Daerah
Jalan Penghubung Taniran Kubah–Tawia Langganan Banjir, Warga Pertanyakan Peran Pemerintah
ANGKINANG, SuaraBorneo.com – Jalan alternatif yang menghubungkan Desa Taniran Kubah dengan Desa Tawia kembali terendam banjir setiap kali musim hujan tiba. Kondisi ini bukanlah peristiwa baru, melainkan masalah kronis yang telah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi konkret dari pihak berwenang.
Pantauan di lapangan menunjukkan, genangan air kerap menutupi badan jalan dengan ketinggian bervariasi, bahkan mencapai lutut orang dewasa saat curah hujan tinggi. Akibatnya, akses jalan warga terganggu, aktivitas ekonomi terhambat.
Ironisnya, meski jalan ini berstatus jalur alternatif vital yang menghubungkan dua desa, belum pernah tersentuh perbaikan serius. Tidak terlihat penimbunan jalan, maupun upaya teknis jangka panjang untuk mengatasi banjir yang terus berulang. Yang ada hanyalah genangan demi genangan yang seolah dibiarkan menjadi “pemandangan tahunan”.
Sejumlah warga mengaku kecewa dan lelah dengan kondisi tersebut. Mereka menilai pemerintah hanya hadir saat pendataan atau peninjauan singkat, namun lenyap ketika solusi nyata dibutuhkan. Janji-janji perbaikan yang sempat disampaikan tak pernah berujung pada tindakan di lapangan.
“Setiap tahun begini terus. Kalau hujan, pasti banjir. Tapi sampai sekarang tidak ada perubahan apa-apa,” keluh seorang warga setempat.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: di mana peran pemerintah daerah? Apakah jalan penghubung antar desa tidak masuk dalam prioritas pembangunan? Ataukah keluhan warga di kawasan pinggiran memang kerap terpinggirkan dari perhatian?
Jika dibiarkan berlarut-larut, banjir langganan ini bukan hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memperlebar jurang ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Warga berharap, persoalan ini tidak lagi berhenti pada laporan dan dokumentasi, melainkan segera ditindaklanjuti dengan langkah perbaikan nyata dan berkelanjutan, bukan sekadar tambal sulam atau wacana musiman. [SyFaturR/SB]