Dalam Persidangan, Saksi Narkoba Disumpah Sebelum Dimintai Keterangan

KALTARA, SuaraBorneo.com – Hari-hari kelabu menyelimuti kehidupan keluarga Alex Noor (38). Warga Gang Mahoni, Jembatan Besi, Kelurahan Lingkas Ujung, Kota Tarakan ini sejak 13 Desember 2020 lalu, terpuruk dalam sel tahanan Polda Kalimantan Utara di Tajungselor, karena terlibat dalam kasus Narkoba jenis Sabu-Sabu.

“Kasusnya sangat menarik,” kata Nazaruddin SH. Penasehat Hukum Alex Noor saat ditemui di Pengadilan Negeri (PN) Tarakan.

Yang menarik dalam kasus ini bukan soal berapa banyak barang bukti barang haram itu ditemukan dari terdakwa, tapi peranannya dalam kasus ini sehingga ia terseret. Saat ini perkaranya masuk dalam tahap mendengar keterangan saksi-saksi.

Ceritanya berawal ketika Polisi dari Resnarkoba Polda Kaltara menyamar sebagai pembeli menemui Alex menanyakan dimana bisa memperoleh barang. (Sabu-Sabu, Tanpa curiga Alex membawanya ke rumah Arsyad. Namun yang didapat bukanya ucapan terima kasih, melainkan perintah untuk tidak bergerak membuat Alex tak berkutik dengan barang bukti di tangannya.

Dalam kasus Alex Noor yang diadili Hakim Ketua Ahmad Syarifuddin SH MH dengan anggota Patria Gunawan SH dan Imran Marannu Iriansyah SH MH, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komang Noprizal Sahputra SH menghadirkan saksi Abdul Kadir di persidangan.

Ketua Lembaga Pemantau Penyelenggara Negara Republik Indonesia (LPPNRI) Kota Tarakan ini mengatakn Alex Noor merupakan komplotan dari Arsyad.

“Polisi sudah tahu Alex sebagai kaki tangan Arsyad. Dan Arsyad sendiri masih punya bos besar yang sampai saat ini belum tersentuh,” paparnya kepada Media.

Berdasarkan hasil penelusuran, ujar Ketua LPPNRI Tarakan Abd Kadir, kasus peredaran Narkoba di Tarakan sudah sangat parah, pemakainya mulai dari anak-anak hingga kakek-nenek.

“Kasus Narkoba di Tarakan ibarat virus sudah zona merah. Peredaran Narkoba jenis Sabu ini marak di masyarakat. Hal ini terlihat dari kenyataan persidangan, 70% perkara Narkoba, 5% sisanya kasus kriminal seperti pencurian, cabul, penganiayaan, dan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga),” katanya.(mnd).

Check Also

Sosialisasi Perda Nomor 02 Tahun 2016 Kepemudaan, Anggota DPRD Fraksi Partai PSI Komisi 10, Eneng Malianasari

JAKARTA, suaraborneo.com – Anggota DPRD Fraksi partai PSI Komisi 10, Eneng Malianasari, S. Sos. terus …

//ugroocuw.net/4/4267251
error: Off