 2 : diptha13.student.umm.ac.id/budaya/

No comments yet

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>