Banjarmasin
190.707 Kepala Keluarga Berisiko Stunting di Kalsel
BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Kalimantan Selatan atau BKKBN Provinsi Kalsel mengadakan diseminasi hasil pemutakhiran pendataan keluarga dan data keluarga beresiko stunting tahun 2023.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalsel diwakili Sekretaris Perwakilan BKKBN Provinsi Kalsel, Lasma Uli Lumbantoruan mengatakan, kegiatan ini bertujuan agar data keluarga yang telah diverifikasi selama tahun 2023 lalu bisa dimanfaatkan oleh instansi terkait dalam melakukan intervensi percepatan penurunan stunting di Kalsel.
“Berdasarkan verifikasi dan validasi (verval) 2023 kemarin ada sebanyaki 190.707 kepala keluarga yang beresiko stunting di seluruh Provinsi Kalsel,” kata Lasma di Banjarmasin, Selasa (7/5/2024).
Dia menuturkan, berdasarkan hasil peninjauan kembali di semester I 2023 jumlah tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan hasil verval pada semester II.
“Berdasarkan peninjauan kembali hasil semester I dengan semester II kita mengalami penurunan yang cukup signifikan dari 200.000 sekian menjadi 190.707 kepala keluarga, yang didominasi oleh Kabupaten Barito Kuala,” jelasnya.
Adapun yang menjadi penyebab stunting di Kalsel, lanjutnya, yakni pernikahan usia muda yang masih tinggi dan juga pola asuh yang tidak benar.
Untuk itu pihaknya berkomitmen untuk meningkatkan edukasi pernikahan usia dini kepada remaja di Kalsel dan edukasi pola asuh kepada pasangan subur yang mempunyai anak balita dan batita.
Hal ini agar pola asuh dan pola pemberian makanan, khususnya makanan tambahan bisa lebih baik dari sebelumnya, dimana dalam pemberian makanan tambahan diatas enam bulan itu harus memperhatikan kecukupan protein pada anak agar bisa mencegah stunting pada anak.
“Selain pola asuh, faktor ekonomi juga menjadi penyebab stunting di Kalsel. Meskipun begitu penyebab paling signifikan tetap pola asuh , karena yang punya kemampuan belum tentu bebas dari stunting jika pola asuhnya kurang baik,” jelasnya.
Lebih jauh, Lasma mengatakan, melihat hal tersebut pihak BKKBN pusat pun telah mengadakan pertemuan dengan setiap BKKBN regional terkait dengan peningkatan akselerasi cakupan penimbangan balita di posyandu agar cakupan elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) bisa mencapai diatas 85 persen.
“Dengan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang terupdate adanya kenaikan 0,1 persen maka pusat melakukan pertemuan untuk menyusun upaya akselerasi cakupan penimbangan balita di posyandu agar e-PPGBM nya mencapai diatas 85 persen dan bisa dibandingkan dengan hasil SKI terbaru,” pungkasnya. (*)
Bagikan keBanjarmasin
Pengurangan Dana TKD Ancam Kinerja Bank Kalsel, Pemerintah Diminta Siapkan Antisipasi
BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Pengurangan Dana Transfer ke Daerah (TKD) tidak hanya berdampak terhadap kemampuan fiskal pemerintah daerah, tetapi juga berpotensi mengguncang kinerja Bank Pembangunan Daerah (BPD), termasuk Bank Kalsel.
Pengamat sosial Noorhalis Majid menilai, berkurangnya dana TKD telah memberikan tekanan terhadap hampir seluruh BPD di Indonesia. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat maupun pemerintah daerah agar keberlangsungan bank milik daerah tidak terancam.
“Kalau pemerintah pusat ingin mendorong perekonomian daerah, termasuk mempertahankan BPD di seluruh Indonesia, dampak pengurangan TKD semestinya sudah diantisipasi. Apakah pemerintah pusat memahami pengaruh kebijakan ini terhadap BPD?” ujar mantan Ketua KPU Kota Banjarmasin menjawab pertanyaan wartawan, Selasa (03/11/2026).
Menurut Majid yang pernah menjabat Kepala Perwakilan Ombudsman dua periode ini juga mengatakan, tanpa langkah antisipasi yang tepat, penurunan kinerja tersebut dikhawatirkan semakin memburuk dan mengancam keberlangsungan BPD. Bahkan, Bank Kalsel pun tidak boleh menganggap dirinya aman dari dampak kebijakan tersebut.
Karena itu, antisipasi tidak cukup hanya dengan mengoreksi kebijakan efisiensi dan pengurangan TKD dari pemerintah pusat. Bank Kalsel juga harus menyiapkan langkah strategis agar mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi dan kebijakan yang kurang berpihak terhadap daerah.
Noorhalis mengakui, persoalan yang dihadapi Bank Kalsel tidak sederhana. Penurunan kinerja tidak bisa semata-mata dibebankan kepada manajemen, karena turut dipengaruhi kebijakan pemerintah pusat dan kondisi ekonomi global yang berdampak terhadap perekonomian daerah.
Namun, menurutnya, kondisi tersebut justru menuntut Bank Kalsel lebih adaptif dan berani melakukan pembenahan.
Ada tiga langkah strategis yang perlu dipertimbangkan. Pertama, mendorong perputaran ekonomi daerah agar lebih dinamis dengan menempatkan Bank Kalsel sebagai salah satu motor penggeraknya.
Bank Kalsel perlu memperluas kerja sama dengan pengusaha lokal melalui berbagai asosiasi dunia usaha, termasuk Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Selama ini, sumber dana Bank Kalsel banyak bertumpu pada kas pemerintah daerah. Karena itu, perputaran dana pemerintah daerah semestinya tidak hanya menjadi sumber likuiditas bank, tetapi juga dimanfaatkan untuk menggerakkan aktivitas ekonomi dan dunia usaha di daerah.
Kedua, melakukan efisiensi secara menyeluruh terhadap pengeluaran perusahaan. Seluruh komponen belanja perlu dievaluasi, termasuk gaji, bonus, dan berbagai pengeluaran lainnya agar lebih rasional dan proporsional.
“Jangan sampai terjadi lebih besar pasak daripada tiang. Beban pengeluaran harus disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi perusahaan,” tegasnya.
Ketiga, membangun partisipasi yang lebih luas dengan melibatkan para pakar, akademisi, serta pelaku ekonomi. Menurutnya, kompleksitas persoalan yang dihadapi Bank Kalsel tidak mungkin diselesaikan hanya melalui pemikiran internal perusahaan. Diperlukan pandangan dan masukan dari berbagai pihak untuk merumuskan strategi penyelamatan dan penguatan bank daerah tersebut.
Noorhalis menegaskan, masyarakat Kalimantan Selatan pada dasarnya memiliki kepedulian besar terhadap keberadaan dan masa depan Bank Kalsel. Karena itu, kritik yang disampaikan publik seharusnya tidak dipandang sebagai serangan, melainkan bentuk kepedulian agar bank kebanggaan masyarakat Banua tersebut tetap sehat dan mampu bertahan.
“Yakinlah, semua warga Kalsel sangat cinta dan peduli terhadap keberadaan serta masa depan Bank Kalsel. Kalau pun ada kritik, itu merupakan bagian dari kepedulian untuk menyelamatkan Bank Kalsel dari kinerja buruk,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan, kinerja sebuah perusahaan atau lembaga tidak bisa dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya. Meski kebijakan pemerintah dan kondisi ekonomi global turut menentukan, kemampuan manajemen dalam membaca persoalan, mengambil keputusan, serta melakukan pembenahan tetap menjadi faktor penting.
Karena itu, Bank Kalsel dituntut tidak sekadar bertahan menghadapi tekanan pengurangan TKD, tetapi juga melakukan transformasi agar tidak terus bergantung pada dana pemerintah daerah dan memiliki sumber pertumbuhan bisnis yang lebih kuat. [adv]
Bagikan keBanjarmasin
Bank Kalsel Perkuat Mengembangkan SDM Lewat Aksel University
BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Bank Kalsel memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui Aksel University yang berlokasi di Kantor Pusat II Bank Kalsel, Jalan S. Parman, Banjarmasin.
Direktur Kepatuhan Bank Kalsel, Firmansyah, mengatakan Aksel University disiapkan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi karyawan, sekaligus terbuka bagi perusahaan daerah dan instansi lain.
Fasilitas ini dilengkapi sejumlah ruang kelas yang akan diisi instruktur untuk memberikan edukasi dan pelatihan, khususnya terkait operasional perbankan.
“Pendidikan dan pelatihan di Aksel University ini terbagi dalam beberapa kelas. Nantinya, kelas-kelas akan diisi instruktur yang memberikan pemahaman dan edukasi terkait kegiatan operasional perbankan,” ujarnya.
Bank Kalsel berencana segera meresmikan fasilitas tersebut. Ke depan, Aksel University diharapkan dapat dimanfaatkan perusahaan daerah, termasuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR), untuk meningkatkan kompetensi pegawai.
Melalui Aksel University, Bank Kalsel ingin memperluas akses pelatihan perbankan sekaligus mendorong peningkatan kualitas SDM di Kalimantan Selatan. [adv]
Bagikan keBanjarmasin
Haul ke-80 Habib Basirih, Wagub Kalsel Hasnuryadi Ajak Jaga Persatuan dan Mempererat Kebersamaan Meneladani para Ulama
BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Wakil Gubernur Kalimantan Selatan Hasnuryadi Sulaiman turut membaur dengan para habaib, ulama dan para tuan guru serta jamaah masyarakat di peringatan puncak haul ke-80 Habib Hamid bin Abbas Bahasyim (Habib Basirih), di area Kubah Keramat Basirih RT 13 Kelurahan Basirih Kota Banjarmasin, Sabtu (31/10/2026) siang.
Jamaah haul dari berbagai pelosok di Kalsel dan sekitarnya itu, berbondong-bondong datang melalui jalur sungai maupun darat, dan tidak sedikit yang tiba sejak subuh hari.
Sejumlah habaib dan ulama hadir, diantaranya Habib Idrus bin Abdullah Al Idrus, Habib Abubakar bin Abdul Kadir (Malang) , Habib Muhammad Ali bin Idrus Hasan bin Hamid Bahasyim, Habib Zakaria Bahasyim, dan Habib Hamdi Bahasyim, Walikota Banjarmasin Muhammad Yamin, serta sejumlah pejabat lingkup Pemprov Kalsel.
Pada kesempatan itu, Wagub Hasnuriyadi mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan, mempererat kebersamaan, serta meneladani keteladanan para ulama dalam kehidupan sehari-hari.
Kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW ujar Hasnuriyadi, hendaknya berjalan seiring dengan komitmen menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Perbedaan dan berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat harus disikapi dengan semangat persaudaraan, kekompakan, serta saling mendukung.
“Paling penting adalah cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Apa pun yang kita hadapi, tentunya kita harus selalu bersatu, solid, dan melakukan yang terbaik,” ungkap Wagub.
Tak lupa Wagub Hasnuryadi menyampaikan salam hormat dari Gubernur Kalsel H Muhidin kepada para jamaah haul yang hadir.
“Izinkan ulun menyampaikan salam hormat dari Gubernur H. Muhidin. Beliau juga memohon doa, dengan semua tantangan yang dihadapi saat ini, ada karhutla dan lain sebagainya. Mudah-mudahan kita semua diberikan kesehatan dan kemudahan,” ucap Hasnuriyadi.
Lebih lanjut dikatakan, pemerintah provinsi terus berupaya memberikan pelayanan dan melaksanakan pembangunan demi kesejahteraan masyarakat.
Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, habaib, dan alim ulama menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai persoalan serta mewujudkan Kalimantan Selatan yang lebih baik.
“Kami di pemerintah siap melaksanakan tugas. Namun, kami tidak mampu melaksanakannya sendiri. Tentunya kami sangat mengharapkan dukungan dan kerja sama seluruh masyarakat Banua, bimbingan para habaib dan ulama, serta yang paling penting doa kita bersama,” tuturnya.
Wagub Hasnuriyadi juga mengungkapkan rasa syukur atas keberadaan banyak ulama dan tokoh agama di Kalimantan Selatan yang selama ini menjadi panutan sekaligus sumber tuntunan bagi masyarakat. Kegiatan keagamaan seperti haul tidak hanya menjadi sarana mengenang perjalanan hidup dan perjuangan seorang ulama, tetapi juga momentum untuk memperkuat keimanan, meningkatkan ketakwaan, serta memperdalam kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Atas nama Pemprov Kalsel, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan seperti ini di seluruh wilayah Kalsel dan diharapkan masyarakat bisa menghadiri haul-haul seperti ini untuk meningkatkan ketaqwaan kepasa Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Diharapkan penyelenggaraan haul-haul berikutnya semakin baik, tertib, dan terus mempertahankan semangat kebersamaan yang telah terbangun.
Adapun rangkaian haul, dimulai pembacaan manaqib atau riwayat perjalanan hidup Habib Hamid bin Abbas Bahasyim disampaikan oleh Habib Fathurrahman Bahasyim.
Peringatan haul diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali mengenang keteladanan Habib Basirih sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan, persaudaraan, dan kebersamaan di tengah kehidupan bermasyarakat.
Tausiah atau pesan-pesan keagamaan disampaikan Pimpinan Rabithah Alawiyah (organisasi pencatat keturunan Nabi Muhammad SAW) untuk wilayah Martapura dan Kota Banjarbaru, Habib Idrus bin Abdullah Alaydrus dari Martapura Kabupaten Banjar. [ady/adpim]
Bagikan keBanjarmasin
Bank Kalsel Perkuat Majukan Sektor UMKM di Kalsel Hadirkan Stan di University Aksel
BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Bank Kalsel terus memperkuat komitmennya dalam memajukan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kalimantan Selatan, dengan menghadirkan stan Aksel UMKM di University Aksel, serta galeri serupa di Kantor Pusat 2 Bank Kalsel, Jl. S. Parman, Banjarmasin. Selasa.
Direktur Kepatuhan Bank Kalsel, Firmansyah, mengungkapkan bahwa kehadiran Aksel UMKM merupakan langkah strategis untuk menampilkan berbagai produk kearifan lokal masyarakat Banua.
“Di Aksel UMKM ini kami tampilkan beberapa produk dari nasabah-nasabah binaan Bank Kalsel,” ujar Firmansyah.
Berbagai produk unggulan yang ditawarkan antara lain kain sasirangan khas Kalsel, kerajinan anyaman daun purun, aneka produk makanan ringan, hingga kopi dan berbagai produk pilihan lainnya.
Lebih lanjut, Firmansyah menjelaskan inisiatif ini bertujuan untuk mendongkrak kreativitas para pelaku UMKM. Kemitraan dengan Bank Kalsel diharapkan dapat menjadi pembuktian bahwa pelaku usaha daerah mampu menghasilkan karya terbaik yang siap diserap dan dijual secara luas kepada masyarakat.
Melalui fasilitas promosi ini, para pelaku UMKM juga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas usahanya serta memperkuat struktur permodalan.
Tidak hanya memberikan ruang pamer, Bank Kalsel juga berkomitmen mendukung kemudahan finansial pelaku usaha melalui berbagai skema pembiayaan yang inklusif. Salah satu ujung tombaknya adalah fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Betul, bisa melalui program KUR. Dan hal lainnya yang mungkin bisa kita bina langsung melalui beberapa program yang ada di Bank Kalsel,” tutup Firmansyah. [adv]
Bagikan keBanjarmasin
Bank Kalsel Apresiasi Gerak Cepat Polres Tanan Bumbu Ungkap Kasus Dugaan Penggelapan Dana Nasabah
BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Menanggapi pemberitaan terkait penangkapan oknum petugas pengamanan (security) berinisial IS atas dugaan penggelapan dana nasabah di Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu), Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Kalsel, Agus Setiawan, memberikan tanggapan resmi.
“Perkara yang saat ini ditangani pihak kepolisian merupakan tindak lanjut dari laporan resmi Bank Kalsel,” ujarnya, Selasa (27/10/2026).
Agus menegaskan, pelaporan kepada Aparat Penegak Hukum (APH) merupakan langkah proaktif Bank Kalsel dalam menindaklanjuti kejadian tersebut, sekaligus upaya memberikan efek jera kepada oknum pelaku.
“Bank Kalsel tidak menoleransi segala bentuk penyimpangan yang merugikan nasabah. Kami menyerahkan sepenuhnya penanganan perkara ini kepada pihak berwajib dan menghormati proses hukum yang sedang berjalan,” tegasnya.
Bank Kalsel juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada jajaran Polres Tanah Bumbu (Tanbu), khususnya Satreskrim Polres Tanah Bumbu beserta jajaran, serta Unit Jatanras Polda Kalimantan Timur, Polresta Samarinda, dan Polsek Muara Jawa beserta jajaran atas kesigapan dan sinergi dalam mengungkap kasus serta mengamankan pelaku.
“Kami berkomitmen untuk terus memperkuat pengawasan serta tata kelola demi menjaga kepercayaan dan keamanan dana nasabah,” tutupnya. [adv]
Bagikan keBanjarmasin
Bank Kalsel Akan Resmikan AKSEL University Pusat Pendidikan dan Pelatihan SDM
BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Bank Kalsel sebentar lagi bersiap untuk meresmikan AKSEL Universty, sebuah wadah untuk pusat pelatihan dan pendidikan bagi SDM Bank Kalsel maupun lembaga lainnya.
AKSEL Universty hadir di Jalan S Parman Banjarmasin dengan beragam fasilitas yang sudah disediakan, baik ruangan maupun instruktur profesional.
Direktur Kepatuhan Bank Kalsel, Firmansyah mengatakan AKSEL Universty dirancang sebagai wadah pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman dan wawasan peserta, khususnya terkait operasional perbankan.
Fasilitas dilengkapi sejumlah ruang kelas yang nantinya akan diisi instruktur untuk memberikan edukasi dan pelatihan sesuai kebutuhan peserta.
“Pendidikan dan pelatihan di AKSEL University ini terbagi dalam beberapa kelas. Nantinya, kelas-kelas akan diisi instruktur yang memberikan pemahaman dan edukasi terkait kegiatan operasional perbankan,” ujar Firmansyah.
Melalui fasilitas ini, Bank Kalsel ingin membuka kesempatan bagi perusahaan-perusahaan daerah di Kalsel untuk meningkatkan kompetensi pegawai melalui program pendidikan dan pelatihan yang terarah.
Salah satu pihak yang berpotensi memanfaatkan fasilitas tersebut adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Kerja sama ini diharapkan dapat mendukung peningkatan pemahaman mengenai operasional perbankan, sehingga kompetensi sumber daya manusia di sektor keuangan daerah semakin berkembang.
“Sebagai contoh, kami bekerja sama dengan BPR. Mereka juga bisa memanfaatkan fasilitas ini untuk meningkatkan pemahaman terkait kegiatan operasional perbankan,” jelasnya.
Di sisi lain, AKSEL University juga menjadi bagian dari upaya Bank Kalsel dalam meningkatkan kualitas karyawan dan karyawati agar semakin memahami bidang pekerjaan serta mampu mengikuti kebutuhan dan perkembangan industri perbankan.
Setelah diresmikan, AKSEL Universty diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi dalam pengembangan SDM, sekaligus memperluas manfaat pendidikan dan pelatihan perbankan bagi perusahaan daerah di Kalsel. [adv]
Bagikan keBanjarmasin
OJK Bersama Bank Kalsel Gelar Bootcamp Duta Aksel 2026, Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan
BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bank Kalsel menggelar Bootcamp Duta Aksel 2026 untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan sekaligus membekali generasi muda agar mampu mengedukasi masyarakat dan mencegah kejahatan keuangan digital.
Kegiatan bertema Learn, Create, Impact ini berlangsung pada 22–24 Oktober 2026 di Swiss-Belhotel Banjarmasin. Pesertanya merupakan perwakilan dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan yang dipersiapkan menjadi Duta Akselerasi dan Inklusi Keuangan (Aksel) Banua.
Kepala Perwakilan OJK Kalimantan Selatan yang diwakili Andi Rahman, mengatakan perkembangan teknologi memberikan kemudahan dalam bertransaksi keuangan. Namun, masyarakat juga menghadapi risiko kejahatan digital, gangguan transaksi, hingga penawaran investasi ilegal.
Karena itu, OJK menginisiasi Program Penggerak Inklusi Keuangan Indonesia (PPIKI) dengan melibatkan generasi muda sebagai agen perubahan. Mereka diharapkan tidak hanya memahami pengelolaan keuangan pribadi, tetapi juga mampu menyebarluaskan edukasi kepada teman sebaya, keluarga, sekolah, dan masyarakat.
“Generasi muda harus mampu menjadi penggerak edukasi sekaligus membantu melindungi masyarakat dari berbagai potensi penipuan dan kejahatan keuangan,” ujarnya.
Andi berharap peserta memanfaatkan pelatihan untuk memperdalam pengetahuan tentang produk dan layanan jasa keuangan, memahami risikonya, serta menyampaikan informasi secara kreatif dan tepat sasaran.
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dalam memperkuat program literasi dan inklusi keuangan di Banua.
Sementara itu, Direktur Utama Bank Kalsel yang diwakili Direktur Iwan mengatakan, keterlibatan Bank Kalsel merupakan bentuk dukungan terhadap peningkatan pemahaman keuangan, khususnya di kalangan generasi muda.
Menurutnya, para Duta Aksel perlu dibekali kemampuan komunikasi dan kreativitas agar dapat menyampaikan edukasi melalui berbagai saluran, termasuk media sosial.
“Kami mendorong para Duta Aksel memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi yang positif dan bertanggung jawab. Pastikan informasi yang disampaikan akurat, bermanfaat, dan sesuai ketentuan,” katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan duta literasi keuangan tidak hanya diukur dari jumlah konten yang diproduksi, tetapi juga dari kualitas informasi dan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Melalui program tersebut, Bank Kalsel berharap masyarakat semakin mengenal layanan perbankan, lebih percaya terhadap layanan keuangan resmi, serta bijak dalam mengambil keputusan finansial.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan yang diwakili Kepala Bidang Pendidikan SMA, Dedi Hidayat, mengapresiasi pelaksanaan bootcamp tersebut. Ia menilai kegiatan ini dapat mendukung pendidikan karakter dan kecakapan hidup peserta didik.
Menurut Dedi, pemahaman literasi keuangan perlu ditanamkan sejak dini, mulai dari membedakan kebutuhan dan keinginan, membiasakan menabung, hingga merencanakan keuangan sesuai kemampuan. Generasi muda juga harus kritis terhadap tawaran keuntungan besar, memeriksa legalitas produk keuangan, serta menjaga kerahasiaan data pribadi, PIN, dan kode OTP.
“Kami bangga karena sejumlah peserta didik dari sekolah di Kalimantan Selatan terpilih menjadi Duta Literasi Keuangan. Mudah-mudahan mereka berperan aktif menyebarluaskan edukasi dan menjadi teladan di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Dedi menambahkan, sinergi antara OJK, Bank Kalsel, sekolah, dan pemangku kepentingan lainnya perlu terus diperkuat agar edukasi keuangan menjangkau lebih banyak masyarakat.
Melalui Bootcamp Duta Aksel 2026, ketiga pihak berharap lahir generasi muda yang cakap mengelola keuangan, bertanggung jawab dalam menggunakan layanan digital, serta mampu meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap penipuan dan berbagai risiko di sektor jasa keuangan. [adv]
Bagikan ke-
Kaltara2 tahun agoAcara Apel Digelar di Islamic Center Bitul Izzah
-
Kalsel2 tahun agoDibuka Jokowi dan Iriana, Acil Odah Turut Hadiri Hari Anak Nasional di Papua
-
Balikpapan2 tahun agoMulai 1 September 2024, Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Pertamax Series dan Dex Series
-
Kalbar2 tahun agoReses Ke Melawi, Yessy Lakukan Pelatihan Bagi Masyarakat Peduli Api
-
Kalsel2 tahun agoKalsel Raih Penghargaan Komunitas Informasi Masyarakat Terinovatif 2024
-
Kriminal-Hukum2 tahun agoSat Narkoba Polres Sergai Ringkus PNS Pemko Tebing Tinggi Bawa Sabu
-
Jakarta2 tahun agoBMKG: Waspada Potensi Hujan Deras Angin Kencang dan Petir

