Connect with us
FILE-MASAK-LOGO-SB-5

Kaltara

Bersama Istri dan Staf, Gubernur Bedah Rumah Nenek Zaharah Hingga Malam

Published

on

KALTARA, SuaraBorneo.com – Nenek Zaharah (70) seorang wanita paruh baya yang hidup sebatang kara di sebuah gubuk berukuran 2×2 meter menyita perhatian Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Drs H. Zainal A. Paliwang, SH, M.Hum.

Bersama istri Hj. Rachmawati Zainal dan seorang cucu serta sejumlah staf termasuk ajudan yang bermukim di rumah jabatan di Jalan Enggang Tanjung Selor, Gubernur mengunjungi kediaman nenek Zaharah, begitu sapaan akrabnya, yang tinggal di RT 05 Jalan Trans Kaltim Kecamatan Tanjung Palas Hulu, Kabupaten Bulungan, Ahad (8/8/2021).

Rumah yang ditempati nenek Zaharah terbuat dari seng bekas sejak belasan tahun silam. Atap rumahnya pun sudah mulai berlubang dan dinding rumahnya pun sebagian besar hanya tambalan seng bekas dan kain. Sehingga jika hujan turun, gubuk itu basah kuyup termasuk penghuninya.

Mendengar serta melihat langsung kondisi yang memprihatinkan itu, Gubernur bersama rombongan bergerak untuk membedah gubuk tua yang tidak dialiri listrik PLN itu.

“Seluruh tenaga yang ada di rumah jabatan kami kerahkan untuk membantu membongkar dan membedah tempat tinggal ibu Zaharah, agar dia bisa tinggal di tempat yang layak huni,” kata Gubernur.

Pengerjaan bedah rumah yang tak dilengkapi toilet itu mulai dilakukan sekitar pukul 13.00 hingga 20.00 Wita. Rencananya, pengerjaan rumah nenek Zaharah akan dilanjutkan hari ini.

“Kalau ada yang melihat tempat yang tidak layak dihuni oleh warga Kaltara, tolonglah diinformasikan ke kami. Karena saya tidak mau mendengar dan melihat ada warga saya yang tinggal di tempat yang tak layak huni seperti ini,” pinta Gubernur.

Ketika rumah itu hendak dibedah, nenek Zaharah dibopong oleh Gubernur ke rumah tetangga untuk sementara waktu hingga rumahnya selesai dikerjakan.

Di sisi lain, nenek Zaharah tak jarang harus menahan lapar ketika stok berasnya habis. “Suami saya sudah lama meninggal. Dulunya rumah saya ada tapi terbakar,” katanya berbahasa Bulungan.

Setelah itu dirinya memutuskan tinggal sendiri di gubuk tersebut. Untuk memenuhi kebutuhannya, si nenek Zaharah harus mencari sayuran yang tumbuh di antara semak belukar.

Untuk kebutuhan sehari-harinya seperti air mandi harus menggunakan air parit yang keruh. Parit ini pun merupakan tempat buang air besar maupun kecil.

Nenek Zaharah mengaku berasal dari Desa Mara Satu Kecamatan Tanjung Palas Barat. Bahkan sang nenek juga tidak memiliki identitas berupa Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

“Jadi untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah susah,” ujar salah satu tetangga nenek Zaharah seraya mengatakan rumah si nenek sering dimasukin ular hitam. “Tadi sebelum rombongan ke sini, ada ular hitam di atap rumahnya si nenek,” kata ibu berhijab ini.

Kondisi si nenek juga tidak bisa berjalan jauh. Dikarenakan kaki mengalami sakit hingga berjalan harus menggunakan tongkat kayu. (mndd)

 208 kali dilihat

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Umum

Populer