Bengkayang
Tokoh Agama Pegang Peran Penting Cegah Bahaya Narkoba dan TPPO di Wilayah Perbatasan Jagoi Babang
BENGKAYANG, suaraborneo.com – Steakholder dan Para tokoh Agama beserta pengurus gereja di wilayah perbatasan RI-Malaysia Jagoi Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat mengadakan forum group Discussion (FGD) bertempat di Aula Gereja PIBI Bukit Henderson Jagoi Babang, Kamis (20/2/2025).
Pertemuan ini membahas penting nya penanganan masif tentang pencegahan peredaran barang terlarang bahaya narkoba dan TPPO di wilayah perbatasan RI-Malaysia yang di anggap Rawan.
Tokoh agama di anggap adalah orang-orang yang mempunyai peranan penting serta memiliki kedekatan dengan masyarakat, sehingga lebih mudah dalam memberikan informasi akan bahaya penyalahgunaan Narkoba.
Steakholder yang terlibat hadir aktif dalam diskusi bersama para tokoh agama Kapolsek Jagoi Babang, AKP. Asep Maulana, S.H
Koramil Jagoi Babang, Serda Juniardi,Bc jagoi babang. Ali Tachid,Imigrasi ,Jagoi Babang Wely,Horeb Puam para pendeta, Tokah adat,Kepala PLBN Jagoi Babang,Kepala Sekolah SMK N 1 jagoi.
Agenda pertemuan ini di apresiasi Kapolsek Jagoi Babang,AKP.Asep Maulana, Menurut nya pertemuan bersama para tokoh agama ini penting terutama dalam melakukan pengawasan dan pencegahan bahaya narkoba termasuk tindak pidana perdagangan orang atau TPPO.
“Perlu saya sampaikan dan perlu kita ketahui bersama khususnya untuk di Kecamatan Jagoi babang anak muda sudah semakin banyak terjerumus dalam bahaya narkoba sehingga, perlunya ada kerjasama masyarakat untuk memberantas Narkoba di lingkungan sekitar kita,” ungkap AKP Asep Maulana Kapolsek Jagoi Babang.
Hal senada juga disampaikan Bea Cukai Jagoi Babang Ali Tachid, ia mengatakan( Narkotika, Psikotropika, dan Prekusor ) sudah sangat meresahkan di daerah perbatasan.
“Peredaran dan pengguna Narkoba ini terjadi sudah pasti Dimana ada permintaan pasti ada penyuplai barang dalam jumlah signifikan , sehingga dalam pencegahannya perlu menjadi tanggung jawab bagi kita semua dan kita harus Bekerja sama dalam menghadapinya.Yang membawa benda terlarang tersebut juga merupakan masyarakat/saudara kita sehingga sulit.Jika masyarakat sudah berhenti atau menjadi positif maka penyuplay juga pasti akan berhenti. Alangkah baiknya jika ada informasi atau apapun yang dapat membantu, pasti akan kami hargai dan besar sekali manfaatnya,” Kata Kali Tachid
Ketua PLBN Jagoi Babang Misdo ikut mengapresiasi pertemuan yang di inisiasi langsung para tokoh agama Pendeta setempat. Dalam kesempatan itu PLBN Jagoi Babang menyampaikan fungsi kerja mereka.
“Terimakasih bapak pendeta Mikael yang sudah menggagas acara pertemuan ini.
Perlu saya sampaikan Fungsi dari plbn adalah sebagai menertibkan arus balik keluar masuknya masyarakat dan barang dari dan menuju Negara Indonesia-Malaysia. Pada saat ini Kami mendengar dimana plbn menyulitkan masyarakat untuk keluar masuk Negara sebelah karena Setelah adanya plbn aktivitas menjadi terbatas karena sebelumnya tidak ada aturan, Perlu kami sampaikan ketika plbn ini ada, tentu akan ada beberapa hal yg berubah dan Dengan adanya plbn ini kami mendorong agar daerah ini dapat berkembang. Kami dari plbn juga memberikan ruang jika terdapat hal yang mendesak, contoh jika ada orang sakit kami siap memfasilitasi,” paparnya.
PLBN Jagoi menjelaskan Pengunjung plbn tidak hanya dari daerah sekitar Bengkayang,tetapi ada juga dari luar bengkayang seperti Bogor dan Kalteng.
“Sebetulnya ini menjadi kebanggan bagi kita dan Daerah kita dapat di kunjungi masyarakat luas.karena itu Mari kita menjaga dan mendukung program di plbn. Tujuan adanya plbn adalah untuk menata dan adanya aturan di daerah berkembang. Jika mau maju maka kita harus siap menerima perubahan yang ada. Pihak plbn (CIT) juga telah melakukan screaning untuk menanggulangi narkotika terhadap setiap masyarakat yang datang,” tegas Kepala PLBN Jagoi Babang.
Selanjutnya,pihak Imigrasi setempat Wely menjabarkan Gambaran umum tentang pencegahan tppo terutama tentang pengecekan dokumen.
“Mengenai tppo tindakan yang kami lakukan langkah preventif, mulai dari penolakan pembuatan paspor yang tidak sesuai untuk mencegah terjadinya perdagangan orang. Kalau mengenai narkotika mungkin pihak dari kepolisian karena kami fokusnya terhadap dokumen. Petugas kami sebisa mungkin menghindari konfrontasi dengan masyarakat,” tambahnya.
Selain itu,kepala sekolah SMK Negeri 1Jagoi menyarankan semua pihak berkolaborasi dalam pencegahan Tindak Pidana Perdagangan orang (TPPO). menurut nya dalam kasus tersebut yang paling rawan menjadi korban sekarang anak remaja.
“Remaja rawan menjadi korban TPPO semua pihak perlu lebih ketat mencegah hal tersebut. Banyak alumni yang telah masuk dalam keadaan tersebut, bahkan ada beberapa alumni yang menjadi Operator slot. Kemudian untuk masalah narkoba untuk daerah kita memang sangat rawan. Setelah kita telusuri, yang menjadi permasalahannya adalah budaya karena merasa lebih nyaman untuk bekerja diluar daripada didalam,faktor jaringan/kenalan dan peluang kerja. Semoga ada komitmen bersama dalam menghadapi hal ini,” saran Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Jagoi Babang Agus
Catatan penting dalam pertemuan atau FGD Steakholder bersama para tokoh agama di Kecamatan Jagoi Babang Dalam Rangka Menyampaikan Pesan-Pesan, Keagamaan, Keamanan, dan Kewaspadaan Terhadap Ancaman dan Bahaya Peredaran Narkotika dan TPPO Wilayah Perbatasan Kecamatan Jagoi Babang Kabupaten Bengkayang dan di harapkan kegiatan serupa dapat berlanjut dan laksanakan secara bertahap yang dapat melibatkan masyarakat serta anak anak muda di jagoi babang. (Robin)
Bagikan keBengkayang
Akademisi Minta Transparansi dan Kajian Ekologis Rencana PLTN Bengkayang
BENGKAYANG, SuaraBorneo.com – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kabupaten Bengkayang terus memicu diskusi hangat di ruang publik. Kritik dan masukan kini datang dari kalangan akademisi Institut Shanti Buana (ISB) yang menyoroti pentingnya kajian mendalam dan transparansi sebelum proyek strategis tersebut direalisasikan.
Rektor ISB Bengkayang, Marianus Dinata Alnija, menegaskan bahwa proyek sebesar PLTN tidak boleh hanya menjadi agenda formalitas pemerintah. Ia mendorong keterlibatan pihak independen dan tokoh masyarakat untuk membedah potensi risiko, terutama terkait dampak ekologis dan kesiapan sumber daya manusia.
“Rencana proyek pembangunan sebuah PLTN harus melalui kajian mendalam menyangkut kebutuhan serta penggunaannya secara menyeluruh. Hasil kajian tersebut wajib dibuka secara transparan kepada publik dengan melibatkan tokoh independen hingga tokoh masyarakat,” tegas Marianus.
Selain aspek lingkungan, Marianus menyoroti potensi konflik sosial yang mungkin muncul jika persoalan lahan tidak diselesaikan sejak dini. Menurutnya, kepastian status lahan masyarakat adalah kunci agar proyek ini tidak menyisakan masalah hukum atau sosial di kemudian hari.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa secara infrastruktur, pasokan listrik di Bengkayang saat ini sebenarnya sudah mumpuni. Ia menyarankan agar pemerintah lebih melirik potensi energi terbarukan yang melimpah di daerah setempat daripada memaksakan penggunaan nuklir yang dinilai belum mendesak.
“Bengkayang memiliki julukan daerah ‘Seribu Riam’ yang seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber energi terbarukan, tanpa harus bergantung pada PLTN yang kami nilai belum mendesak,” tambahnya.
Pihak akademisi berharap pemerintah benar-benar mempertimbangkan kelayakan jangka panjang bagi ekosistem dan masyarakat Bengkayang, agar pembangunan yang dilakukan selaras dengan kelestarian alam setempat. (Robin)
Bagikan keBengkayang
Gereja Punya Peran Aktif Jaga Kamtibmas di Bengkayang Perbatasan RI-Malaysia
BENGKAYANG, SuaraBorneo.com – Peran gereja dinilai strategis dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah perbatasan Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, melalui penguatan nilai moral, sosial, dan budaya di tengah masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam rencana kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Tantangan dan Peluang Gereja Masa Kini dalam Menyikapi Dinamika Situasi Kamtibmas di Wilayah Kabupaten Bengkayang” yang akan melibatkan lintas sektor.
Pembicara dalam kegiatan tersebut, Pendeta Maikel Roki Mawuntu, menegaskan gereja memiliki peran penting sebagai garda moral dalam menghadapi berbagai dinamika sosial, termasuk tantangan keamanan di kawasan perbatasan.
“Gereja pada prinsipnya selalu berada di garis depan dalam menyampaikan pesan-pesan kedamaian kepada umat, agar masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh situasi yang dapat mengganggu stabilitas,” ujarnya di Bengkayang, Senin (30/3).
Ia mengatakan, keberadaan Kabupaten Bengkayang sebagai daerah perbatasan menuntut adanya sinergi yang kuat antara seluruh elemen, termasuk gereja, dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
Menurut dia, gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dalam membina kehidupan masyarakat yang harmonis, serta memperkuat ketahanan sosial di tengah berbagai pengaruh lintas negara.
“Kondisi perbatasan memiliki tantangan tersendiri, baik dari sisi sosial, budaya, maupun keamanan. Di sinilah gereja hadir untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan menjaga kondusivitas daerah,” katanya.
FGD tersebut direncanakan menjadi wadah strategis untuk membahas tantangan dan peluang yang dihadapi gereja dalam mendukung terciptanya kamtibmas yang aman dan kondusif.
Melalui forum itu, diharapkan terbangun sinergi yang lebih kuat antara gereja, pemerintah daerah, aparat keamanan, serta seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas wilayah.
Selain itu, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu menghasilkan langkah-langkah konkret yang dapat diimplementasikan secara bersama dalam menjaga keamanan, khususnya di wilayah perbatasan.
“Harapannya, FGD ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi mampu melahirkan langkah nyata yang berdampak langsung bagi terciptanya situasi yang aman dan kondusif di Bengkayang,” ujarnya.
Ia menambahkan, gereja memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memicu gangguan kamtibmas.
Rencana pelaksanaan FGD tersebut saat ini tengah dimatangkan, dengan penentuan waktu yang akan disesuaikan bersama para pihak terkait.
Pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya bersama menjaga stabilitas keamanan di wilayah perbatasan.(Robin)
Bagikan keBengkayang
DPC HUKATAN KSBSI Bengkayang Salurkan Sembako untuk Warga
BENGKAYANG, suaraborneo.com – Upaya menjaga stabilitas sosial dan ekonomi di tingkat akar rumput terus digalakkan. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) HUKATAN KSBSI Federasi Serikat Buruh Kehutanan, Perkebunan, dan Pertanian di bawah naungan Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia menggelar aksi bakti sosial dengan membagikan paket sembako kepada warga kurang mampu dan lansia, Jumat (13/03).
Ketua DPC F HUKATAN Bengkayang, Reza Satriadi, turun langsung memimpin penyaluran bantuan tersebut. Menurutnya, aksi ini bukan sekadar bantuan rutin, melainkan langkah strategis untuk memastikan masyarakat tetap tenang dan merasa aman di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok.
Memperkuat Ketahanan SosialSosial, Reza menjelaskan kehadiran serikat buruh di tengah masyarakat bertujuan untuk menciptakan harmoni.
Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, potensi gesekan sosial akibat himpitan ekonomi dapat diredam.
”Kami ingin memastikan bahwa kehadiran kami membawa dampak positif bagi stabilitas lokal. Saat beban ekonomi warga diringankan, maka kondusivitas wilayah akan terjaga. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga Bengkayang tetap aman dan terkendali,” ujar Reza.
Untuk menjaga ketertiban dan memastikan bantuan tepat sasaran, Pengurus DPC F HUKATAN menggunakan metode door-to-door. Strategi ini dinilai lebih efektif dalam menjaga keamanan lingkungan tanpa menimbulkan kerumunan yang berisiko.
Aksi ini mendapat apresiasi positif dari warga. Bantuan ini dianggap sebagai “bantalan” ekonomi yang sangat dibutuhkan saat ini. Reza berharap kegiatan ini menjadi pemantik bagi elemen masyarakat lainnya untuk saling bahu-membahu dalam menjaga keamanan dan ketahanan pangan di Kabupaten Bengkayang.
”Jika kebutuhan pokok terjaga dan komunikasi terjalin baik, maka stabilitas daerah akan kuat. Semoga ini menjadi berkah bagi organisasi dan seluruh masyarakat Bengkayang,” pungkasnya.(Robin)
Bagikan keBengkayang
Mahasiswa AKMEN-BS Bengkayang Gelar Bakti Sosial di Panti Asuhan Rumah Hanna
BENGKAYANG, SuaraBorneo.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Akademi Manajemen Bumi Sebalo (AKMEN-BS) Bengkayang melaksanakan kegiatan bakti sosial di Panti Asuhan Rumah Hanna, Jalan Sulenco No.114, Kelurahan Bumi Emas, Kecamatan Bengkayang, Senin (3/11).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 15.00 WIB ini diikuti oleh pengurus dan anggota BEM AKMEN-BS Bengkayang sebagai bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat sekitar, khususnya anak-anak di panti asuhan.
Sekretaris BEM AKMEN-BS Bengkayang, Arwanda Ericson, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian sosial dan rasa syukur mahasiswa terhadap sesama.
“Kami datang dengan penuh suka cita untuk berbagi berkat melalui pemberian paket sembako kepada Panti Asuhan Rumah Hanna. Semoga bantuan ini bermanfaat dan dapat meringankan kebutuhan sehari-hari para pengurus serta anak-anak di panti,” ujarnya.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Arwanda Ericson kepada Pembina Panti Asuhan Rumah Hanna, Ika, yang mewakili seluruh pengurus dan anak-anak asuhan.
Menurut Arwanda, kegiatan bakti sosial ini juga menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mengasah kepekaan sosial dan menumbuhkan semangat gotong royong di lingkungan akademik.
“Kami berharap kegiatan ini bisa terus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya di panti asuhan, tetapi juga di tempat-tempat lain yang membutuhkan uluran tangan,” tambahnya.
Ika menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan mahasiswa AKMEN-BS Bengkayang.
Ia menilai kegiatan seperti ini bukan hanya membantu secara materi, tetapi juga menjadi dukungan moral bagi anak-anak yang tinggal di panti.
“Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa yang sudah datang dan berbagi. Bantuan ini tentu sangat membantu kami dalam memenuhi kebutuhan harian anak-anak,” ucapnya.
Bantuan yang diserahkan berupa paket sembako, terdiri atas beras, minyak goreng, telur, makanan cepat saji, dan berbagai jenis makanan ringan (snack). Seluruh paket dikumpulkan dari hasil donasi mahasiswa dan kegiatan penggalangan internal kampus.
Kegiatan berlangsung kondusif hingga pukul 16.00 WIB dan ditutup dengan doa bersama serta sesi foto bersama antara mahasiswa dan anak-anak Panti Asuhan Rumah Hanna Bengkayang. (Robin)
Bagikan keBengkayang
SMPN 3 Sungai Betung Pastikan Pelaksanaan Program Revitalisasi Sesuai Prosedur dan Prioritas Utama K3
BENGKAYANG, suaraborneo.com – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Sungai Betung salah satu sekolah di Kabupaten Bengkayang menerima bantuan untuk revitalisasi sekolah sebesar 2,1 miliar rupiah dari Anggaran Perbelanjaan Negara (APBN) tahun 2025.atau program Revitalisasi Satuan Pendidikan Direktorat SMP Direktorat Jendral Paud Dasmen Kementerian Dasar dan Menengah.
Berdasarkan plang Anggaran yang tertera di lokasi sekolah Waktu pelaksanaan program Revitalisasi tersebut 120 hari kerja kalender.
Bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan fasilitas dan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.
Kepala Sekolah SMP 3 Sungai Betung, Afat menegaskan bahwa semua pekerjaan revitalisasi dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku. “Kami memastikan setiap langkah dalam proses revitalisasi ini mengikuti standar yang telah ditetapkan. Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) menjadi prioritas utama,” ungkap ,Afat Kepsek SMP Negeri 3 Sungai Betung.
Ia menjelaskan Proses pembangunan masih dalam tahap proses terus dilakukan hingga bangunan sekolah terbangun dengan sempurna, meskipun tantangan dan hambatan mungkin muncul, “Wajar saja jika pada saat proses pembangunan belum selesai, pasti ada yang kurang. Namun, kami berkomitmen untuk merapikan setiap kekurangan hingga selesai sesuai standar,” Jelasnya.
Dalam revitalisasi sekolah Menengah Perama (SMPN 3) tidak hanya memperbaiki bangunan fisik, tetapi juga memastikan bahwa semua materi yang digunakan memenuhi standar kualitas yang tinggi. Material seperti kusen dan pintu yang dibeli dari pihak toko bangunan akan diperiksa secara seksama. “Jika kami menemukan bahwa material tersebut tidak layak, kami akan melakukan retur untuk memastikan hanya yang terbaik digunakan dalam pembangunan,” katanya.
Lanjut Afat, item dalam pembangunan program revitalisasi meliputi ruang Administrasi, ruang LAB komputer, ruang kelas, UKS, Rumah Dinas, dan WC.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 3 Sungai Betung ,Afat juga menjelaskan Dalam penggunaan K3, para pekerja diharuskan menggunakan alat pelindung diri (APD) selama bekerja.
“Namun, saat istirahat, mereka tidak diwajibkan untuk mengenakannya,” tambah Afat menekankan pentingnya keselamatan tanpa mengabaikan kenyamanan.
Dengan adanya bantuan ini,kepala Sekolah SMPN 3 Sungai Betung berharap dapat memberikan lingkungan belajar yang lebih baik dan mendukung proses belajar mengajar yang lebih efektif.
Berdasarkan Data Program Revitalisasi tahun 2025 di kabupaten Bengkayang sebanyak 12 Sekolah SMPN, yaitu : Untuk Sekolah SK2,
1.SMPN 1 Sungai Raya
2.SMPN 2 Capkala
3.SMPN 5 Teriak
4.SMPN 3 Teriak
5.SMPN 5 Ledo
6.SMPN 3 Sungai Betung
7.SMPN 01 Jagoi Babang
8.SMPN 03 Tujuh Belas
Untuk Sekolah SK5
1.SMPN 5 Sungai Raya Kepulauan
2.SMPN 3 Siding
3.SMPN 2 Sanggau Ledo
4.SMPN 1 Ledo
(Rbn)
Bagikan keBengkayang
Bupati Darwis Serahkan 57 SK PPPK Paruh Waktu
BENGKAYANG, SuaraBorneo.com – Sebanyak 57 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu resmi menerima surat keputusan (SK) pengangkatan dari Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, Selasa (21/10/2025).
Bupati Bengkayang mengatakan, pengangkatan PPPK paruh waktu ini merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara serta Keputusan Menteri PANRB Nomor 16 Tahun 2025.
“Formasi PPPK paruh waktu ini memberikan peluang kerja yang legal, terstruktur, dan memiliki perlindungan hukum,” ujarnya.
Menurutnya, kebijakan ini sekaligus menjadi solusi agar tidak ada lagi celah bagi pegawai non-ASN yang bekerja di luar ketentuan hukum. Dengan sistem perjanjian kerja tahunan, pegawai paruh waktu dapat diusulkan menjadi PPPK penuh waktu tanpa harus melalui seleksi ulang, selama memiliki kinerja baik dan kondisi anggaran memadai.
Sebastianus menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Bengkayang telah mengusulkan 1.170 formasi dalam proses penataan tenaga non-ASN. Dari jumlah itu, 57 orang yang telah mengikuti seleksi PPPK formasi tahun 2024 namun belum terakomodasi, kini diangkat sebagai PPPK paruh waktu. Mereka terdiri atas 29 tenaga teknis dan 28 jabatan fungsional guru.
“Ini merupakan komitmen pemerintah daerah untuk memberikan kepastian status bagi tenaga non-ASN yang telah lama mengabdi. Dengan SK ini, mereka resmi menjadi bagian dari aparatur sipil negara,” kata Bupati.
Ia menegaskan, PPPK paruh waktu bukan tenaga honorer ataupun pegawai kontrak biasa. Mereka adalah ASN dengan hak dan kewajiban yang diatur undang-undang. Karena itu, profesionalisme dan tanggung jawab kerja harus setara dengan ASN lainnya.
“Status boleh paruh, tapi semangat pengabdian harus penuh,” tegas Sebastianus. Ia berharap para PPPK yang baru dilantik dapat menjadi bagian dari birokrasi yang adaptif, efisien, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Selain itu, Bupati juga mengingatkan seluruh kepala perangkat daerah agar tidak lagi mengangkat tenaga non-ASN baru di luar ketentuan yang berlaku. Kebijakan ini, kata dia, sejalan dengan larangan yang diatur dalam Pasal 65 Undang-Undang ASN.
“Bagi perangkat daerah yang masih mempekerjakan non-ASN secara sengaja, harus segera menertibkan dan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, atas nama Pemerintah Daerah, Bupati Bengkayang juga menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi setinggi tingginya kepada Kanreg V BKN yang sudah memberikan fasilitasi serta pendampingan penuh kepada Pemkab Bengkayang mulai dari penyusunan perencanaan kebutuhan, pelaksanaan seleksi kompetensi sampai penerbitan NIP.
Bupati Darwis juga meminta seluruh Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkayang untuk bekerja dengan penuh dedikasi, integritas, dan semangat pelayanan publik.
Bupati menekankan bahwa PPPK paruh waktu tetap bagian dari aparatur sipil negara (ASN) dengan tanggung jawab profesional.
“Status saudara-saudari sebagai PPPK paruh waktu bukanlah tenaga honorer, bukan pula pegawai kontrak biasa. Kalian bagian dari ASN yang memiliki hak dan kewajiban yang dilindungi oleh negara,” ujar Sebastianus.
Ia mengingatkan, meski bekerja dengan sistem paruh waktu, para pegawai harus menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab setara dengan ASN penuh waktu. Pemerintah daerah, katanya, membutuhkan aparatur yang bermental pejuang, bukan sekadar pelaksana perintah.
“Jangan ada lagi yang bekerja dengan mental kuli bekerja hanya karena disuruh tanpa inisiatif. Pemerintah butuh pegawai dengan integritas dan semangat pelayanan,” katanya.
Sebastianus juga meminta seluruh PPPK paruh waktu menjaga loyalitas, disiplin, dan komitmen terhadap nilai-nilai ASN yang berlandaskan “BerAKHLAK”, yakni berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif.
“Nilai-nilai ini harus menjadi pedoman dalam setiap tindakan dan keputusan kerja,” ujarnya.
Menurutnya, perjanjian kerja yang ditandatangani bersifat mengikat dan akan dievaluasi secara berkala. Jika tidak memenuhi target kinerja, bisa saja diberhentikan sewaktu-waktu. Namun tetap mengacu pada peraturan perundang-undangan.
Selain menyoroti etos kerja ASN, Sebastianus juga mengajak para PPPK untuk menjadikan jabatan ini sebagai batu loncatan untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi.
“Jadikan kesempatan ini sebagai ruang tumbuh, bukan titik nyaman. Tunjukkan bahwa PPPK paruh waktu juga bisa berprestasi,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah mengharapkan kontribusi nyata para PPPK dalam memperkuat pelayanan publik dan mendukung visi pembangunan Bengkayang yang lebih maju dan mandiri.
“Kinerja saudara-saudari akan menjadi wajah birokrasi di mata masyarakat,” ujarnya.
“Selamat bertugas dengan semangat, kejujuran, dan dedikasi. Mari kita bersama membangun Bengkayang yang lebih baik dan memberikan warisan terbaik bagi generasi penerus,” sambungnya lagi. (Robin)
Bagikan keBengkayang
TNI dan Warga Gotong Royong Bangun Rumah Korban Kebakaran di Desa Gerantung
BENGKAYANG, suaraborneo.com – Personil Koramil 05 Samalantan Wilayah Kodim 1209 Bengkayang Babinsa Gerantung dari Koramil mengadakan kegiatan peletakan batu pertama dan bedah rumah untuk masyarakat yang menjadi korban kebakaran di Dusun Pakucing , Desa Gerantung, Kecamatan Monterado, Kabupaten Bengkayang.23 September 2025.
Kegiatan ini dihadiri oleh Camat Monterado, Elisabet Rafika, Sekretaris Camat Kusnan, serta Kepala Desa Gerantung Erlan. Selain itu, anggota Babinsa seperti Sertu Sugianto, Sertu Iswandi, dan Serda Dirus juga turut berpartisipasi, bersama dengan Bapak RT dan masyarakat setempat.
Pembagunan secara swadaya pembangunan rumah ini bertujuan untuk membantu masyarakat yang mengalami musibah kebakaran agar dapat segera memiliki tempat tinggal yang layak dan aman. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik, tetapi juga berupaya untuk memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi para korban.
Berbagai tujuan dari program ini antara lain penyediaan hunian yang layak, meringankan beban finansial, serta membantu pemulihan psikologis. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong solidaritas dan gotong royong di antara masyarakat, serta mencegah timbulnya permukiman kumuh.
Sertu Sugianto, salah satu anggota Babinsa dari Koramil 05/Samalatan, memberikan paparan mengenai aksi sosial bangun rumah yang dilaksanakan di Desa Gerantung. Dalam keterangannya, ia menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami musibah.
“Pembangunan kembali rumah milik Warga Atas nama Ibu Jamilah seorang Janda ini bukan hanya sekadar memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga merupakan upaya untuk membangun kembali harapan dan kehidupan para korban . Kami ingin memastikan bahwa setiap keluarga yang terdampak dapat segera kembali ke rumah yang layak dan aman,” ujarnya.
Sertu Sugianto juga menambahkan bahwa kegiatan ini melibatkan kerja sama antara berbagai pihak, termasuk pemerintah setempat, masyarakat, dan anggota Babinsa. “Solidaritas dan gotong royong menjadi kunci dalam setiap langkah yang kita ambil. Dengan bersatu, kita bisa meringankan beban satu sama lain dan membangun komunitas yang lebih kuat,” jelasnya.
Ia berharap, melalui aksi sosial ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan tempat tinggal yang layak, tetapi juga merasakan dukungan dan kepedulian dari lingkungan sekitar. “Kami ingin menanamkan semangat kebersamaan dan saling membantu dalam setiap tindakan kita,” tutup Sertu Sugianto.
Sementara itu, Camat Monterado, Elisabet Rafika, mengungkapkan harapannya agar masyarakat tetap waspada terhadap potensi bahaya listrik.
“Di tengah upaya pemulihan pasca musibah kebakaran ini, saya mengimbau seluruh warga untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan alat-alat listrik. Pastikan instalasi listrik rumah dalam kondisi baik dan aman. Mari kita jaga keselamatan bersama agar tragedi serupa tidak terulang.”
Imbauan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keselamatan listrik demi mencegah terjadinya musibah di masa mendatang.
Jamilah, salah satu korban kebakaran, berbagi pengalamannya mengenai musibah yang menimpa keluarganya. Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa kebakaran tersebut disebabkan oleh konsleting listrik yang terjadi secara tiba-tiba.
“Semua terjadi begitu cepat. Kami tidak menyangka bahwa konsleting listrik bisa menyebabkan kebakaran hingga menghanguskan rumah kami. Kami hanya bisa berdoa karena ada perhatian dari berbagai pihak,” ungkap Jamilah.
Meski dalam keadaan sulit, Jamilah merasa bersyukur atas dukungan yang diterima dari berbagai pihak. Ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah, TNI, dan masyarakat yang telah membantu dalam proses bedah rumah.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemerintah, terutama kepada TNI yang telah hadir di tengah-tengah kami. Bantuan ini sangat berarti bagi kami dan memberikan harapan baru untuk memulai hidup kembali. Terima kasih juga kepada tetangga dan warga desa yang telah membantu kami. Kami tidak akan melupakan kebaikan ini,” ujarnya.
Kisah Jamilah mencerminkan semangat kebersamaan dan solidaritas yang tumbuh di tengah masyarakat, serta pentingnya kesadaran akan keselamatan listrik untuk mencegah terjadinya musibah serupa di masa depan.
Aksi sosial ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat lainnya untuk berkontribusi dalam membantu sesama, terutama di saat-saat sulit. (Robin)
Bagikan ke-
Kaltara2 tahun agoAcara Apel Digelar di Islamic Center Bitul Izzah
-
Kalsel2 tahun agoDibuka Jokowi dan Iriana, Acil Odah Turut Hadiri Hari Anak Nasional di Papua
-
Kalbar2 tahun agoReses Ke Melawi, Yessy Lakukan Pelatihan Bagi Masyarakat Peduli Api
-
Kalsel2 tahun agoKalsel Raih Penghargaan Komunitas Informasi Masyarakat Terinovatif 2024
-
Balikpapan2 tahun agoMulai 1 September 2024, Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Pertamax Series dan Dex Series
-
Jakarta2 tahun agoBMKG: Waspada Potensi Hujan Deras Angin Kencang dan Petir
-
Banjarmasin1 tahun agoJelang Nataru, Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Lakukan Sidak SPBU di Wilayah Kalsel

