Bengkayang
Lintas Sektoral Apresiasi Gereja Cegah Gangguan Kamtibmas di Perbatasan RI-Malaysia
BENGKAYANG, suaraborneo.com – Libatan lintas sektoral di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, memperkuat konsolidasi guna mendorong peran strategis gereja dalam menghadapi dinamika keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah perbatasan.
Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas keamanan, kerukunan, serta ketahanan sosial di Kecamatan Jagoi Babang, wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia.
Untuk mewujudkan hal tersebut, instansi pemerintah bersama Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injil Indonesia (PGLII) menggelar diskusi terfokus (Focus Group Discussion/FGD) pada Senin, 25 Mei 2026. Diskusi kolaboratif ini bertujuan menyamakan persepsi dalam memetakan titik rawan gangguan kamtibmas di beranda depan negara.
Hingga saat ini, wilayah perbatasan RI-Malaysia di Kecamatan Jagoi Babang masih dihadapkan pada ancaman nyata.
Di antaranya peredaran gelap narkoba, Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dan penyelundupan barang ilegal. Jika dibiarkan, peredaran narkoba dikhawatirkan merusak masa depan generasi muda.
Pendeta Maikel Roki Mawuntu menegaskan, gereja memiliki peran sentral dan menjadi garda moral dalam menghadapi tantangan keamanan di kawasan perbatasan.
“Untuk menghadapi dinamika sosial dan mencegah gangguan kamtibmas, kuncinya adalah komunikasi yang memunculkan optimisme demi satu tujuan bersama,” ujarnya.
Maikel berharap diskusi lintas sektoral ini tidak berhenti sebagai seremonial, melainkan menjadi agenda berkelanjutan.
“Kami menaruh harapan besar agar komunikasi dan diskusi ini terus berlanjut, sehingga tidak putus dalam upaya menjaga stabilitas keamanan di daerah perbatasan,” kata dia.
Sesi diskusi berlangsung interaktif saat para peserta mempertanyakan regulasi pembawaan barang hingga prosedur administrasi bagi warga yang ingin beribadah ke Malaysia.
Menanggapi hal tersebut, pihak Bea Cukai dan Pengelola Pos Lintas Batas Negara (PLBN) langsung memberikan penjelasan teknis. Tokoh agama diharapkan bisa membantu menyosialisasikan regulasi kepatuhan aturan lintas batas ini kepada jemaatnya.
Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan Bea Cukai Jagoi Babang, Gregorio, menyatakan dukungan penuh atas keterlibatan tokoh agama. Menurutnya, Bea Cukai tidak bisa bekerja sendiri dalam mengawasi jalur-jalur ilegal di perbatasan.
”Kami sangat mendukung peran aktif gereja dalam membantu pencegahan gangguan kamtibmas. Pada prinsipnya, terkait pengawasan barang, kami tidak bisa sendiri mengawasi jalur-jalur tikus. Karena itu, kolaborasi ini sangat penting,” ungkap Gregorio.
Apresiasi senada disampaikan oleh Kepala PLBN Jagoi Babang, Misdo Jerry Purba. Ia menilai keterbatasan pemerintah dalam mengover seluruh persoalan perbatasan memerlukan uluran tangan dari elemen masyarakat, termasuk pemuka agama.
”Pemerintah memiliki keterbatasan untuk menjangkau semua potensi gangguan kamtibmas. Melalui gereja, imbauan keamanan bisa tersampaikan langsung ke masyarakat.
Kehadiran tokoh agama sangat krusial untuk mencegah hal-hal yang merugikan keamanan negara,” tutur Misdo.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Bengkayang, AF. Romy, mengingatkan seluruh elemen agar tidak lengah terhadap potensi gesekan sosial.
”Perbatasan adalah beranda depan kita. Saya mengajak tokoh-tokoh gereja untuk terus memperkuat kerukunan umat beragama. Mari kita tingkatkan kewaspadaan terhadap kerawanan sosial, utamanya bahaya narkoba dan perilaku menyimpang lainnya yang bisa merusak generasi muda Bengkayang,” kata Romy.
Melalui konsolidasi ini, pihak gereja sepakat mengambil peran aktif dalam membangun kesadaran hukum serta memperkuat pembinaan moral demi menjaga ketahanan sosial di Kabupaten Bengkayang. (Robin)