Bank Kalsel Perluas Layanan Masyarakat Dengan Operasikan 968 Agen ADINK ke Pelosok Pedesaan - SuaraBorneo.com
Connect with us

Banjarmasin

Bank Kalsel Perluas Layanan Masyarakat Dengan Operasikan 968 Agen ADINK ke Pelosok Pedesaan

Published

on

ADINK (Agen Digital Inklusif Keuangan). (Foto/Iklan)

BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Bank Kalsel terus memperluas jangkauan layanan keuangan bagi masyarakat dengan mengoperasikan 968 Agen Laku Pandai (Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif) yang tersebar di seluruh wilayah Kalimantan Selatan.

Direktur Utama Bank Kalsel, Fachrudin, menyatakan bahwa langkah ini merupakan komitmen bank untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat hingga ke pelosok pedesaan.

“Pencapaian 968 agen aktif ini adalah bagian dari strategi besar Bank Kalsel dalam mendukung misi pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait pemerataan akses keuangan,” ujar Fachrudin di Banjarmasin, Minggu.

Menurutnya, keberadaan agen yang diberi nama ADINK (Agen Digital Inklusif Keuangan) ini merupakan wujud konsistensi Bank Kalsel untuk memastikan layanan perbankan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama di wilayah yang jauh dari kantor cabang.

Dengan masifnya titik agen yang aktif, masyarakat di daerah terpencil kini dapat mengelola keuangan secara digital dengan lebih cepat, mudah, dan nyaman. Kehadiran ADINK juga diharapkan mampu membentengi masyarakat dari praktik keuangan ilegal serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui efisiensi transaksi.

Sebagai perpanjangan tangan bank, ADINK melayani berbagai keperluan dasar perbankan tanpa mengharuskan nasabah menempuh perjalanan jauh.

Beberapa layanan utama yang tersedia di agen ADINK meliputi pembukaan rekening tabungan, setoran dan penarikan tunai secara real-time, pembayaran tagihan (listrik, air, pajak, dll), hingga transfer dana antar-rekening. [adv]

Bagikan ke

Banjarmasin

Bank Kalsel Gelar Uji Coba/Simulasi Prosedur Tanggap Darurat di Kantor Pusat

Published

on

Bank Kalsel menggelar Uji Coba/Simulasi Prosedur Tanggap Darurat di Kantor Pusat Bank Kalsel, Banjarmasin, pada Sabtu (7/11/2026). (Foto/BankKalsel) 

BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Bank Kalsel menggelar Uji Coba/Simulasi Prosedur Tanggap Darurat di Kantor Pusat Bank Kalsel, Banjarmasin, pada Sabtu (7/11/2026). Simulasi ini merupakan rangkaian hari kedua Workshop Kebijakan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dan Uji Coba/Simulasi Prosedur Tanggap Darurat Bank Kalsel Tahun 2026, yang dibuka sehari sebelumnya oleh Direktur Operasional Bank Kalsel, Iwan.

Simulasi dipandu oleh narasumber Fajar Atrifani, S.E., M.M., BCCS, beserta tim dari BCM Indonesia, dan diikuti perwakilan seluruh divisi dan kantor cabang Bank Kalsel. Pelaksanaan simulasi dikawal langsung oleh Kepala Divisi Umum Bank Kalsel, Suriadi.

Dalam simulasi ini, peserta mempraktikkan langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi keadaan darurat di lingkungan kantor. Rangkaiannya dimulai dari peringatan dini, evakuasi melalui jalur yang telah ditetapkan, hingga berkumpul di titik kumpul.

Simulasi juga menguji kesiapan Tim Tanggap Darurat dan Tim Evakuasi Bank Kalsel, termasuk kelancaran koordinasi antarunit kerja. Sarana keselamatan seperti alat pemadam api ringan (APAR) dan sistem peringatan dini turut diperiksa untuk memastikan semuanya berfungsi saat dibutuhkan.

Selain evakuasi lapangan, Bank Kalsel melakukan uji coba Business Continuity Plan (BCP). Uji coba ini menilai kesiapan bank dalam menjaga atau memulihkan fungsi dan layanan kritis saat terjadi gangguan, termasuk kejelasan komunikasi, pembagian peran, dan eskalasi keputusan.

Seluruh rangkaian dilaksanakan secara tertib dan disiplin sesuai arahan narasumber, dengan mengutamakan keselamatan peserta agar latihan tidak menimbulkan risiko baru.

Suriadi mengatakan, simulasi ini penting agar setiap pegawai tidak hanya mengetahui prosedur tanggap darurat di atas kertas, tetapi juga terbiasa menjalankannya.

“Keadaan darurat bisa terjadi kapan saja. Melalui simulasi ini, kami ingin memastikan setiap pegawai tahu apa yang harus dilakukan, ke mana harus bergerak, dan kepada siapa harus melapor, sehingga keselamatan pegawai dan layanan kepada nasabah tetap terjaga,” ujar Suriadi.

Usai simulasi, peserta bersama narasumber melakukan evaluasi untuk mencatat temuan lapangan sebagai bahan perbaikan prosedur tanggap darurat Bank Kalsel secara berkelanjutan.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Bank Kalsel berharap budaya sadar risiko, peduli keselamatan, dan siap menghadapi keadaan darurat dapat terbangun di seluruh lingkungan kerja, dari kantor pusat hingga kantor cabang. [adv]

Bagikan ke
Continue Reading

Banjarmasin

Bank Kalsel Buka Workshop SMK3 dan Simulasi Tanggap Darurat, Perkuat Budaya Keselamatan Kerja

Published

on

Workshop Kebijakan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) serta Uji Coba/Simulasi Prosedur Tanggap Darurat Bank Kalsel Tahun 2026. (Foto/BankKalsel) 

BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Bank Kalsel resmi membuka Workshop Kebijakan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) serta Uji Coba/Simulasi Prosedur Tanggap Darurat Bank Kalsel Tahun 2026 pada Jumat (6/11/2026) di Banjarmasin. Kegiatan dibuka oleh Direktur Operasional Bank Kalsel, Iwan, dan berlangsung selama dua hari, 6–7 November 2026.

Workshop diikuti perwakilan seluruh divisi dan kantor cabang Bank Kalsel. Materi dibawakan oleh Fajar Atrifani, S.E., M.M., BCCS, beserta tim dari BCM Indonesia sebagai narasumber.

Dalam sambutannya, Iwan menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja merupakan tanggung jawab bersama antara Bank Kalsel sebagai pemberi kerja, seluruh pegawai, dan pihak lain yang berkegiatan di lingkungan bank.

“Penerapan SMK3 tidak cukup hanya berupa kebijakan tertulis. SMK3 harus dipahami, dilaksanakan, dan dibiasakan dalam aktivitas kerja sehari-hari,” ujar Iwan.

Ia menjelaskan, risiko keadaan darurat seperti kebakaran, gempa bumi, maupun gangguan lain terhadap operasional menuntut kesiapsiagaan yang terencana. Menurutnya, kelalaian dalam penerapan keselamatan kerja dapat berdampak pada manusia, aset, keberlangsungan layanan, hingga kepatuhan bank.

Selama dua hari, peserta mendapatkan pemahaman mengenai kebijakan SMK3, menguji prosedur tanggap darurat, mempraktikkan evakuasi lapangan, serta melakukan evaluasi untuk perbaikan berkelanjutan. Rangkaian kegiatan juga mencakup uji coba Business Continuity Plan(BCP).

Iwan turut menyampaikan empat hal yang perlu menjadi perhatian seluruh peserta:

1. Mengikuti sosialisasi dengan sungguh-sungguh, agar setiap pegawai memahami potensi bahaya, jalur pelaporan, peran masing-masing, dan tindakan yang harus dilakukan dalam situasi darurat.

2. Melaksanakan simulasi secara tertib dan disiplin sesuai arahan narasumber, dengan tetap mengutamakan keselamatan peserta dan tidak menimbulkan risiko baru selama latihan.

3. Memastikan kesiapan Tim Tanggap Darurat atau Tim Evakuasi, kelancaran koordinasi antarunit kerja, kejelasan jalur evakuasi dan titik kumpul, serta berfungsinya sarana keselamatan seperti alat pemadam api ringan (APAR) dan sistem peringatan dini.

4. Memanfaatkan uji coba BCP untuk menilai kesiapan bank dalam menjaga atau memulihkan fungsi dan layanan kritis saat terjadi gangguan, termasuk kejelasan komunikasi, peran, dan eskalasi keputusan.

“Manajemen berharap kegiatan ini tidak sekadar memenuhi agenda pelatihan dan kepatuhan, tetapi membangun budaya sadar risiko, peduli keselamatan, dan siap menghadapi keadaan darurat di seluruh lingkungan Bank Kalsel,” kata Iwan.

Iwan juga menyampaikan apresiasi kepada Divisi Umum, Divisi Human Capital, seluruh unit kerja terkait, serta BCM Indonesia atas dukungan dan koordinasi dalam persiapan kegiatan. [adv]

Bagikan ke
Continue Reading

Banjarmasin

Bank Kalsel: Tetap Tangguh, Terus Berbenah, dan Bertumbuh Bersama Banua

Published

on

Kantor pusat Bank Kalsel, Jalan Lambung Mangkurat Kota Banjarmasin. (Foto/Ist)

BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Dinamika perekonomian nasional, termasuk penyesuaian alokasi Transfer ke Daerah (TKD) dalam kebijakan efisiensi anggaran Pemerintah Pusat, menghadirkan tantangan baru bagi Bank Pembangunan Daerah (BPD) di seluruh Indonesia. Kebijakan ini memengaruhi kapasitas fiskal daerah dan berdampak pada penghimpunan dana pemerintah daerah di BPD. Kondisi tersebut juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan asset dan laba BPD. Bagi Bank Kalsel sebagai bank pengelola kas daerah Kalimantan Selatan, perubahan ini menjadi titik tolak untuk melangkah lebih jauh dan memperluas peran.

Bank Kalsel menjadikan kondisi ini sebagai momentum untuk memperkuat strategi bisnis dan mempercepat transformasi. Bank Kalsel terus meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam menghimpun dana dari berbagai sumber di luar pemerintah daerah, memperluas basis nasabah perorangan dan dunia usaha, mengembangkan layanan digital, serta memperkuat pembiayaan kepada sektor produktif, pelaku UMKM, dan masyarakat Kalimantan Selatan, Sabtu (7/11/2026).

Potensi besar yang kini sedang dioptimalkan adalah status Bank Kalsel sebagai bank devisa. Dengan status tersebut, Bank Kalsel melayani transaksi valuta asing, pengiriman uang antarnegara, dan pembiayaan perdagangan internasional. Bank Kalsel siap mendampingi pelaku usaha berorientasi ekspor di Kalimantan Selatan, mulai dari korporasi pengolah komoditas unggulan daerah hingga UMKM yang ingin menembus pasar global, termasuk dalam pengelolaan devisa hasil ekspor.

Bank Kalsel juga melayani kebutuhan valuta asing masyarakat Banua, seperti untuk ibadah haji dan umrah, pendidikan, maupun perjalanan ke luar negeri. Dengan begitu, perputaran dana dari aktivitas ekonomi daerah semakin banyak dikelola oleh bank milik daerah sendiri.

Langkah ini sejalan dengan semangat Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) agar BPD naik kelas, yakni berperan sebagai pengelola arus dana, penjaga likuiditas, dan penggerak ekonomi daerah. Kedekatan dengan pemerintah daerah dan pemahaman atas ekonomi lokal menjadi modal Bank Kalsel untuk menjalankan peran tersebut, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Kepercayaan masyarakat, dunia usaha, pelaku UMKM, dan seluruh pemangku kepentingan di Kalimantan Selatan adalah kekuatan utama Bank Kalsel. Untuk itu, Bank Kalsel terus berbenah dan menyambut baik kritik, masukan, serta saran yang membangun dari seluruh pihak demi menjadi bank yang semakin baik bagi Banua.

“Kami melihat perubahan ini sebagai peluang untuk tumbuh lebih luas. Dengan inovasi layanan dan peran sebagai bank devisa, Bank Kalsel siap menjadi mitra pelaku usaha dan masyarakat Banua, dari pasar lokal hingga pasar global. Kami mengajak seluruh masyarakat Kalimantan Selatan untuk terus memberikan dukungan dan kepercayaan kepada Bank Kalsel.Dukungan masyarakat adalah energi kami untuk terus berkembang, berkontribusi nyata bagi perekonomian daerah, dan menjadi kebanggaan Banua,” ujar Agus Setiawan, Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Kalsel.

Mari bersama-sama menjaga, mendukung, dan membesarkan bank milik masyarakat Kalimantan Selatan. Bank Kalsel, Setia Melayani Melaju Bersama. [adv]

Bagikan ke
Continue Reading

Banjarmasin

Pengurangan Dana TKD Ancam Kinerja Bank Kalsel, Pemerintah Diminta Siapkan Antisipasi

Published

on

Pengamat sosial Noorhalis Majid. (Foto/Ist)

BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Pengurangan Dana Transfer ke Daerah (TKD) tidak hanya berdampak terhadap kemampuan fiskal pemerintah daerah, tetapi juga berpotensi mengguncang kinerja Bank Pembangunan Daerah (BPD), termasuk Bank Kalsel.

Pengamat sosial Noorhalis Majid menilai, berkurangnya dana TKD telah memberikan tekanan terhadap hampir seluruh BPD di Indonesia. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat maupun pemerintah daerah agar keberlangsungan bank milik daerah tidak terancam.

“Kalau pemerintah pusat ingin mendorong perekonomian daerah, termasuk mempertahankan BPD di seluruh Indonesia, dampak pengurangan TKD semestinya sudah diantisipasi. Apakah pemerintah pusat memahami pengaruh kebijakan ini terhadap BPD?” ujar mantan Ketua KPU Kota Banjarmasin menjawab pertanyaan wartawan, Selasa (03/11/2026).

Menurut Majid yang pernah menjabat Kepala Perwakilan Ombudsman dua periode ini juga mengatakan, tanpa langkah antisipasi yang tepat, penurunan kinerja tersebut dikhawatirkan semakin memburuk dan mengancam keberlangsungan BPD. Bahkan, Bank Kalsel pun tidak boleh menganggap dirinya aman dari dampak kebijakan tersebut.

Karena itu, antisipasi tidak cukup hanya dengan mengoreksi kebijakan efisiensi dan pengurangan TKD dari pemerintah pusat. Bank Kalsel juga harus menyiapkan langkah strategis agar mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi dan kebijakan yang kurang berpihak terhadap daerah.

Noorhalis mengakui, persoalan yang dihadapi Bank Kalsel tidak sederhana. Penurunan kinerja tidak bisa semata-mata dibebankan kepada manajemen, karena turut dipengaruhi kebijakan pemerintah pusat dan kondisi ekonomi global yang berdampak terhadap perekonomian daerah.

Namun, menurutnya, kondisi tersebut justru menuntut Bank Kalsel lebih adaptif dan berani melakukan pembenahan.

Ada tiga langkah strategis yang perlu dipertimbangkan. Pertama, mendorong perputaran ekonomi daerah agar lebih dinamis dengan menempatkan Bank Kalsel sebagai salah satu motor penggeraknya.

Bank Kalsel perlu memperluas kerja sama dengan pengusaha lokal melalui berbagai asosiasi dunia usaha, termasuk Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Selama ini, sumber dana Bank Kalsel banyak bertumpu pada kas pemerintah daerah. Karena itu, perputaran dana pemerintah daerah semestinya tidak hanya menjadi sumber likuiditas bank, tetapi juga dimanfaatkan untuk menggerakkan aktivitas ekonomi dan dunia usaha di daerah.

Kedua, melakukan efisiensi secara menyeluruh terhadap pengeluaran perusahaan. Seluruh komponen belanja perlu dievaluasi, termasuk gaji, bonus, dan berbagai pengeluaran lainnya agar lebih rasional dan proporsional.

“Jangan sampai terjadi lebih besar pasak daripada tiang. Beban pengeluaran harus disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi perusahaan,” tegasnya.

Ketiga, membangun partisipasi yang lebih luas dengan melibatkan para pakar, akademisi, serta pelaku ekonomi. Menurutnya, kompleksitas persoalan yang dihadapi Bank Kalsel tidak mungkin diselesaikan hanya melalui pemikiran internal perusahaan. Diperlukan pandangan dan masukan dari berbagai pihak untuk merumuskan strategi penyelamatan dan penguatan bank daerah tersebut.

Noorhalis menegaskan, masyarakat Kalimantan Selatan pada dasarnya memiliki kepedulian besar terhadap keberadaan dan masa depan Bank Kalsel. Karena itu, kritik yang disampaikan publik seharusnya tidak dipandang sebagai serangan, melainkan bentuk kepedulian agar bank kebanggaan masyarakat Banua tersebut tetap sehat dan mampu bertahan.

“Yakinlah, semua warga Kalsel sangat cinta dan peduli terhadap keberadaan serta masa depan Bank Kalsel. Kalau pun ada kritik, itu merupakan bagian dari kepedulian untuk menyelamatkan Bank Kalsel dari kinerja buruk,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan, kinerja sebuah perusahaan atau lembaga tidak bisa dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya. Meski kebijakan pemerintah dan kondisi ekonomi global turut menentukan, kemampuan manajemen dalam membaca persoalan, mengambil keputusan, serta melakukan pembenahan tetap menjadi faktor penting.

Karena itu, Bank Kalsel dituntut tidak sekadar bertahan menghadapi tekanan pengurangan TKD, tetapi juga melakukan transformasi agar tidak terus bergantung pada dana pemerintah daerah dan memiliki sumber pertumbuhan bisnis yang lebih kuat. [adv]

Bagikan ke
Continue Reading

Banjarmasin

Bank Kalsel Perkuat Mengembangkan SDM Lewat Aksel University

Published

on

BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Bank Kalsel memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui Aksel University yang berlokasi di Kantor Pusat II Bank Kalsel, Jalan S. Parman, Banjarmasin.

Direktur Kepatuhan Bank Kalsel, Firmansyah, mengatakan Aksel University disiapkan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi karyawan, sekaligus terbuka bagi perusahaan daerah dan instansi lain.

Fasilitas ini dilengkapi sejumlah ruang kelas yang akan diisi instruktur untuk memberikan edukasi dan pelatihan, khususnya terkait operasional perbankan.

“Pendidikan dan pelatihan di Aksel University ini terbagi dalam beberapa kelas. Nantinya, kelas-kelas akan diisi instruktur yang memberikan pemahaman dan edukasi terkait kegiatan operasional perbankan,” ujarnya.

Bank Kalsel berencana segera meresmikan fasilitas tersebut. Ke depan, Aksel University diharapkan dapat dimanfaatkan perusahaan daerah, termasuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR), untuk meningkatkan kompetensi pegawai.

Melalui Aksel University, Bank Kalsel ingin memperluas akses pelatihan perbankan sekaligus mendorong peningkatan kualitas SDM di Kalimantan Selatan. [adv]

Bagikan ke
Continue Reading

Banjarmasin

Haul ke-80 Habib Basirih, Wagub Kalsel Hasnuryadi Ajak Jaga Persatuan dan Mempererat Kebersamaan Meneladani para Ulama

Published

on

Wakil Gubernur Kalimantan Selatan Hasnuryadi Sulaiman turut membaur dengan para habaib, ulama dan para tuan guru serta jamaah masyarakat di peringatan puncak haul ke-80 Habib Hamid bin Abbas Bahasyim (Habib Basirih). (Foto/Adpim)

BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Wakil Gubernur Kalimantan Selatan Hasnuryadi Sulaiman turut membaur dengan para habaib, ulama dan para tuan guru serta jamaah masyarakat di peringatan puncak haul ke-80 Habib Hamid bin Abbas Bahasyim (Habib Basirih), di area Kubah Keramat Basirih RT 13 Kelurahan Basirih Kota Banjarmasin, Sabtu (31/10/2026) siang.

Jamaah haul dari berbagai pelosok di Kalsel dan sekitarnya itu, berbondong-bondong datang melalui jalur sungai maupun darat, dan tidak sedikit yang tiba sejak subuh hari.

Sejumlah habaib dan ulama hadir, diantaranya Habib Idrus bin Abdullah Al Idrus, Habib Abubakar bin Abdul Kadir (Malang) , Habib Muhammad Ali bin Idrus Hasan bin Hamid Bahasyim, Habib Zakaria Bahasyim, dan Habib Hamdi Bahasyim, Walikota Banjarmasin Muhammad Yamin, serta sejumlah pejabat lingkup Pemprov Kalsel.

Pada kesempatan itu, Wagub Hasnuriyadi mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan, mempererat kebersamaan, serta meneladani keteladanan para ulama dalam kehidupan sehari-hari.

Kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW ujar Hasnuriyadi, hendaknya berjalan seiring dengan komitmen menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Perbedaan dan berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat harus disikapi dengan semangat persaudaraan, kekompakan, serta saling mendukung.

“Paling penting adalah cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Apa pun yang kita hadapi, tentunya kita harus selalu bersatu, solid, dan melakukan yang terbaik,” ungkap Wagub.

Tak lupa Wagub Hasnuryadi menyampaikan salam hormat dari Gubernur Kalsel H Muhidin kepada para jamaah haul yang hadir.

“Izinkan ulun menyampaikan salam hormat dari Gubernur H. Muhidin. Beliau juga memohon doa, dengan semua tantangan yang dihadapi saat ini, ada karhutla dan lain sebagainya. Mudah-mudahan kita semua diberikan kesehatan dan kemudahan,” ucap Hasnuriyadi.

Lebih lanjut dikatakan, pemerintah provinsi terus berupaya memberikan pelayanan dan melaksanakan pembangunan demi kesejahteraan masyarakat.

Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, habaib, dan alim ulama menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai persoalan serta mewujudkan Kalimantan Selatan yang lebih baik.

“Kami di pemerintah siap melaksanakan tugas. Namun, kami tidak mampu melaksanakannya sendiri. Tentunya kami sangat mengharapkan dukungan dan kerja sama seluruh masyarakat Banua, bimbingan para habaib dan ulama, serta yang paling penting doa kita bersama,” tuturnya.

Wagub Hasnuriyadi juga mengungkapkan rasa syukur atas keberadaan banyak ulama dan tokoh agama di Kalimantan Selatan yang selama ini menjadi panutan sekaligus sumber tuntunan bagi masyarakat. Kegiatan keagamaan seperti haul tidak hanya menjadi sarana mengenang perjalanan hidup dan perjuangan seorang ulama, tetapi juga momentum untuk memperkuat keimanan, meningkatkan ketakwaan, serta memperdalam kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Atas nama Pemprov Kalsel, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan seperti ini di seluruh wilayah Kalsel dan diharapkan masyarakat bisa menghadiri haul-haul seperti ini untuk meningkatkan ketaqwaan kepasa Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Diharapkan penyelenggaraan haul-haul berikutnya semakin baik, tertib, dan terus mempertahankan semangat kebersamaan yang telah terbangun.

Adapun rangkaian haul, dimulai pembacaan manaqib atau riwayat perjalanan hidup Habib Hamid bin Abbas Bahasyim disampaikan oleh Habib Fathurrahman Bahasyim.

Peringatan haul diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali mengenang keteladanan Habib Basirih sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan, persaudaraan, dan kebersamaan di tengah kehidupan bermasyarakat.

Tausiah atau pesan-pesan keagamaan disampaikan Pimpinan Rabithah Alawiyah (organisasi pencatat keturunan Nabi Muhammad SAW) untuk wilayah Martapura dan Kota Banjarbaru, Habib Idrus bin Abdullah Alaydrus dari Martapura Kabupaten Banjar. [ady/adpim]

Bagikan ke
Continue Reading

Banjarmasin

Bank Kalsel Perkuat Majukan Sektor UMKM di Kalsel Hadirkan Stan di University Aksel

Published

on

Direktur Kepatuhan Bank Kalsel, Firmansyah,saat berada si salah satu stan UMKM. (Foto/Humas Bank Kalsel)

BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Bank Kalsel terus memperkuat komitmennya dalam memajukan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kalimantan Selatan, dengan menghadirkan stan Aksel UMKM di University Aksel, serta galeri serupa di Kantor Pusat 2 Bank Kalsel, Jl. S. Parman, Banjarmasin. Selasa.

Direktur Kepatuhan Bank Kalsel, Firmansyah, mengungkapkan bahwa kehadiran Aksel UMKM merupakan langkah strategis untuk menampilkan berbagai produk kearifan lokal masyarakat Banua.

“Di Aksel UMKM ini kami tampilkan beberapa produk dari nasabah-nasabah binaan Bank Kalsel,” ujar Firmansyah.

Berbagai produk unggulan yang ditawarkan antara lain kain sasirangan khas Kalsel, kerajinan anyaman daun purun, aneka produk makanan ringan, hingga kopi dan berbagai produk pilihan lainnya.

Lebih lanjut, Firmansyah menjelaskan inisiatif ini bertujuan untuk mendongkrak kreativitas para pelaku UMKM. Kemitraan dengan Bank Kalsel diharapkan dapat menjadi pembuktian bahwa pelaku usaha daerah mampu menghasilkan karya terbaik yang siap diserap dan dijual secara luas kepada masyarakat.

Melalui fasilitas promosi ini, para pelaku UMKM juga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas usahanya serta memperkuat struktur permodalan.

Tidak hanya memberikan ruang pamer, Bank Kalsel juga berkomitmen mendukung kemudahan finansial pelaku usaha melalui berbagai skema pembiayaan yang inklusif. Salah satu ujung tombaknya adalah fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Betul, bisa melalui program KUR. Dan hal lainnya yang mungkin bisa kita bina langsung melalui beberapa program yang ada di Bank Kalsel,” tutup Firmansyah. [adv]

Bagikan ke
Continue Reading

Populer