Polres Sergai Tegaskan Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Tahun 2021 Masih Berproses, Tersangka Telah Ditetapkan dan Masuk DPO - SuaraBorneo.com
Connect with us

Kriminal-Hukum

Polres Sergai Tegaskan Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Tahun 2021 Masih Berproses, Tersangka Telah Ditetapkan dan Masuk DPO

Published

on

Polsek Perbaungan, Polres Serdang Bedagai. (Foto/Ist)

SERGAI, SuaraBorneo.com – Menanggapi pemberitaan yang beredar terkait penanganan perkara dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan yang dilaporkan sejak tahun 2021 di wilayah hukum Polsek Perbaungan, Polres Serdang Bedagai menegaskan bahwa perkara tersebut hingga saat ini masih dalam proses penyidikan dan terus ditangani sesuai prosedur hukum yang berlaku.

Perkara tersebut berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/165/VI/2021/SU/Res Sergai/Sek Perbaungan/Polda Sumut tanggal 25 Juni 2021, yang dibuat oleh pelapor berinisial H. Sejak laporan diterima, penyidik telah melakukan serangkaian tindakan penyidikan untuk mengungkap peristiwa pidana serta mengumpulkan alat bukti yang diperlukan.

Dalam proses penyidikan, penyidik telah memeriksa pelapor berinisial H dan sejumlah saksi, yakni berinisial A, MT alias M, RW, MI, serta CNMRS. Selain pemeriksaan saksi, penyidik juga telah melakukan penyitaan berbagai barang bukti yang berkaitan dengan perkara, di antaranya satu lembar slip transfer Bank Mandiri senilai Rp2.500.000, satu lembar kwitansi titipan uang panjar pembelian mobil Avanza, satu lembar fotokopi dokumen transaksi senilai Rp95.000.000, uang tunai Rp2.500.000, serta satu set fotokopi BPKB mobil Avanza G Luxury BK 1564 WF.

Berdasarkan hasil penyidikan dan alat bukti yang telah dikumpulkan, penyidik menetapkan seorang tersangka berinisial A. Namun, karena yang bersangkutan belum berhasil ditemukan, penyidik telah menerbitkan Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap tersangka guna mempercepat proses penegakan hukum.

Saat ini, penyidik masih terus melakukan pencarian terhadap tersangka berinisial A, menelusuri keberadaan seorang perempuan berinisial LA yang diduga memiliki keterkaitan dengan perkara, serta mencari keberadaan mobil Avanza BK 1564 WF yang diketahui telah dijual oleh salah seorang saksi dalam perkara tersebut.

Kasat Reskrim Polres Serdang Bedagai melalui Kasi Humas Polres Serdang Bedagai, AKP Bringin Jaya, SH, MH, menegaskan bahwa pemberitaan yang menyebut perkara tersebut tidak ditangani perlu diluruskan, karena hingga kini kasus tersebut masih dalam tahap penyidikan.

“Polres Serdang Bedagai memastikan bahwa perkara tersebut masih berproses dan tidak pernah dihentikan. Penyidik telah melakukan berbagai langkah hukum, mulai dari pemeriksaan pelapor dan saksi-saksi, penyitaan barang bukti, penetapan tersangka hingga penerbitan DPO terhadap tersangka. Saat ini penyidik terus melakukan pencarian terhadap tersangka, pihak-pihak yang berkaitan, serta barang bukti untuk menuntaskan perkara sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” ujar AKP Bringin Jaya.

Lebih lanjut, AKP Bringin Jaya menyampaikan bahwa Polres Serdang Bedagai berkomitmen menangani setiap laporan masyarakat secara profesional, transparan, dan akuntabel. Penyidik juga terus berupaya maksimal untuk mengungkap keberadaan tersangka dan melengkapi seluruh alat bukti agar proses hukum dapat segera diselesaikan.

Polres Serdang Bedagai juga mengimbau masyarakat agar tetap mempercayakan proses penegakan hukum kepada aparat yang berwenang dan memperoleh informasi dari sumber yang akurat serta berimbang. Dengan berbagai langkah penyidikan yang telah dilakukan, diharapkan perkara tersebut dapat segera dituntaskan demi memberikan kepastian hukum dan rasa keadilan bagi seluruh pihak.

*POLRI BERINTEGRITAS DAN HUMANIS DALAM MELAYANI MASYARAKAT*

Bagikan ke

Kalteng

Satreskrim Polres Kapuas Ungkap Kasus Kriminal Pembakaran dan Curanmor

Published

on

Kapolres Kapuas AKBP Rina Perwitasari didampingi jajaran Satreskrim Polres Kapuas pada Konferensi Pers Senin (3/8/2026). (Foto/Ist)

KUALA KAPUAS, SuaraBorneo.com – Satreskrim Polres Kapuas Kalteng menggelar Konferensi Pers bertempat di Mapolres Kapuas Senin (3/8/2026).

Dua kasus menonjol yang terjadi di wilayah hukum Polres Kapuas tersebut yakni kasus pembakaran kamar barak yang mengakibatkan empat orang mengalami luka bakar termasuk seorang anak berusia lima tahun serta pengungkapan kasus pencurian dengan pemberatan yang dilakukan seorang residivis.

Kapolres Kapuas AKBP Rina Perwitasari didampingi jajaran Satreskrim mengatakan penanganan kasus pembakaran yang terjadi
di Jalan Pemuda Komplek Perumahan Pemuda Permai Blok F Kelurahan Selat Dalam Kecamatan Selat.

Dalam kasus itu D(26) ditetapkan sebagai tersangka setelah diduga sengaja membakar kamar barak tempat kekasihnya sekitar pukul 23.30 WIB Minggu (19/7/2026).

Kapolres mengatakan kasus tersebut ditangani berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP/B/32/VII/2026/SPKT/Polres Kapuas/Polda Kalimantan Tengah tertanggal 20 Juli 2026.

Berdasarkan hasil penyelidikan aksi nekat itu dipicu pertengkaran antara tersangka dengan kekasihnya Rah (26). Perselisihan keduanya telah berlangsung beberapa hari dan bahkan disertai ancaman akan membakar kamar barak.

“Malam kejadian tersangka sempat datang ke lokasi dan berkumpul bersama para korban. Namun usai kembali dari menonton pertandingan final Piala Dunia ia kembali mendatangi barak karena kembali terlibat cekcok dengan korban,” katanya.

Nah saat pintu kamar dikunci dari dalam tersangka menggedor hingga mendobrak pintu kemudian masuk sambil merusak sejumlah barang dan melanjutkan pertengkaran.

Tak lama kemudian tersangka diduga menyiramkan sekitar satu liter BBM jenis pertalite ke lantai kamar dan barang-barang milik korban sebelum menyalakan korek api yang memicu kobaran api.

Akibat kebakaran tersebut empat orang mengalami luka bakar, yakni Rah (26) Muh(5) Len (26) dan Am(25). Selain korban luka sejumlah barang berharga ikut hangus terbakar di antaranya pakaian tas dan satu unit iPhone 12 Pro Max.

“Motif pembakaran dipicu rasa kesal tersangka setelah dituduh berselingkuh dan hubungan asmaranya dengan korban berakhir,” jelasnya.

Kapolres melanjutkan tersangka kini telah ditahan di Rutan Polres Kapuas dan dijerat Pasal 308 ayat (2) KUHP atau Pasal 466 ayat (2) KUHP tentang perbuatan yang mengakibatkan kebakaran hingga menyebabkan luka bera dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Kemudian Polres Kapuas juga mengungkap kasus pencurian dengan pemberatan (curanmor) yang terjadi di Desa Manggala Permai Kecamatan Kapuas Murung.

Pelaku berinisial DR (18) ditangkap setelah diduga membobol rumah korban Anisa binti Ahmad melalui jendela samping saat penghuni rumah sedang tertidur.

Pelaku membawa kabur satu unit telepon genggam dompet berisi uang tunai sekitar Rp1 juta serta satu unit sepeda motor Yamaha Jupiter MX yang terparkir di depan rumah.

Korban baru menyadari kejadian tersebut sekitar pukul 04.00 WIB saat hendak bersiap bekerja. Setelah melakukan pencarian di sekitar rumah korban menemukan dompet dan sebuah handphone di dekat bekas kandang ayam serta mendapati jendela rumah dalam keadaan terbuka sebelum akhirnya melaporkan kejadian itu ke Polsek Kapuas Murung.

Kapolres menjelaskan hasil penyelidikan polisi berhasil mengamankan sepeda motor hasil curian beserta sejumlah barang bukti lainnya berupa handphone dompet BPKB STNK dan kotak handphone.

“Tersangka merupakan residivis kasus pencurian dengan pemberatan yang baru bebas sekitar sembilan bulan lalu.
Atas perbuatannya tersangka dijerat Pasal 477 ayat (1) huruf e Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dengan ancaman hukuman penjara paling lama 7 tahun,” katanya.

Kapolres Rina Perwitasari mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan mengamankan rumah dan kendaraan serta segera melapor apabila mengetahui adanya tindak kejahatan di lingkungan sekitar. (Ujg/SB)

Bagikan ke
Continue Reading

Kalteng

Cegah Penggunaan Narkoba, Sipropam Polres Kapuas Gelar Tes Urine Bagi Anggota

Published

on

Sipropam Polres Kapuas pada kegiatan Tes Urine bagi para anggota di Mapolres Kapuas Rabu (29/7/2026). (Foto/Ist)

KUALA KAPUAS, SuaraBorneo.com – Sipropam Polres Kapuas Kalteng menggelar tes urine bagi anggota dan para Kanit Provos Polsek jajaran bertempat di Polres Kapuas Rabu (29/7/2026).

Upaya ini dilakukan dalam rangka menjaga institusi internal kepolisian dari penyalahgunaan narkotika.

Kegiatan pemeriksaan berlangsung pukul 10.30 WIB di Ruang Siaga Propam Polres Kapuas.

Seluruh personel penjaga kedisiplinan jajaran Polres Kapuas diwajibkan menyerahkan sampel urine mereka tanpa terkecuali.

​Pemeriksaan fisik ini melibatkan tim gabungan dari Satresnarkoba Sipropam serta Sidokkes Polres Kapuas. Petugas menguji setiap sampel menggunakan alat rapid Egens Diagnostics One Step Test Device untuk mendeteksi kandungan metamfetamin atau sabu.

Kapolres Kapuas AKBP Rina Perwitasari melalui Kasat Narkoba Polres Kapuas AKP Budi Utomo mengatakan sebanyak 15 personel yang dites urine semuanya negatif metfetamin.

“Tepat pukul 11.05 WIB seluruh rangkaian tes selesai. Hasilnya dinyatakan bersih.Tidak ditemukan indikasi penyalahgunaan,” katanya.

Ia mengatakan pembersihan internal merupakan syarat mutlak sebelum polisi menindak pelanggaran di masyarakat. Aparat penegak hukum khususnya jajaran Propam yang memegang fungsi pengawasan wajib menjadi contoh ketertiban.

Kasat Narkoba melanjutkan
pemeriksaan mendadak ini ditujukan sebagai bentuk pembinaan sekaligus penegakan disiplin ketat di tubuh Polri.

“Intinya memastikan tidak ada celah bagi personel terkait penggunaan narkoba,” ujarnya. (Ujg/SB)

Bagikan ke
Continue Reading

Banjarmasin

Menurut Lawyer, Pro Kontra Hukuman Mati Terdakwa Korupsi

Published

on

Lawyer Abikul Halik SH MH dari Angga Parwito Law Firm. (Foto/Junaidi)

BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Banyaknya persoalan korupsi yang semakin meningkat setiap tahunnya, membuat banyak orang gerah. Muncul usulan untuk hukuman mati bagi Para Koruptor tersebut.

Menurut Lawyer Abikul Halik SH MH dari Angga Parwito Law Firm, Pro dan kontra mengenai hukuman mati terhadap terdakwa korupsi merupakan perdebatan yang akan terus berkembang seiring meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap keadilan. Kelompok yang mendukung menilai bahwa korupsi telah merampas hak hidup dan kesejahteraan jutaan rakyat sehingga layak dikenakan sanksi paling berat.

Sementara itu, kelompok yang menolak berpandangan, kata Abi, menyatakan
bahwa perlindungan hak asasi manusia, potensi kekeliruan peradilan, dan efektivitas hukuman harus menjadi pertimbangan utama.

Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum yang merugikan keuangan negara, tetapi merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang dampaknya dirasakan secara langsung oleh masyarakat luas, Secara substansi, sulit untuk membantah bahwa korupsi bukan sekadar kejahatan terhadap keuangan negara, melainkan kejahatan terhadap kemanusiaan.

“Ketika anggaran pendidikan dikorupsi, anak-anak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak. Ketika dana kesehatan diselewengkan, masyarakat kehilangan akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Ketika anggaran infrastruktur dikorupsi, pembangunan terhambat dan keselamatan masyarakat dapat terancam,” kata Abi, Senin (13/7/2026) siang di Kantornya.

Oleh karena itu, kata Abi, korupsi pada hakikatnya adalah kejahatan yang merampas hak-hak dasar rakyat. Seruan Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar hukuman mati diterapkan terhadap koruptor kembali memunculkan diskusi publik mengenai efektivitas, keadilan, dan kepastian hukum dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Seruan tersebut lahir dari keprihatinan mendalam bahwa korupsi telah menjadi penyakit kronis yang menghambat pembangunan nasional, memperlebar kesenjangan sosial, dan menggerus kepercayaan masyarakat
terhadap penyelenggara negara.

Apabila kita melihat dari perspektif moral, agama, maupun sosial, korupsi merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah yang diberikan oleh rakyat. Seorang pejabat publik memperoleh kewenangan untuk melayani masyarakat, bukan untuk memperkaya diri sendiri. Ketika amanah tersebut disalahgunakan, yang menjadi korban bukan hanya negara sebagai entitas hukum, tetapi jutaan masyarakat yang seharusnya menikmati manfaat dari uang negara tersebut.

“Dari perspektif hukum positif Indonesia, hukuman mati terhadap Pelaku tindak pidana korupsi sebenarnya bukanlah konsep yang sama sekali baru. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi telah membuka kemungkinan dijatuhkannya pidana mati dalam keadaan tertentu,” ujar Abi menjelaskan.

Namun kata Abi, hingga saat ini ketentuan tersebut belum pernah diterapkan oleh
pengadilan karena syarat penerapannya sangat ketat dan terbatas. Perubahan baru juga kita dapat liat dimana di dalam KUHP baru kita Undang-Undang No 1 tahun 2023 terdapat peruabahan wajah pidana mati yang kini bersyarat dan menjadi opsi paling akhir. Dimana pidana mati bukan lagi menjadi pidana pokok, tetapi ditempatkan sebagai ultimum remedium atau pidana alternatif terakhir.

Pengaturan pidana mati dalam UU 1/2023 menegaskan asas kehatihatian dan membuka ruang perbaikan bagi terpidana melalui mekanisme masa percobaan. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru menunjukkan pergeseran signifikan dari praktik lama yang menempatkan hukuman mati sebagai pidana pokok menuju model pidana yang bersifat sangat khusus, bersyarat, dan berorientasi pada perbaikan perilaku terpidana seperti tercantum
dalam Pasal 100 dan Pasal 101 KUHP.

“Perubahan ini mencerminkan adanya upaya untuk menyeimbangkan penegakan hukum dengan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), khususnya hak untuk hidup,” ungkap Abi menegaskan.

Dikatakan, pada Pasal 100 KUHP Baru mengatur bahwa pelaksanaan hukuman mati dapat ditetapkan dengan masa percobaan selama 10 (sepuluh) tahun. Selama masa ini, eksekusi hukuman mati akan ditangguhkan dan sikap terpidana akan mendapatkan perhatian. Apabila terpidana menunjukkan sikap dan perbuatan terpuji maka pidana mati dapat diubah menjadi pidana penjara seumur hidup dibarengi Keputusan Presiden RI setelah mendapatkan pertimbangan Mahkamah Agung.

Selengkapnya ketentuan Pasal 100 ayat (1), ayat (4), dan ayat (6) KUHP Baru dapat dikutip sebagai berikut:

“(1) Hakim menjatuhkan pidana mati dengan masa percobaan selama 10 (sepuluh) tahun dengan memperhatikan:
1. rasa penyesalan terdakwa dan ada harapan untuk memperbaiki
diri; atau
2. peran terdakwa dalam Tindak Pidana.
… (4) Jika terpidana selama masa percobaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) menunjukkan sikap dan perbuatan yang terpuji, pidana mati dapat diubah menjadi pidana penjara seumur hidup dengan Keputusan Presiden setelah mendapatkan pertimbangan
Mahkamah Agung.…
(6) Jika terpidana selama masa percobaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menunjukkan sikap dan perbuatan yang terpuji serta tidak ada harapan untuk diperbaiki, pidana mati dapat
dilaksanakan atas perintah Jaksa Agung.”
Pada pokoknya:
1. Tindak pidana korupsi tetap diatur sebagai tindak pidana khusus (lex specialis), yaitu dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2001.
2. Pidana mati masih dimungkinkan berdasarkan Pasal 2 ayat (2) UU Tipikor, yang menyatakan bahwa pidana mati dapat dijatuhkan apabila tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu.
3. Yang dimaksud dengan “keadaan tertentu” dalam penjelasan UU Tipikor antara lain meliputi:
* negara dalam keadaan bahaya;
* terjadi bencana alam nasional;
* pelaku mengulangi tindak pidana korupsi; atau
* negara mengalami krisis ekonomi dan moneter.

Meskipun KUHP baru memperkenalkan konsep baru mengenai pidana mati, yaitu:
* pidana mati sebagai pidana yang bersifat khusus;
* pelaksanaannya dapat ditunda dengan masa percobaan selama 10 tahun apabila memenuhi syarat tertentu; ketentuan tersebut merupakan aturan umum mengenai pelaksanaan pidana mati, bukan ketentuan yang menciptakan delik korupsi baru atau menjadikan semua pelaku korupsi dapat dijatuhi pidana mati.

Dengan demikian, dasar hukum pidana mati terhadap koruptor tetap berasal dari Pasal 2 ayat (2) UU Tipikor, sedangkan mekanisme pelaksanaan pidana mati mengikuti pengaturan umum dalam KUHP baru sepanjang tidak diatur lain oleh undang-undang khusus.

Perdebatan mengenai hukuman mati tentu harus ditempatkan dalam kerangka negara hukum. Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi supremasi hukum, sehingga setiap bentuk pemidanaan harus didasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan, proses peradilan yang adil (due process of law), alat bukti yang kuat, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia. Oleh karena itu penerapan hukuman mati tidak boleh didorong semata-mata oleh kemarahan publik, tetapi harus memenuhi seluruh syarat hukum yang berlaku. Di sisi lain, masyarakat juga memiliki harapan besar agar negara memberikan efek jera yang nyata kepada para pelaku korupsi.

“Selama ini masih muncul persepsi bahwa hukuman terhadap koruptor belum sepenuhnya mencerminkan rasa keadilan masyarakat. Bahkan tidak jarang kerugian negara mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah, sementara pelaku masih memiliki kesempatan menikmati hasil kejahatannya setelah menjalani pidana,” kata Abi lagi.

Disebutkan, kondisi inilah yang kemudian memunculkan tuntutan agar negara memberikan sanksi yang lebih berat. Namun demikian, efektivitas pemberantasan korupsi sesungguhnya tidak hanya bergantung pada berat-ringannya hukuman. Yang jauh
lebih penting adalah kepastian penegakan hukum. Seberat apapun ancaman pidana, apabila peluang tertangkap dan dihukum sangat kecil, maka efek pencegahannya juga akan rendah. Sebaliknya, apabila sistem pengawasan berjalan baik, aparat penegak hukum profesional, proses peradilan transparan, dan seluruh hasil korupsi dapat dirampas untuk negara, maka pemberantasan korupsi akan jauh lebih efektif.

“Pemberantasan korupsi juga harus dilakukan secara komprehensif melalui penguatan sistem pengawasan, digitalisasi pelayanan publik, transparansi pengelolaan anggaran, perlindungan terhadap pelapor (whistleblower), pendidikan antikorupsi sejak dini, serta penegakan hukum yang konsisten tanpa pandang bulu,” tegas Abi.

Dikatakan, tidak boleh ada perlakuan istimewa berdasarkan jabatan, kekuasaan, ataupun kedekatan politik. Upaya tersebut harus dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan integritas aparatur negara, reformasi birokrasi, peningkatan transparansi anggaran, pengawasan yang efektif, perlindungan terhadap pelapor (whistleblower), serta pendidikan antikorupsi sejak dini.

Penegakan hukum yang konsisten, tanpa pandang bulu, justru menjadi faktor yang paling menentukan. Hukuman yang pasti dan konsisten sering kali memiliki daya cegah yang lebih besar dibandingkan ancaman hukuman yang sangat berat tetapi jarang diterapkan.

Pada akhirnya, substansi seruan MUI sesungguhnya merupakan pengingat bahwa korupsi bukan lagi dipandang sebagai kejahatan administratif semata, melainkan sebagai tindakan yang menghilangkan kesejahteraan masyarakat dan merampas hak hidup jutaan rakyat. Pesan moral yang ingin ditegaskan adalah bahwa negara harus menunjukkan keberpihakan yang nyata kepada kepentingan rakyat dengan menindak tegas setiap pelaku korupsi.

“Harapan kita bersama adalah agar Indonesia memiliki sistem pemberantasan korupsi yang semakin kuat, independen, dan berkeadilan. Apakah melalui pidana mati dalam kondisi yang diatur undang-undang atau melalui bentuk pemidanaan berat lainnya, tujuan akhirnya tetap sama, yaitu menciptakan efek jera, memulihkan kerugian negara, menjaga kepercayaan masyarakat
terhadap hukum, dan memastikan bahwa setiap rupiah uang negara benar-benar digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat,” harap Abi. [ad/sb]

Bagikan ke
Continue Reading

Banjarmasin

Seorang Mahasiswi NA (19) Warga Teluk Tiram Banjarmasin Barat Ditetapkan Sebagai Pelaku Tabrak Lari Petugas Kebersihan

Published

on

Plh. Kapolresta Banjarmasin Kombespol. Timbul RK Siregar. (Foto : Humas Polresta Banjarmasin)

BANJARMASIN, SuaraBorneo.com – Adanya realese yang disampaikan Polresta Banjarmasin, Jum’at (10/7/2027) yang menetapkan Pelaku tabrak lari yang terjadi Selasa (30/6/2026) dini hari, disambut positif oleh Dr. Angga D. Saputra, S.H., M.H. selaku Wakil Ketua Bidang Hukum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Kalimantan Selatan, Sabtu malam (11/7/2026).

Kata Angga, terkait dengan adanya informasi yang juga telah Pihaknya dapatkan dari Teman-teman Satlantas Polresta Banjarmasin, maka Pihaknya dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Kalimantan Selatan mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kapolresta Banjarmasin, Kasatlantas Polresta Banjarmasin bersama Para Anggota Satlantas Banjarmasin yang telah dengan gigih dapat menangkap Pelaku terduga tabrak lari ini. Yang mana sudah beberapa waktu Pelaku mencoba bersembunyi dan sebagaimana yang telah Kami perkiraan dari awal bahwa akhirnya Kepolisian dapat menangkap terduga Pelaku.

“Dengan tertangkapnya terduga Pelaku, maka Kami berharap proses dapat berjalan sebagaimana mestinya agar Pelaku mempertanggung jawabkan hal tersebut sebagaimana peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tegas Angga.

Dikatakan, Pihaknya juga pastinya mendampingi penegakan dan proses hukum yang dilakukan. Pihaknya berharap hal ini dapat memperjelas dalam penegakan hukum ini.

“Semoga Almarhumah mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah SWT.,” do’a Angga untuk Korban.

Sementara itu, Jum’at, (10/7/2026)
Penyidik Unit Gakkum Satlantas Polresta Banjarmasin menetapkan seorang Mahasiswa berinisial NA (19) sebagai tersangka dalam kasus tabrak lari yang menewaskan petugas penyapu jalan, Dewi Fitriani (44), di Jalan Brigjen Hasan Basry, Kayu Tangi, Banjarmasin Utara.

Pelaku yang merupakan warga Jalan Teluk Tiram, Banjarmasin Barat, diamankan sekitar sepekan setelah kecelakaan. Polisi berhasil mengungkap identitasnya melalui penyelidikan intensif dengan menelusuri rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian serta pemeriksaan laboratorium forensik terhadap kendaraan yang diduga digunakan saat kecelakaan.

Pengungkapan kasus tersebut disampaikan Plh Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Timbul R.K. Siregar didampingi Waka Polresta AKBP Arwin Amrih Wientama dan Kasat Lantas AKP Embang Pramono dalam Konferensi Pers, Jumat (10/7/2026).

Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Kalimantan Selatan, sangat peduli dan prihatin terjadinya kasus tersebut.
Kepedulian Organisasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Kalsel dalam merespon kasus tabrak lari, diwujudkan dengan menyambangi keluarga korban untuk membantu meringankan beban keluarga yang telah ditinggalkan oleh Dewi Fitriani, yang dilakukan Kamis (2/7/2026). [ad/sb]

Bagikan ke
Continue Reading

Kalteng

Perkuat Edukasi Satresnarkoba Polres Kapuas Lakukan Pengecekan Rutin Posko Kampung Bebas Narkoba

Published

on

Kegiatan Satresnarkoba saat melakukan pengecekan rutin Posko Kampung Bebas Narkoba. (Foto/Ist)

KUALA KAPUAS, SuaraBorneo.com – Satresnarkoba melakukan Pengecekan Rutin Kesiapan Posko Kampung Bebas dari Narkoba sebagai pusat Edukasi Koordinasi, dan Pengawasan Lingkungan di Kelurahan Selat Utara Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas.

Kegiatan berlangsung Selasa Selasa 7 Juli 2026 sekitar 09. 30 WIB s/d 10.00 WIB bertempat di Kantor Kelurahan Selat Utara (Posko Kampung Bebas Dari Narkoba) Kelurahan Selat Utara Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas.

Kapolres Kapuas AKBP Gede Eka Yudharma melalui Kasat Narkoba Polres Kapuas AKP Budi Utomo mengatakan kegiatan tersebut dihadiri oleh Kasatres Narkoba Polres Kapuas Lurah Selat Utara Para Ketua RT selat Utara Personil Satresnarkoba Polres Kapuas serta Masyarakat Kelurahan Selat Utara.

Ia mengatakan maksud dan tujuan kegiatan Personel Satresnarkoba rutin mengecek kesiapan Posko Kampung Bebas dari Narkoba sebagai pusat edukasi koordinasi dan pengawasan lingkungan.

“Meningkatkan kesadaran Memberikan pemahaman mendalam tentang dampak buruk penyalahgunaan narkotika psikotropika dan bahan adiktif lainnya (P4GN),” katanya.

Kemudian membangun sinergi Memperkuat kolaborasi antara Polri dengan masyarakat untuk menangkal ancaman narkoba dan premanisme.

“Lebih daripada itu sebagai Agent of Change Mendorong anggota masyarakat menjadi penggerak dalam melaporkan tindakan penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekitar,” ujarnya. (Ujg/SB)

Bagikan ke
Continue Reading

Kalteng

Polres Kapuas Tindak Aksi Balap Liar Knalpot Brong 19 Dikenai Tilang

Published

on

Pelaksanaan giat penindakan aksi balap liar Knalpot Brong oleh Polres Kapuas. (Foto/Ist)

KUALA KAPUAS, SuaraBorneo.com – Polres Kapuas Kalteng menggelar kegiatan penertiban aksi balap liar Knalpot Brong Selasa (7/7/2026).

Kegiatan berlangsung pukul 00.00 s.d 05.00 WIB bertempat di Jalan Pemuda Jalan Tambun Bungai Jalan Ahmad Yani Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas.

Kapolres Kapuas AKBP Gede Eka Yudharma melalui Kasatlantas Polres Kapuas AKP Aries Gunawan mengatakan personel yang diturunkan Kasatlantas Polres Kapuas Kaurbinops Satlantas Polres Kapuas Kanitpatroli Satlantas Polres Kapuas Personel Satlantas Polres Kapuas.

Ia mengatakan kegiatan menindaklanjuti laporan dan keluhan masyarakat tentang aksi balapan liar dan knalpot tidak sesuai spesifikasi yang mengganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.

“Penindakan aksi balapan liar dan knalpot tidak sesuai spesifikasi dengan cara sistem hunting,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan hasil kegiatan terciptanya Kamseltibcarlantas yang kondusif masyarakat yang berkeselamatan.

Selain itu tambahnya membuat efek jera terhadap pelaku aksi balapan liar dan pengguna knalpot tidak sesuai spesifikasi.

“Penindakan tilang terhadap pelaku aksi balapan liar dan knalpot tidak sesuai spesifikasi sebanyak 19 Tilang dan Barang Bukti Ranmor R2 sebanyak 19 unit,” katanya. (Ujg/SB)

Bagikan ke
Continue Reading

Kriminal-Hukum

Laporan Dugaan Pemalsuan Surat Kades Juhar Berlanjut, Kuasa Hukum Pelapor Harap Penyidik Bekerja Profesional

Published

on

Kuasa hukum pelapor, Karnoven Antonius Sihotang, S.H. (Foto/Ist)

TEBING TINGGI, SuaraBorneo.com – Kuasa hukum pelapor berharap penyidik Polres Tebing Tinggi bekerja secara profesional dan objektif setelah laporan dugaan tindak pidana pemalsuan surat yang diduga melibatkan Kepala Desa Juhar Kecamatan Bandar Khalipah Kabupaten Sergai, D. Sinaga, resmi naik ke tahap penyidikan.

Perkara tersebut dilaporkan oleh Nita Boru Nababan pada Maret 2025 dengan Laporan Polisi Nomor: LP/B/169/III/2025/SPKT/POLRES TEBING TINGGI/POLDA SUMUT.

Kuasa hukum pelapor, Karnoven Antonius Sihotang, S.H., mengatakan bahwa perkembangan terbaru menunjukkan adanya peningkatan status penanganan perkara dari tahap penyelidikan ke tahap penyidikan.

“Benar, proses hukum terus berjalan di Polres Tebing Tinggi. Pada tanggal 19 Juni 2026, kami telah menerima Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP). Berdasarkan hasil gelar perkara yang dilakukan oleh pihak Polres Tebing Tinggi, status laporan klien kami atas nama Nita Boru Nababan telah ditingkatkan dari tahap penyelidikan menjadi tahap penyidikan,” ujar Karnoven, Senin (22/6/2026).

Menurutnya, peningkatan status tersebut menjadi langkah penting dalam mengungkap dugaan tindak pidana yang dilaporkan kliennya. Ia berharap proses hukum dapat berjalan secara objektif, transparan, dan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

“Kami akan terus mengawal laporan klien kami hingga memperoleh kepastian hukum dan rasa keadilan. Kami juga meminta kepada Polres Tebing Tinggi, khususnya penyidik yang menangani perkara ini, agar bekerja secara profesional dan objektif demi terwujudnya tujuan hukum itu sendiri,” tegasnya.

Karnoven menambahkan, pihaknya menaruh harapan besar agar penanganan perkara dilakukan secara independen tanpa intervensi pihak mana pun sehingga masyarakat dapat melihat bahwa hukum ditegakkan secara adil dan transparan.

Hingga berita ini diturunkan, proses penyidikan masih berlangsung di Polres Tebing Tinggi. (YNR)

Bagikan ke
Continue Reading

Populer