Bengkayang
DKKB Gelar Seminar Praktis Alat Musik Ginggong
BENGKAYANG, suaraborneo.com – Dewan Kesenian Kabupaten Bengkayang menggelar seminar praktis bermain dan mempelajari Ginggong alat musik tradisional Dayak Bakati Kecamatan Seluas yang digelar di Playground Cafe Jalan Raya Sanggau Ledo Bengkayang Senin (29/7/2024) pukul 08.00 Wiba sampai dengan selesai.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam upaya fasilitasi pemajuan kebudayaan dewan kesenian Kabupaten Bengkayang bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi, Direktur Jenderal kebudayaan-Balai Pelestarian Kebudayaan wilayah XII Kalimantan Barat.
Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Bengkayang Ricky Hamonangan Silalahi pada kesempatan tersebut menyampaikan, seminar ini merupakan bagian dari upaya kita untuk melestarikan dan mengenalkan budaya lokal khususnya alat musik tradisional Ginggong yang merupakan warisan budaya suku Dayak Bekatik.
Kegiatan tersebut juga dapat terlaksana atas dasar surat keputusan Plt Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat Nomor: 0389/F7.14/KB.01.01/2024 tentang surat keputusan hasil seleksi dan verifikasi penerima bantuan pemerintah fasilitasi pemajuan kebudayaan tahun anggaran 2024.
Ricky Hamonangan Silalahi menyatakan, tujuan dari seminar ini adalah mengenalkan Genggong sebagai salah satu alat musik tradisional yang berasal dari Desa mayak Kecamatan seluas Kabupaten Bengkayang kepada masyarakat luas terutama generasi muda. Meningkatkan apresiasi dan pemahaman terhadap nilai budaya dan seni tradisional melalui pembelajaran tentang Genggong.
Selain itu menambah kesana atau perbendaharaan objek pemajuan kebudayaan dalam mendukung program pemajuan kebudayaan dan memberikan pelatihan praktis dalam memainkan Genggong kepada peserta.
“Pada kegiatan ini kami sengaja mengambil tema menghidupkan kembali warisan bunyi: menyuarakan Genggong di era modern dan tema ini mengeksplorasi tantangan dan peluang dalam menjaga relevansi dan keberlanjutan Genggong dalam konteks budaya dan industri musik modern,” jelas Ricky.
Ricky juga menjelaskan bahwa manfaat seminar ini adalah pelestarian budaya penghargaan terhadap seni tradisional peningkatan pengetahuan, pengembangan keterampilan,yang akan berdampak pada peningkatan pengetahuan dan pemahaman melestarikan warisan budaya dan peningkatan identitas budaya.
Ia juga menambahkan bahwa peserta seminar ini terdiri dari siswa dan siswi SMA Negeri 1 SMA Negeri 2, SMA Negeri 3, SMA Borneo, SMA Shalom serta para guru pendamping dan para seniman yang ada di Kabupaten Bengkayang.
Ricky Hamonangan Silalahi juga berharap untuk menumbuhkan alat musik tradisional Genggong ini bisa menjadi mata pelajaran di bidang ekskul di sekolah-sekolah selanjutnya Genggong bisa didaftarkan menjadi warisan budaya tak benda yang berasal dari Kecamatan seluas Kabupaten Bengkayang.
“Alat musik Genggong tidak hanya memiliki nilai seni yang tinggi tetapi juga mengandung makna filosofis dan historis yang mendalam bagi masyarakat suku Dayak Bekatik, dan melalui seminar ini kita akan mempelajari sejarah, teknik bermain serta peran Genggong dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Dayak Bekatik,” tutupnya.
Merajut suara tradisi seminar praktis bermain dan mempelajari Genggong alat musik tradisional Dayak Bekasi Kecamatan seluas Kabupaten Bengkayang menghadirkan pemerhati seni dan budaya Drs.Hendrikus Clemen, Tokoh Masyarakat Dayak Bekatik Rara Awa, Pengrajin Ginggong Sofianus, Praktisi Seni Budaya Ari Jatmiko S,Sn serta Seniman Musik Fransiskus Sukardi S.Sn.
Pada Kesempatan tersebut Drs.Hendrikus Clemen menyampaikan, upaya pemajuan kebudayaan di lingkungan seni Tak ubahnya kita mengenal pesan Bapak Soekarno tentang Trisakti yang mengandung makna: berdaulat dalam bidang politik, berdikari atau Mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan. Tiga hal ini yang wajib terus-menerus diperjuangkan oleh bangsa Indonesia agar bangsa dan negara Indonesia tetap kokoh berdiri.
Kemudian katanya berdasarkan pasal 32 undang-undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa pemerintah memajukan Kebudayaan Nasional Indonesia yang penjelasannya berbunyi kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.
Hendrikus Clemen juga menegaskan objek pemajuan kebudayaan ada 10 yaitu tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional seni, bahasa, permainan rakyat dan olahraga tradisional.
Ditempat yang sama Andre BP dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalbar menyampaikan bahwa, pihaknya sebagai fasilitasi kajian kebudayaan program Balai Pelestarian Kebudayaan atau BPK
dan sebagai penerima adalah Dewan Kesenian Kabupaten Bengkayang.
Pada kegiatan di Bengkayang kami menyelenggarakan seminar ginggong dan sebagai audiens adalah pada siswa beberapa SMA Negeri dan Swasta dan guru di Bengkayang.
“Kegiatan ini juga sebagai momen pertemuan antara pelaku budaya dan Pemerintah Daerah, karena harus di akui masih banyak PR yang dilakukan kedepannya diantaranya Penyusunan PPKD atau Pokok-pokok pikiran kebudayaan daerah, Munculkan strategis kebudayaan dan rencana induk pemajuan kebudayaan .Kemudian masuk pada program RPJMD, Bapperinda, Dinas dan lainnya,” ungkapnya.
“Dan menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah tahun 2024 kami dari BPK XII Kalbar juga berkoordinasi dengan Komisi Pemilihan Umum atau KPU, karena kebudayaan merupakan isi materi substansi strategi komunikasi pemajuan kebudayaan,” pungkasnya. (Robin)
Bagikan keBengkayang
Akademisi Minta Transparansi dan Kajian Ekologis Rencana PLTN Bengkayang
BENGKAYANG, SuaraBorneo.com – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kabupaten Bengkayang terus memicu diskusi hangat di ruang publik. Kritik dan masukan kini datang dari kalangan akademisi Institut Shanti Buana (ISB) yang menyoroti pentingnya kajian mendalam dan transparansi sebelum proyek strategis tersebut direalisasikan.
Rektor ISB Bengkayang, Marianus Dinata Alnija, menegaskan bahwa proyek sebesar PLTN tidak boleh hanya menjadi agenda formalitas pemerintah. Ia mendorong keterlibatan pihak independen dan tokoh masyarakat untuk membedah potensi risiko, terutama terkait dampak ekologis dan kesiapan sumber daya manusia.
“Rencana proyek pembangunan sebuah PLTN harus melalui kajian mendalam menyangkut kebutuhan serta penggunaannya secara menyeluruh. Hasil kajian tersebut wajib dibuka secara transparan kepada publik dengan melibatkan tokoh independen hingga tokoh masyarakat,” tegas Marianus.
Selain aspek lingkungan, Marianus menyoroti potensi konflik sosial yang mungkin muncul jika persoalan lahan tidak diselesaikan sejak dini. Menurutnya, kepastian status lahan masyarakat adalah kunci agar proyek ini tidak menyisakan masalah hukum atau sosial di kemudian hari.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa secara infrastruktur, pasokan listrik di Bengkayang saat ini sebenarnya sudah mumpuni. Ia menyarankan agar pemerintah lebih melirik potensi energi terbarukan yang melimpah di daerah setempat daripada memaksakan penggunaan nuklir yang dinilai belum mendesak.
“Bengkayang memiliki julukan daerah ‘Seribu Riam’ yang seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber energi terbarukan, tanpa harus bergantung pada PLTN yang kami nilai belum mendesak,” tambahnya.
Pihak akademisi berharap pemerintah benar-benar mempertimbangkan kelayakan jangka panjang bagi ekosistem dan masyarakat Bengkayang, agar pembangunan yang dilakukan selaras dengan kelestarian alam setempat. (Robin)
Bagikan keBengkayang
Gereja Punya Peran Aktif Jaga Kamtibmas di Bengkayang Perbatasan RI-Malaysia
BENGKAYANG, SuaraBorneo.com – Peran gereja dinilai strategis dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah perbatasan Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, melalui penguatan nilai moral, sosial, dan budaya di tengah masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam rencana kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Tantangan dan Peluang Gereja Masa Kini dalam Menyikapi Dinamika Situasi Kamtibmas di Wilayah Kabupaten Bengkayang” yang akan melibatkan lintas sektor.
Pembicara dalam kegiatan tersebut, Pendeta Maikel Roki Mawuntu, menegaskan gereja memiliki peran penting sebagai garda moral dalam menghadapi berbagai dinamika sosial, termasuk tantangan keamanan di kawasan perbatasan.
“Gereja pada prinsipnya selalu berada di garis depan dalam menyampaikan pesan-pesan kedamaian kepada umat, agar masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh situasi yang dapat mengganggu stabilitas,” ujarnya di Bengkayang, Senin (30/3).
Ia mengatakan, keberadaan Kabupaten Bengkayang sebagai daerah perbatasan menuntut adanya sinergi yang kuat antara seluruh elemen, termasuk gereja, dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
Menurut dia, gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dalam membina kehidupan masyarakat yang harmonis, serta memperkuat ketahanan sosial di tengah berbagai pengaruh lintas negara.
“Kondisi perbatasan memiliki tantangan tersendiri, baik dari sisi sosial, budaya, maupun keamanan. Di sinilah gereja hadir untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan menjaga kondusivitas daerah,” katanya.
FGD tersebut direncanakan menjadi wadah strategis untuk membahas tantangan dan peluang yang dihadapi gereja dalam mendukung terciptanya kamtibmas yang aman dan kondusif.
Melalui forum itu, diharapkan terbangun sinergi yang lebih kuat antara gereja, pemerintah daerah, aparat keamanan, serta seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas wilayah.
Selain itu, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu menghasilkan langkah-langkah konkret yang dapat diimplementasikan secara bersama dalam menjaga keamanan, khususnya di wilayah perbatasan.
“Harapannya, FGD ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi mampu melahirkan langkah nyata yang berdampak langsung bagi terciptanya situasi yang aman dan kondusif di Bengkayang,” ujarnya.
Ia menambahkan, gereja memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memicu gangguan kamtibmas.
Rencana pelaksanaan FGD tersebut saat ini tengah dimatangkan, dengan penentuan waktu yang akan disesuaikan bersama para pihak terkait.
Pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya bersama menjaga stabilitas keamanan di wilayah perbatasan.(Robin)
Bagikan keBengkayang
DPC HUKATAN KSBSI Bengkayang Salurkan Sembako untuk Warga
BENGKAYANG, suaraborneo.com – Upaya menjaga stabilitas sosial dan ekonomi di tingkat akar rumput terus digalakkan. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) HUKATAN KSBSI Federasi Serikat Buruh Kehutanan, Perkebunan, dan Pertanian di bawah naungan Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia menggelar aksi bakti sosial dengan membagikan paket sembako kepada warga kurang mampu dan lansia, Jumat (13/03).
Ketua DPC F HUKATAN Bengkayang, Reza Satriadi, turun langsung memimpin penyaluran bantuan tersebut. Menurutnya, aksi ini bukan sekadar bantuan rutin, melainkan langkah strategis untuk memastikan masyarakat tetap tenang dan merasa aman di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok.
Memperkuat Ketahanan SosialSosial, Reza menjelaskan kehadiran serikat buruh di tengah masyarakat bertujuan untuk menciptakan harmoni.
Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, potensi gesekan sosial akibat himpitan ekonomi dapat diredam.
”Kami ingin memastikan bahwa kehadiran kami membawa dampak positif bagi stabilitas lokal. Saat beban ekonomi warga diringankan, maka kondusivitas wilayah akan terjaga. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga Bengkayang tetap aman dan terkendali,” ujar Reza.
Untuk menjaga ketertiban dan memastikan bantuan tepat sasaran, Pengurus DPC F HUKATAN menggunakan metode door-to-door. Strategi ini dinilai lebih efektif dalam menjaga keamanan lingkungan tanpa menimbulkan kerumunan yang berisiko.
Aksi ini mendapat apresiasi positif dari warga. Bantuan ini dianggap sebagai “bantalan” ekonomi yang sangat dibutuhkan saat ini. Reza berharap kegiatan ini menjadi pemantik bagi elemen masyarakat lainnya untuk saling bahu-membahu dalam menjaga keamanan dan ketahanan pangan di Kabupaten Bengkayang.
”Jika kebutuhan pokok terjaga dan komunikasi terjalin baik, maka stabilitas daerah akan kuat. Semoga ini menjadi berkah bagi organisasi dan seluruh masyarakat Bengkayang,” pungkasnya.(Robin)
Bagikan keBengkayang
Mahasiswa AKMEN-BS Bengkayang Gelar Bakti Sosial di Panti Asuhan Rumah Hanna
BENGKAYANG, SuaraBorneo.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Akademi Manajemen Bumi Sebalo (AKMEN-BS) Bengkayang melaksanakan kegiatan bakti sosial di Panti Asuhan Rumah Hanna, Jalan Sulenco No.114, Kelurahan Bumi Emas, Kecamatan Bengkayang, Senin (3/11).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 15.00 WIB ini diikuti oleh pengurus dan anggota BEM AKMEN-BS Bengkayang sebagai bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat sekitar, khususnya anak-anak di panti asuhan.
Sekretaris BEM AKMEN-BS Bengkayang, Arwanda Ericson, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian sosial dan rasa syukur mahasiswa terhadap sesama.
“Kami datang dengan penuh suka cita untuk berbagi berkat melalui pemberian paket sembako kepada Panti Asuhan Rumah Hanna. Semoga bantuan ini bermanfaat dan dapat meringankan kebutuhan sehari-hari para pengurus serta anak-anak di panti,” ujarnya.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Arwanda Ericson kepada Pembina Panti Asuhan Rumah Hanna, Ika, yang mewakili seluruh pengurus dan anak-anak asuhan.
Menurut Arwanda, kegiatan bakti sosial ini juga menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mengasah kepekaan sosial dan menumbuhkan semangat gotong royong di lingkungan akademik.
“Kami berharap kegiatan ini bisa terus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya di panti asuhan, tetapi juga di tempat-tempat lain yang membutuhkan uluran tangan,” tambahnya.
Ika menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan mahasiswa AKMEN-BS Bengkayang.
Ia menilai kegiatan seperti ini bukan hanya membantu secara materi, tetapi juga menjadi dukungan moral bagi anak-anak yang tinggal di panti.
“Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa yang sudah datang dan berbagi. Bantuan ini tentu sangat membantu kami dalam memenuhi kebutuhan harian anak-anak,” ucapnya.
Bantuan yang diserahkan berupa paket sembako, terdiri atas beras, minyak goreng, telur, makanan cepat saji, dan berbagai jenis makanan ringan (snack). Seluruh paket dikumpulkan dari hasil donasi mahasiswa dan kegiatan penggalangan internal kampus.
Kegiatan berlangsung kondusif hingga pukul 16.00 WIB dan ditutup dengan doa bersama serta sesi foto bersama antara mahasiswa dan anak-anak Panti Asuhan Rumah Hanna Bengkayang. (Robin)
Bagikan keBengkayang
SMPN 3 Sungai Betung Pastikan Pelaksanaan Program Revitalisasi Sesuai Prosedur dan Prioritas Utama K3
BENGKAYANG, suaraborneo.com – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Sungai Betung salah satu sekolah di Kabupaten Bengkayang menerima bantuan untuk revitalisasi sekolah sebesar 2,1 miliar rupiah dari Anggaran Perbelanjaan Negara (APBN) tahun 2025.atau program Revitalisasi Satuan Pendidikan Direktorat SMP Direktorat Jendral Paud Dasmen Kementerian Dasar dan Menengah.
Berdasarkan plang Anggaran yang tertera di lokasi sekolah Waktu pelaksanaan program Revitalisasi tersebut 120 hari kerja kalender.
Bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan fasilitas dan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.
Kepala Sekolah SMP 3 Sungai Betung, Afat menegaskan bahwa semua pekerjaan revitalisasi dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku. “Kami memastikan setiap langkah dalam proses revitalisasi ini mengikuti standar yang telah ditetapkan. Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) menjadi prioritas utama,” ungkap ,Afat Kepsek SMP Negeri 3 Sungai Betung.
Ia menjelaskan Proses pembangunan masih dalam tahap proses terus dilakukan hingga bangunan sekolah terbangun dengan sempurna, meskipun tantangan dan hambatan mungkin muncul, “Wajar saja jika pada saat proses pembangunan belum selesai, pasti ada yang kurang. Namun, kami berkomitmen untuk merapikan setiap kekurangan hingga selesai sesuai standar,” Jelasnya.
Dalam revitalisasi sekolah Menengah Perama (SMPN 3) tidak hanya memperbaiki bangunan fisik, tetapi juga memastikan bahwa semua materi yang digunakan memenuhi standar kualitas yang tinggi. Material seperti kusen dan pintu yang dibeli dari pihak toko bangunan akan diperiksa secara seksama. “Jika kami menemukan bahwa material tersebut tidak layak, kami akan melakukan retur untuk memastikan hanya yang terbaik digunakan dalam pembangunan,” katanya.
Lanjut Afat, item dalam pembangunan program revitalisasi meliputi ruang Administrasi, ruang LAB komputer, ruang kelas, UKS, Rumah Dinas, dan WC.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 3 Sungai Betung ,Afat juga menjelaskan Dalam penggunaan K3, para pekerja diharuskan menggunakan alat pelindung diri (APD) selama bekerja.
“Namun, saat istirahat, mereka tidak diwajibkan untuk mengenakannya,” tambah Afat menekankan pentingnya keselamatan tanpa mengabaikan kenyamanan.
Dengan adanya bantuan ini,kepala Sekolah SMPN 3 Sungai Betung berharap dapat memberikan lingkungan belajar yang lebih baik dan mendukung proses belajar mengajar yang lebih efektif.
Berdasarkan Data Program Revitalisasi tahun 2025 di kabupaten Bengkayang sebanyak 12 Sekolah SMPN, yaitu : Untuk Sekolah SK2,
1.SMPN 1 Sungai Raya
2.SMPN 2 Capkala
3.SMPN 5 Teriak
4.SMPN 3 Teriak
5.SMPN 5 Ledo
6.SMPN 3 Sungai Betung
7.SMPN 01 Jagoi Babang
8.SMPN 03 Tujuh Belas
Untuk Sekolah SK5
1.SMPN 5 Sungai Raya Kepulauan
2.SMPN 3 Siding
3.SMPN 2 Sanggau Ledo
4.SMPN 1 Ledo
(Rbn)
Bagikan keBengkayang
Bupati Darwis Serahkan 57 SK PPPK Paruh Waktu
BENGKAYANG, SuaraBorneo.com – Sebanyak 57 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu resmi menerima surat keputusan (SK) pengangkatan dari Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, Selasa (21/10/2025).
Bupati Bengkayang mengatakan, pengangkatan PPPK paruh waktu ini merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara serta Keputusan Menteri PANRB Nomor 16 Tahun 2025.
“Formasi PPPK paruh waktu ini memberikan peluang kerja yang legal, terstruktur, dan memiliki perlindungan hukum,” ujarnya.
Menurutnya, kebijakan ini sekaligus menjadi solusi agar tidak ada lagi celah bagi pegawai non-ASN yang bekerja di luar ketentuan hukum. Dengan sistem perjanjian kerja tahunan, pegawai paruh waktu dapat diusulkan menjadi PPPK penuh waktu tanpa harus melalui seleksi ulang, selama memiliki kinerja baik dan kondisi anggaran memadai.
Sebastianus menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Bengkayang telah mengusulkan 1.170 formasi dalam proses penataan tenaga non-ASN. Dari jumlah itu, 57 orang yang telah mengikuti seleksi PPPK formasi tahun 2024 namun belum terakomodasi, kini diangkat sebagai PPPK paruh waktu. Mereka terdiri atas 29 tenaga teknis dan 28 jabatan fungsional guru.
“Ini merupakan komitmen pemerintah daerah untuk memberikan kepastian status bagi tenaga non-ASN yang telah lama mengabdi. Dengan SK ini, mereka resmi menjadi bagian dari aparatur sipil negara,” kata Bupati.
Ia menegaskan, PPPK paruh waktu bukan tenaga honorer ataupun pegawai kontrak biasa. Mereka adalah ASN dengan hak dan kewajiban yang diatur undang-undang. Karena itu, profesionalisme dan tanggung jawab kerja harus setara dengan ASN lainnya.
“Status boleh paruh, tapi semangat pengabdian harus penuh,” tegas Sebastianus. Ia berharap para PPPK yang baru dilantik dapat menjadi bagian dari birokrasi yang adaptif, efisien, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Selain itu, Bupati juga mengingatkan seluruh kepala perangkat daerah agar tidak lagi mengangkat tenaga non-ASN baru di luar ketentuan yang berlaku. Kebijakan ini, kata dia, sejalan dengan larangan yang diatur dalam Pasal 65 Undang-Undang ASN.
“Bagi perangkat daerah yang masih mempekerjakan non-ASN secara sengaja, harus segera menertibkan dan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, atas nama Pemerintah Daerah, Bupati Bengkayang juga menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi setinggi tingginya kepada Kanreg V BKN yang sudah memberikan fasilitasi serta pendampingan penuh kepada Pemkab Bengkayang mulai dari penyusunan perencanaan kebutuhan, pelaksanaan seleksi kompetensi sampai penerbitan NIP.
Bupati Darwis juga meminta seluruh Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkayang untuk bekerja dengan penuh dedikasi, integritas, dan semangat pelayanan publik.
Bupati menekankan bahwa PPPK paruh waktu tetap bagian dari aparatur sipil negara (ASN) dengan tanggung jawab profesional.
“Status saudara-saudari sebagai PPPK paruh waktu bukanlah tenaga honorer, bukan pula pegawai kontrak biasa. Kalian bagian dari ASN yang memiliki hak dan kewajiban yang dilindungi oleh negara,” ujar Sebastianus.
Ia mengingatkan, meski bekerja dengan sistem paruh waktu, para pegawai harus menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab setara dengan ASN penuh waktu. Pemerintah daerah, katanya, membutuhkan aparatur yang bermental pejuang, bukan sekadar pelaksana perintah.
“Jangan ada lagi yang bekerja dengan mental kuli bekerja hanya karena disuruh tanpa inisiatif. Pemerintah butuh pegawai dengan integritas dan semangat pelayanan,” katanya.
Sebastianus juga meminta seluruh PPPK paruh waktu menjaga loyalitas, disiplin, dan komitmen terhadap nilai-nilai ASN yang berlandaskan “BerAKHLAK”, yakni berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif.
“Nilai-nilai ini harus menjadi pedoman dalam setiap tindakan dan keputusan kerja,” ujarnya.
Menurutnya, perjanjian kerja yang ditandatangani bersifat mengikat dan akan dievaluasi secara berkala. Jika tidak memenuhi target kinerja, bisa saja diberhentikan sewaktu-waktu. Namun tetap mengacu pada peraturan perundang-undangan.
Selain menyoroti etos kerja ASN, Sebastianus juga mengajak para PPPK untuk menjadikan jabatan ini sebagai batu loncatan untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi.
“Jadikan kesempatan ini sebagai ruang tumbuh, bukan titik nyaman. Tunjukkan bahwa PPPK paruh waktu juga bisa berprestasi,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah mengharapkan kontribusi nyata para PPPK dalam memperkuat pelayanan publik dan mendukung visi pembangunan Bengkayang yang lebih maju dan mandiri.
“Kinerja saudara-saudari akan menjadi wajah birokrasi di mata masyarakat,” ujarnya.
“Selamat bertugas dengan semangat, kejujuran, dan dedikasi. Mari kita bersama membangun Bengkayang yang lebih baik dan memberikan warisan terbaik bagi generasi penerus,” sambungnya lagi. (Robin)
Bagikan keBengkayang
TNI dan Warga Gotong Royong Bangun Rumah Korban Kebakaran di Desa Gerantung
BENGKAYANG, suaraborneo.com – Personil Koramil 05 Samalantan Wilayah Kodim 1209 Bengkayang Babinsa Gerantung dari Koramil mengadakan kegiatan peletakan batu pertama dan bedah rumah untuk masyarakat yang menjadi korban kebakaran di Dusun Pakucing , Desa Gerantung, Kecamatan Monterado, Kabupaten Bengkayang.23 September 2025.
Kegiatan ini dihadiri oleh Camat Monterado, Elisabet Rafika, Sekretaris Camat Kusnan, serta Kepala Desa Gerantung Erlan. Selain itu, anggota Babinsa seperti Sertu Sugianto, Sertu Iswandi, dan Serda Dirus juga turut berpartisipasi, bersama dengan Bapak RT dan masyarakat setempat.
Pembagunan secara swadaya pembangunan rumah ini bertujuan untuk membantu masyarakat yang mengalami musibah kebakaran agar dapat segera memiliki tempat tinggal yang layak dan aman. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik, tetapi juga berupaya untuk memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi para korban.
Berbagai tujuan dari program ini antara lain penyediaan hunian yang layak, meringankan beban finansial, serta membantu pemulihan psikologis. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong solidaritas dan gotong royong di antara masyarakat, serta mencegah timbulnya permukiman kumuh.
Sertu Sugianto, salah satu anggota Babinsa dari Koramil 05/Samalatan, memberikan paparan mengenai aksi sosial bangun rumah yang dilaksanakan di Desa Gerantung. Dalam keterangannya, ia menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami musibah.
“Pembangunan kembali rumah milik Warga Atas nama Ibu Jamilah seorang Janda ini bukan hanya sekadar memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga merupakan upaya untuk membangun kembali harapan dan kehidupan para korban . Kami ingin memastikan bahwa setiap keluarga yang terdampak dapat segera kembali ke rumah yang layak dan aman,” ujarnya.
Sertu Sugianto juga menambahkan bahwa kegiatan ini melibatkan kerja sama antara berbagai pihak, termasuk pemerintah setempat, masyarakat, dan anggota Babinsa. “Solidaritas dan gotong royong menjadi kunci dalam setiap langkah yang kita ambil. Dengan bersatu, kita bisa meringankan beban satu sama lain dan membangun komunitas yang lebih kuat,” jelasnya.
Ia berharap, melalui aksi sosial ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan tempat tinggal yang layak, tetapi juga merasakan dukungan dan kepedulian dari lingkungan sekitar. “Kami ingin menanamkan semangat kebersamaan dan saling membantu dalam setiap tindakan kita,” tutup Sertu Sugianto.
Sementara itu, Camat Monterado, Elisabet Rafika, mengungkapkan harapannya agar masyarakat tetap waspada terhadap potensi bahaya listrik.
“Di tengah upaya pemulihan pasca musibah kebakaran ini, saya mengimbau seluruh warga untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan alat-alat listrik. Pastikan instalasi listrik rumah dalam kondisi baik dan aman. Mari kita jaga keselamatan bersama agar tragedi serupa tidak terulang.”
Imbauan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keselamatan listrik demi mencegah terjadinya musibah di masa mendatang.
Jamilah, salah satu korban kebakaran, berbagi pengalamannya mengenai musibah yang menimpa keluarganya. Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa kebakaran tersebut disebabkan oleh konsleting listrik yang terjadi secara tiba-tiba.
“Semua terjadi begitu cepat. Kami tidak menyangka bahwa konsleting listrik bisa menyebabkan kebakaran hingga menghanguskan rumah kami. Kami hanya bisa berdoa karena ada perhatian dari berbagai pihak,” ungkap Jamilah.
Meski dalam keadaan sulit, Jamilah merasa bersyukur atas dukungan yang diterima dari berbagai pihak. Ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah, TNI, dan masyarakat yang telah membantu dalam proses bedah rumah.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemerintah, terutama kepada TNI yang telah hadir di tengah-tengah kami. Bantuan ini sangat berarti bagi kami dan memberikan harapan baru untuk memulai hidup kembali. Terima kasih juga kepada tetangga dan warga desa yang telah membantu kami. Kami tidak akan melupakan kebaikan ini,” ujarnya.
Kisah Jamilah mencerminkan semangat kebersamaan dan solidaritas yang tumbuh di tengah masyarakat, serta pentingnya kesadaran akan keselamatan listrik untuk mencegah terjadinya musibah serupa di masa depan.
Aksi sosial ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat lainnya untuk berkontribusi dalam membantu sesama, terutama di saat-saat sulit. (Robin)
Bagikan ke-
Kaltara2 tahun agoAcara Apel Digelar di Islamic Center Bitul Izzah
-
Kalsel2 tahun agoDibuka Jokowi dan Iriana, Acil Odah Turut Hadiri Hari Anak Nasional di Papua
-
Kalbar2 tahun agoReses Ke Melawi, Yessy Lakukan Pelatihan Bagi Masyarakat Peduli Api
-
Kalsel2 tahun agoKalsel Raih Penghargaan Komunitas Informasi Masyarakat Terinovatif 2024
-
Balikpapan2 tahun agoMulai 1 September 2024, Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Pertamax Series dan Dex Series
-
Jakarta2 tahun agoBMKG: Waspada Potensi Hujan Deras Angin Kencang dan Petir
-
Banjarmasin1 tahun agoJelang Nataru, Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Lakukan Sidak SPBU di Wilayah Kalsel

